Kantor Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) disegel warga, imbas isu bantuan tidak merata.
Plh Camat Pandan Toemboer Rajagukguk, turun langsung memediasi ketegangan yang terjadi. Dalam kesempatan tersebut, dia meminta warga untuk tidak terbawa emosi, dan menyampaikan keluhan secara musyawarah untuk mencari solusi terbaik.
"Kami datang ke sini untuk mendengar aspirasi kalian. Saya mengerti kekecewaan masyarakat terkait pendataan bantuan jaminan hidup (Jadup) yang dinilai tidak adil dan tidak merata. Namun, mari kita selesaikan ini dengan kepala dingin," ujarnya di lokasi saat diwawancarai awak media, Kamis (23/4/2026).
Dia memaparkan bagaimana solusi pemberian data agar memenuhi syarat verifikasi bantuan rumah rusak, mengingat banyak rumah warga yang rusak telah diperbaiki oleh warga.
"Mungkin barang bukti yang sudah hilang, salah satu rumahnya sudah dicat, itu memang banyak yang ditemukan," terang Plh Camat Pandan.
Dikatakan Toemboer, pihak BPBD telah membuat form yang akan diisi oleh korban bencana. Kemudian akan ditandatangani oleh tetangga yang menyaksikan dan kepala lingkungan sebagai saksi bahwa rumah tersebut benar mengalami kerusakan akibat bencana, meskipun saat ini kondisinya sudah diperbaiki.
Terkait laporan dugaan ketidakadilan dalam pendataan, Asisten I Jonnedy Marbun meminta agar kepala lingkungan tidak tebang pilih dalam pendataan warganya mengingat Kelurahan Lubuk Tukko benar digenangi banjir bandang pada November 2025 lalu.
"Saya pastikan bapak ibu mendapat, tolong dicek kembali itu pak lurah. Saya akan bertanggungjawab terkait hal ini agar data ini terupdate di data" tegasnya.
Turut berhadir Plt Kasatpol PP Dodi Gultom, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Lurah Lubuk Tukko dan Kepling.
Sebelumnya, warga Kelurahan Lubuk Tukko menyegel Kantor pemerintahan setempat. Menurut warga, penyaluran bantuan Jadup serta bantuan rumah rusak yang dinilai tidak merata dan tidak tepat sasaran.
Agus Situmeang membeberkan kesilapan pendataan Kelurahan Lubuk Tukko, sebab penerima tahap satu bukanlah korban bencana dan ratusan korban tidak tercover.
"Kenapa hanya 7 kepala keluarga yang menerima bantuan sementara korban sekira 700 lebih kepala keluarga," ungkapnya.