Keluarga pasien yang dirawat di Rumah Sakit Latersia Binjai mengaku kecewa terhadap pelayanannya. Sebab, setelah merasa dipaksa menjalani tindakan medis, akhirnya mereka dibebani biaya yang tinggi.
Kekecewaan itu dialami keluarga seorang pasien bernama Nurma Uliamah, yang sebelumnya mengalami kecelakaan dan dilarikan ke RS Latersia Binjai pada Kamis (23/4) kemarin.
Setibanya di Instalasi Gawat Darurat (IGD), korban sempat mendapat penanganan awal. Namun, pihak Rumah Sakit kemudian meminta pasien menjalani pemeriksaan lanjutan dengan melakukan rontgen.
Pihak keluarga mengaku telah menolak tindakan tersebut. Meski demikian, menurut mereka, Rumah Sakit tetap mengharuskan agar pemeriksaan dilakukan.
“Anak saya menangis sambil mengadu kalau Ibunya (mantan Istri) tidak dilayani dengan sepantasnya,” ujar Asbet, pihak keluarga pasien, Jumat (24/4).
Asbet juga menyebut, pada malam hari itu pihak Rumah Sakit meminta pembayaran dengan segera meski pasien tidak dirawat inap maupun ditempatkan di ruang perawatan.
“Pasien tidak menginap, tidak masuk kamar, tapi diminta langsung bayar malam itu juga,” ungkapnya.
Tak hanya itu, keluarga juga diminta menandatangani sebuah surat pernyataan yang berisi bahwa Rumah Sakit tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap pasien.
Setelah pembayaran dilakukan, pasien justru disarankan untuk dirujuk ke RS Adam Malik Medan. Namun, pihak keluarga mengaku tidak sanggup melanjutkan rujukan tersebut dan memilih membawa pasien pulang.
“Sebelumnya kami ingin menggunakan BPJS, tapi pihak Rumah Sakit mengatakan tidak bisa digunakan,” terang Asbet.
Lebih lanjut, Asbet mengungkapkan total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp. 6.400.000 (enam juta empat ratus ribu rupiah). Merasa terlalu banyak, ia pun mencoba mempertanyakan besarnya tagihan tersebut, karena menurutnya pasien tidak menerima obat untuk dikonsumsi.
Merasa ada kejanggalan, Asbet bersama awak media mendatangi Rumah Sakit untuk meminta penjelasan terkait rincian biaya hingga sampai begitu banyak. Namun sesampainya di sana, mereka mengaku tidak mendapat kejelasan.
“Saya sudah janjian dengan dokter pukul 15.00 Wib. Tapi malah dibola-bola ke sana kemari. Tidak ada solusi maupun penjelasan,” tegasnya.
Atas kejadian ini, Asbet berencana mengadukan persoalan tersebut ke DPRD Kota Binjai agar dilakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP). (*)