Sabtu, 25 Apr 2026

Dinamika Negara Berkembang di Asia-Afrika: Peluang, Potensi, dan Tantangan dari Sudut Pandang Akademik

Jakarta (utamanews.com)
Oleh: Theofilus J.S/Mahasiswa Prodi HI UKI Jakarta Kamis, 19 Mei 2022 08:59
Ilustrasi Hubungan Asia-Afrika
 Kemlu RI (2019)

Ilustrasi Hubungan Asia-Afrika

Hubungan negara-negara Asia-Afrika secara politik resmi terbentuk semenjak Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1955. Ini merupakan awal dari kerja sama negara selatan-selatan.

Hubungan negara-negara Asia-Afrika pun tidak berhenti pada konferensi tersebut, melainkan turut dipererat oleh pembentukan GNB (Gerakan Non-Blok) pada tahun 1961 dan G77 (Kelompok 77) pada tahun 1964.

Makin eratnya hubungan negara Asia-Afrika dengan bukti berbagai kerja sama antar negara menunjukkan bahwa terdapat kepentingan yang harus digapai oleh masing-masing negara, sebab tidak mungkin negara menjalin hubungan kepada negara lain jika tidak didorong oleh kepentingan negara.

William S. Wibowo (2022) pada kesempatan webinar “Dinamika Negara Berkembang di Asia-Afrika: Peluang, Potensi, dan Tantangan” Unit Kegiatan Mahasiswa FISIPOL Thinkers Club Universitas Kristen Indonesia pada 13 Mei 2022, mengungkapkan melalui penelitiannya bahwa terdapat kepentingan dari peningkatan hubungan negara berkembang Asia dan Afrika, salah satu contohnya adalah Tiongkok kepada negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti Mesir.
William turut menjelaskan bahwa negara memiliki kesamaan dengan manusia, terlepas ia adalah negara maju atau berkembang. Jika seseorang mendekati orang lain, maka orang tersebut memiliki kepentingan pada orang yang ia dekati.

Oleh karena itu, pada konteks Tiongkok, kepentingan-kepentingan tersebut antara lain seperti keamanan energi terhadap Mesir, melalui kebijakan “Marching to the west for BRI partnership” diharapkan dapat memberikan stabilitas internal di domestik Tiongkok dan membantu pencarian status global untuk politik luar negeri Tiongkok.

Hal ini menunjukkan interaksi Asia-Afrika terjadi pada masa kontemporer terlepas dari dinamika politik internasional yang ada.

Lalu, Farhan Julianto dari INADIS (2022) menjelaskan bahwa terdapat berbagai bentuk konflik di benua Afrika yang menyebabkan Afrika menjadi benua penuh dengan tantangan keamanan. Adanya berbagai perang saudara, kudeta militer, krisis sumber daya alam, dan lain-lain, selalu mewarnai benua Afrika.
produk kecantikan untuk pria wanita

Oleh sebab itu, walaupun penuh dengan peluang dan potensi, hubungan negara-negara di Asia kepada negara-negara di Afrika menyimpan tantangan, papar Farhan.

Kemudian, Yusnan Hadi Mochtar, dosen UNU Kaltim (2022) menyatakan bahwa negara-negara Barat melihat bahwa negara-negara Asia-Afrika belum menghasilkan buah-buah baik dari demokrasi, karena demokrasi di Asia-Afrika masih belum membuahkan hasil yang tepat. Maka negara-negara Barat pun hanya melihat bahwa demokrasi di Asia-Afrika hanya dijalankan untuk hal-hal teknis yang terkait dengan bantuan luar negeri.

Terdapat faktor-faktor bagi kemunduran demokrasi di Afrika, hal-hal tersebut seperti pemerintah yang kurang responsif, dukungan anti demokrasi, kurangnya keseimbangan antara pemerintah dan sipil, masih adanya nilai-nilai otoritarianisme, adanya intervensi Barat, pengaruh kepentingan Rusia dan RRT, hingga ekstremisme agama.

iklan peninggi badan
Pada konteks Asia, yang menjadi faktor bagi kemunduran demokrasi adalah populisme, meningkatnya otoritarianisme, akuntabilitas pemerintah, ekstremisme agama, dan pengaruh Tiongkok, sehingga negara Asia-Afrika sejatinya memiliki kendala yang mirip walaupun secara konteks ekonomi, politik, dan sosial budaya dapat berbeda tiap negaranya.

Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa hubungan negara-negara di Asia dan Afrika sebenarnya dapat menjadi jawaban alternatif bagi negara-negara berkembang. Melalui kesamaan tingkat ekonomi, kemiripan keadaan sosial-budaya, serta pengaruh historis yang serupa menyebabkan hubungan lintas batas negara-negara Asia-Afrika selalu meyimpan peluang dan potensi yang non-tradisional bagi negara berkembang untuk dapat ditindaklanjuti sebagai hubungan negara sesama berkembang yang pasti akan lebih seimbang jika dibandingkan dengan hubungan negara maju-negara berkembang. Kendati demikian, hal ini juga menyimpan tantangan yang tidak kecil juga, seperti yang dijelaskan oleh Darynaufal Mulyaman, dosen Prodi HI UKI Jakarta (2022).
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️