Media sosial telah mengubah cara laki-laki mengekspresikan diri, termasuk dalam hal maskulinitas. Jika sebelumnya maskulinitas identik dengan kekuatan, ketegasan, dan pengekangan emosi, kini muncul fenomena baru yang disebut soft boy trend. Fenomena ini berkembang pesat di TikTok dan Instagram, dan menunjukkan bentuk maskulinitas yang lebih lembut, estetis, dan emosional.
Secara konseptual, soft boy merupakan representasi maskulinitas yang menolak standar tradisional yang kaku. Laki-laki dalam tren ini tampil dengan ekspresi emosional yang terbuka, gaya visual lembut, ketertarikan pada seni, serta persona yang reflektif dan tenang. Tren ini menandai perubahan bahwa maskulinitas bukan sesuatu yang tetap, melainkan konstruksi sosial yang dapat berubah mengikuti perkembangan budaya digital.
Media sosial memiliki peran besar dalam memperkuat tren ini. Algoritma mempromosikan konten bernuansa estetik dan menenangkan, sehingga konten soft boy mudah viral. Di sisi lain, ruang digital memberi kesempatan bagi laki-laki untuk menunjukkan kerentanan tanpa stigma langsung dari lingkungan sosial. Identitas ini menjadi “performa” yang dapat direplikasi dan dinormalisasi melalui visual-visual yang berulang.
Kemunculan soft boy trend tidak terlepas dari perubahan nilai generasi muda. Gen Z lebih kritis terhadap toxic masculinity dan lebih menghargai keintiman emosional. Selain itu, pengaruh budaya global seperti K-pop dan estetika post-pandemic juga memperluas gambaran tentang maskulinitas yang sensitif dan non-agresif.
Fenomena ini membawa dampak sosial yang cukup besar. Di satu sisi, tren ini membuka ruang bagi laki-laki untuk mengekspresikan diri secara lebih sehat dan humanis. Namun, ada risiko ketika persona soft boy hanya menjadi strategi visual atau branding digital tanpa kedalaman emosional. Hal ini dapat membuat identitasnya terjebak pada komodifikasi estetika.
Pada akhirnya, soft boy trend menunjukkan bahwa maskulinitas sedang mengalami transformasi dalam budaya digital. Perubahan ini mencerminkan kebutuhan generasi muda akan hubungan yang lebih empatik dan ekspresi diri yang lebih autentik, sekaligus membuka ruang diskusi baru mengenai bagaimana identitas gender diproduksi di era media sosial.