Kamis, 05 Des 2019 21:55
  • Home
  • Opini
  • Mari Kembali Memupuk Semangat Toleransi di Indonesia

Mari Kembali Memupuk Semangat Toleransi di Indonesia

Medan (utamanews.com)
Oleh: Arjuna Wiwaha, Mahasiswa Universitas Indonesia
Sabtu, 23 Mar 2019 03:23
@om_iswdg
Perbedaan merupakan sesuatu yang wajar, dengan berbagai banyak pulau, Indonesia memiliki keanekaragaman suku, budaya, bahasa dan dialeg. Tarian tradisionalpun bermacam-macam, namun semua itu barsatu dalam sebuah semboyan Bhineka Tunggal Ika. Dalam perbedaan, ada sebuah semangat yang harus terus dipupuk, yaitu sikap toleransi masyarakat sebagai ciri bangsa yang Bhineka.

Toleransi adalah sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatau kelompok masyarakat.

Di Indonesia terdapat dua organisasi Islam dengan pengikut terbanyak, yakni NU dan Muhammadiyah. Walaupun kedua organisasi tersebut memiliki banyak pandangan yang berseberangan, namun ada satu benang merah yang menyatukan keduanya. Antara NU dan Muhammadiyah sama-sama memiliki sikap yang toleran terhadap agama lain, tidak berat sebelah dan menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya.

Seperti menurut budayawan nasional Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. NU dan Muhammadiyah itu sebenarnya tidak ada bedanya, karena Muhammadiyah itu artinya berkarakter Muhammad sementara NU bermakna kebangkitan ulama. "Jadi kalau sudah ikut Muhammadiyah otomatis jadi NU, jadi ulama. Sebaliknya kalau ikut NU puncaknya ya jadi Muhammadiyah, berkarakter Muhammad. Jadi ayo bareng-bareng bangun Indonesia", tutur Cak Nun.


Semangat dalam gerakan dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam semata- mata tidak boleh mengganggu kesatuan dan persatuan umat, umat harus tetap bersatu. NU dan Muhammadiyah adalah organisasi keagamaan yang juga menjadi pelaku serta saksi dalam perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan, jadi keduanya biarlah menjadi wadah dan pengontrol untuk para umat muslim di Indonesia dalam melakukan kehidupannya.

Kita masih ingat bahwa dulu pada tahun 2012 ketika terjadi gesekan antar umat seperti di Bogor dimana penganut Ahmadiyah diusir dari wilayah mereka, di Wonosobo setidaknya terdapat 6.000 penganut Ahmadiyah yang hidup aman dan tidak merasa takut akan diusir.

Bupati Wonosobo saat itu Abdul Kholiq Arif, mempersilakan semua umat beragama untuk melakukan ibadah menurut keyakinannya. "Nabi saja menghormati kaum Yahudi. Saya pun harus berperilaku sewajarnya terhadap umat yang tak seiman", ujar Mantan Bupati 2 Periode tersebut.


Menurut dia, sebagai warga negara, kelompok minoritas sama- sama membayar pajak. Karena itu, ia menegaskan pemerintah bertanggung jawab dalam memberikan rasa aman bagi semua warga pada saat mereka beribadah, tak terkecuali penganut Ahmadiyah.

Kepala Staf Kepresidenan Jendral TNI (Purn) Moeldoko menghimbau, Agar Indonesia bisa lebih maju, maka jangan ada lagi pemikiran yang membedakan antara mayoritas dan minoritas. "Toleransi adalah tidak ada lagi minoritas dan mayoritas. Jika bangsa ini masih punya perasaan mayoritas dan minoritas maka tidak akan maju", ujar Moeldoko.

Moeldoko juga menuturkan, bahwa sejarah perjuangan bangsa dibangun oleh berbagai agama dan kelompok etnis. Karena itu, mulai saat ini hapus dikotomi antara mayoritas dan minoritas. "Semua sebagai agen perubahan untuk membetulkan pola pikir yang rusak, menyimpang dan terdistorsi sehingga pemikiran- pemikiran yang semula tidak benar lalu berubah", terangnya.

Ia mencontohkan dalam gamelan Jawa, semua instrumen musik tradisional dimainkan bersama secara harmonis. Maka bisa menjadi sesuatu kekuatan yang indah, maka yang harus mengharmonisasi adalah semua orang. Keharmonisan ini juga tampak nyata di Indonesia keetika perayaan hari besar tiba. Di Wonosobo tak jarang perayaan hari raya di klenteng turut mengundang kaum non Konghucu untuk turut serta dalam mengikuti pergelaran pentas barongsai.

Selain itu semangat keberagaman juga tampak meriah di kelurahan Bangetayu Wetan, Kota Semarang. Dimana Ibu- ibu anggota pengajian kampung tersebut bahu-membahu membantu Pendeta Eka Laksa menyiapkan perayaan Natal di kediamannya, dari mulai memasak, menyajikan hidangan, hingga menata kursi.

"Ya karena saudara jadi harus bantu. Kamu bersaudara meski bukan saudara kandung. Karena tetangga kan akhirnya jadi saudara. Bahkan kami menggil beliau (Pendeta Eka Laksa) tidak pernah dengan sebutan nama, tapi Pak Dhe sama Bu Dhe", tuturnya.

Pemandangan wanita berjilbab dan pria berpeci di kediaman Pendeta Eka Laksa saat perayaan Natal memang hal yang lumrah. Hal ini sudah menjadi kebiasaan yang telah berlangsung selama belasan tahun. Mereka lebih memilih mengedepankan rasa persaudaraan, daripada persoalan agama.

Jika kita melihat sebuah tim sepakbola di Indonesia, maka kita akan dapat melihat betapa semangat mereka menggunakan jersey berlogo garuda berada di dada mereka. Mereka semua tidak hanya berasal dari satu etnis saja, tetapi mereka semua datang dari segala penjuru tanpa memandang suku, ras dan agama. Para pemain disatukan oleh sebuah semangat yaitu meningkatkan harga diri bangsa di kancah olahraga.

Toleransi yang hidup di Indonesia ternyata juga mendapatkan sorotan dari Perdana Menteri (PM) Denmark Lars Lokke Rasmussen, pihaknya memuji Indonesia lantaran menjadi contoh positif sebuah negara paling bertoleransi di Dunia. "Saya berharap, dan saya percaya Indonesia akan terus menjadi contoh positif bagi dunia", kata Rasmussen.

Perdana Mentri Rasmussen berharap, agar Presiden Jokowi dapat terus mendorong kehidupan bertoleransi dalam masyarakat global. Sebab, menurutnya, saat ini dunia internasional memerlukan pencegahan konflik agama dan saling menghormati antar sesama manusia.
Editor: Iman

T#g:Ahmadiyahtoleransi
Karunia Tour and Travel
Berita Terkait
  • Minggu, 01 Des 2019 09:21

    Pidato Menteri Agama Menggugah Kebangsaan Kita

    Forum Alumni Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (FA-KMHDI) mengapresiasi pidato kebangsaan Menteri Agama Fachrul Razi, pada seminar kebangsaan dalam rangka perayaan HUT Ke-18 FA-KMHDI di Jakart

  • Selasa, 12 Nov 2019 16:22

    Dandim Ajak Pelajar MAN 1 Jember Belajar Menghormati Perbedaan

    Usai menjadi Inspektur Upacara Hari Pahlawan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Jember, pada Senin (11/11/2019) Komandan Kodim 0824/Jember Letkol Inf la Ode M Nurdin memberikan Wawasan Kebangsaan (Wasb

  • Selasa, 06 Agu 2019 15:56

    Penguatan Pemahaman Bhineka Tunggal Ika Kepada Generasi Muda Kota Medan

    Sebagai upaya untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda bahwasannya Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan berfikir multikultur dan dapat saling menghargai segala perbedaan, Pemko Medan melalui Ba

  • Selasa, 16 Jul 2019 08:46

    Rapat Sinkronisasi dan Fasilitasi Penyelenggaraan Toleransi Sosial

    Bertempat di Kantor Badan Koordinator Wilayah V (Bakorwil V) Jember, Jl Kalimantan N0. 42 Jember, dilaksanakan Rapat Sinkronisasi dan Fasilitasi Penyelenggaraan Toleransi Sosial Se- Wilayah Kerja Bako

  • Selasa, 11 Jun 2019 03:11

    Bersatulah Kembali Indonesiaku

    Pemilu yang melelahkan dengan tensi politik tinggi telah selesai. KPU sudah menyelesaikan rekapitulasi nasional Pileg dan Pilpres, dan telah diumumkan pada 21 Mei 2019 yang lalu. Penetapan presiden da

  • Sabtu, 20 Apr 2019 14:10

    Kawal Hasil Pemilu 2019 Tanpa Provokasi, Demi Persatuan & Keberlanjutan Kepemimpian Nasional Serta Pembangunan Indonesia

    Negeri ini dibangun oleh para founding fathers dengan dan dalam semangat kebersamaan dan gotong royong.

  • Kamis, 17 Jan 2019 08:57

    Perbedaan Sebagai Kunci Toleransi Indonesia

    Belakangan, spanduk penolakan gereja di Jagakarsa, Jakarta Selatan viral beredar di media sosial. Dalam spanduk tersebut, tertulis bahwa warga Jagakarsa menolak gereja mengingat mayoitas penduduk di d

  • Kamis, 25 Okt 2018 08:25

    Wujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin melalui Pemimpin yang Tepat

    Indonesia adalah negara yang beragam. Namun dengan adanya beberapa khasus yang telah terjadi, menegaskan bahwa belum semua masyarakat di Indonesia menyadari dan menerima bahwa Indonesia merupakan nega

  • Kamis, 11 Okt 2018 17:11

    Dinas P3A Kabupaten Labuhanbatu Peringati Hari Anak Nasional

    Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Labuhanbatu memperingati Hari Anak Nasional Tahun 2018. Acara ini dihadiri Plt Bupati Labuhanbatu, Dandim 0209/LB, tokoh agama, OPD d

  • Selasa, 02 Okt 2018 11:02

    Sinkronisasi dan Fasilitasi Penyelenggaraan Toleransi Sosial di Jember

    Kapendam V/Brw Kolonel Inf Singgih Pambudi Arianto, Kolonel Purn Suryadi Setiawan, Ibu Irama Devita SH.M.Kn. (Cucu   Pahlawan Jember Mochamad Sroedji) dan Bpk H.Iksan (Saksi Sejarah), menjadi nar

  • Komentar Pembaca

    Copyright © 2013 - 2019 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir

    RSS

    Kontak