Kamis, 17 Okt 2019 13:37

Perusak Demokrasi Bernama "Hoax"

MEDAN (utamanews.com)
Oleh: Gani Permata, Mahasiswa Universitas Persada Indonesia
Rabu, 30 Jan 2019 02:30
Istimewa
Ilustrasi
Saat ini dunia berkembang pesat berkat revolusi teknologi informasi. Media internet dan media sosial membawa kebebasan pers menjadi sulit dikendalikan. Semua orang bisa menulis berita, tanpa sensor dan verifikasi. Maka munculah berita bohong (hoax) dan berita palsu (fake news) yang kemudian viral.

Pelaku pembuat berita bohong dan berita palsu terkadang tidak mempertimbangkan dampak perbuatannya. Mereka hanya ingin menunjukkan dirinya eksis hingga mendapatkan likes, share, dan kunjungan ke situs berita bohong yang dibuatnya. Namun di tengah pagelaran Pilpres 2019 ini, tampak bahwa semakin banyak hoax disebarkan dengan tujuan menyerang pasangan calon Capres dan Cawapres.

Bukan lagi visi-misi, rekam jejak dan program dari pasangan calon Capres dan Cawapres yang disebarkan melalui media sosial, melainkan ujaran kebencian, hoax dan fitnah. Dengan banyaknya hoax yang beredar saat ini, ide dan gagasan tidak lagi menjadi faktor utama dipilihnya peserta Pilpres oleh masyarakat.

Politisi Partai Solidaritas Indonesia, Guntur Romli pun menilai masifnya penyebaran hoax sebagai penurunan kualitas demokrasi paska reformasi '98. Melalui hoax, politik identitas yang bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) dapat disisipkan untuk mempengaruhi opini publik. Termasuk hasil demokrasi, seperti Pemilu yang akan datang. "Semakin banyak pendapat dan kritik, kualitas demokrasi meningkat. Karena ada pertempuran ide gagasan. Setelah reformasi harusnya kualitas demokrasi kita semakin baik. Namun karena hoax, menjadi semakin menurun," kata Guntur.

Sementara Direktur Eksekutif Para Syndicate, Ari Nurcahyo berpendapat hoax membunuh demokrasi karena menebar kebohongan dan kebencian di tengah arus besar irasionalitas massa. Hoax dan ujaran kebencian dinilai terbukti menyebabkan konflik antar kelompok dan menciptakan keresahan karena publik sulit membedakan informasi benar atau salah. "Dalam kontestasi politik, penyebaran hoax bisa berakibat fatal karena menimbulkan polarisasi ekstrem di tengah masyarakat. Kondisi itu mengancam pembelahan relasi sosial dan merusak kerukunan serta kebersamaan," ujar Ari.

Dalam jangka panjang hoax dan ujaran kebencian dapat menyebabkan krisis kepercayaan yang mengancam kualitas demokrasi Indonesia. Sebab saat ini hoax dan politik di Indonesia telah menjadi paket tunggal yang tidak terpisahkan di tengah berkembangnya budaya digital. Agenda politik akan diikuti suburnya hoax dan hal ini menjadi pertaruhan bagi demokrasi dan kebangsaan Indonesia.

Untuk memerangi hoax, pemerintah kini sedang berusaha mengatur alur informasi di media sosial agar tidak ada informasi palsu dan fitnah yang dapat menimbulkan ketegangan di masyarakat. Usaha dilakukan melalui kerjasama dengan perusahaan platform seperti Google, Facebook, Twitter dan Youtube untuk menghentikan iklan pada portal-portal yang menebar fitnah.

Langkah lain yang dapat dilakukan dalam menghadapi hoax, yaitu literasi informasi  untuk mendidik masyarakat agar selektif dan cerdas dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Selanjutnya adalah penegakan hukum untuk menindak pelanggar norma perundang-undangan agar menimbulkan efek jera. Media massa juga memiliki peran penting dalam menangkal hoax. Standar etis jurnalisme tidak mungkin diturunkan hanya demi meraih lebih banyak audiens. Sehingga media harus menyajikan pemberitaan yang faktual dan kritis untuk membantu khalayak membuat pilihan-pilihan tindakan cerdas, termasuk dalam kerangka partisipasi politik.

Editor: Budi

T#g:hoax
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Jumat, 11 Okt 2019 11:11

    Ladang Hoaks dan Propaganda Radikalisme, Ujian Berat Bagi Peranan Media Sebagai Alat Pemersatu Bangsa

    Masifnya berita Hoaks dan bad news serta penyebaran propaganda radikalisme bukan hanya masalah segelintir orang tetapi sudah menjadi masalah bangsa karena dapat memecah-belah persatuan dan mengancam f

  • Senin, 23 Sep 2019 03:22

    Jangan Mudah Percaya Berita Hoax

    Melawan hoax adalah hal yang perlu kita lakukan. Pasalnya hoax benar-benar menjadi momok bagi keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara. Misalnya, belum lama ini terjadi kerusuhan di Papua yang d

  • Minggu, 22 Sep 2019 03:22

    Hoax Berbahaya Bagi Kehidupan Masyarakat

    Berita hoax sangat mengerikan dan mampu membuat perpecahan di tengah masyarakat. Misalnya, terjadinya kerusuhan di Papua yang awalnya ditenggarai karena ketersinggungan masyarakat Papua atas ujaran ra

  • Sabtu, 31 Agu 2019 09:41

    Mewaspadai Konten Provokasi Isu Papua: Utamakan Dialog dan Bijaklah Bermedsos

    Isu rasisme kembali menyeruak ke publik. Insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua oleh sejumlah orang pada Jumat (16/8) di Surabaya, serta dugaan diskriminasi terhadap mahasiswa Papua di Malang, men

  • Kamis, 29 Agu 2019 03:29

    Generasi Muda Berani Tolak Radikalisme

    Kita semua tahu bahwa aksi terorisme tidak hanya terjadi di Timur Tengah saja, aksi teror juga ternyata telah merambah ke Tanah Air bahkan sudah sejak lama.Dari berbagai peristiwa seperti bom Bali, bo

  • Senin, 29 Jul 2019 17:59

    GESIT Deklarasikan Gerakan Posting Konten Positif Guna Lawan Hoax dan Radikalisme Di Sosmed

    Sebagai wujud menguatkan kesadaran warganet dalam memperkokoh persatuan dan mewujudkan kemajuan bangsa, Gerakan Literasi Terbit (GESIT) mendeklarasikan gerakan posting konten positif dan lawan hoax se

  • Minggu, 21 Jul 2019 03:21

    Memberantas Virus Demokrasi dan Kebhinnekaan Bernama Hoax

    Dunia maya kita sedang dilanda penyakit hati. Sampah informasi bertebaran secara masif tanpa verifikasi dan konfirmasi. Hoaks, fitnah, dan hujatan bersahut-sahutan nyaris tiada henti. Kabar burung dat

  • Jumat, 28 Jun 2019 15:28

    Menjaga Rasa Persatuan Setelah Pemilu Usai

    Berbeda pilihan dalam demokrasi adalah warna tersendiri. Tetapi hal itu bukan alasan untuk memecah belah bangsa Indonesia.

  • Jumat, 24 Mei 2019 22:44

    Kapuspen TNI: Tidak Benar Provokator di Masjid Petamburan Anggota BAIS TNI

    Video viral https://youtu.be/cOFapD_1TzE dengan judul 'Terciduk! Diduga Oknum BAIS TNI Provokasi Massa di Aksi 22 Mei dan Menyudutkan POLRI'. Informasi/ tulisan yang terdapat pada video ters

  • Jumat, 24 Mei 2019 03:24

    Waspada dan Jangan Terprovokasi Hoaks Menjelang Pengumuman Hasil Pemilu 2019

    Pada era globalisasi saat ini teknologi berkembang sangat pesat. Sebagian besar individu telah mengenal smartphone dan komputer yang terhubung dengan internet. Mereka memanfaatkan smartphone untuk akt

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak