Ketua Yayasan Islamic Center H.K Erizal Ginting SH didampingi pengurus Rizqana Sari menerima kunjungan dua Mahasiswi Fakultas FISIP USU di rumah dinas Wali Kota Pematang Siantar, jalan Kapten MH Sitorus no 1, Senin (6/11/2023).
Panti Asuhan Islamic Center bertempat di Jl Sangnaualuh terletak di Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun, Km 3,5.
Dua mahasiswi tersebut yakni Marini dan Wilda Zunaira Mahasiswi dari program studi kesejahteraan sosial FISIP USU, yang bertujuan untuk melengkapi penelitian skripsi dengan melakukan wawancara khusus kepada Kepala Yayasan Panti Asuhan Islamic Center.
Erizal Ginting mengkisahkan sejarah berdirinya Panti Asuhan Islamic Center pada tahun 1970 digagas langsung oleh H. Kurnia Ginting yang pada masa itu dengan niat memberikan pendidikan kepada putra-putri yang tidak memiliki ayah atau ibu atau yatim piatu.
Selain itu, Erizal Ginting juga menjelaskan bahwa tujuan H. Kurnia Ginting sebagai Tokoh Nasional di MPR RI dan Tokoh Pemersatu Etnis Karo di Pematang Siantar tersebut juga untuk mewujudkan anak yatim piatu dan anak terlantar menjadi anak yang mandiri, menolong anak tersebut agar merasakan kasih sayang sebagaimana layaknya di dalam keluarga, sampai saat ini.
“Panti Asuhan ini sudah zaman berzaman, dengan nawaitu yang ikhlas, ayah saya mendirikan ini untuk amal jariyah, hingga sampai saat ini, kami pengurus panti pegang teguh prinsip itu,” tegasnya menjelaskan.
Erizal Ginting sebagai penerus Panti Asuhan Islamic Center menuturkan bahwa pengasuhan bersifat kekeluargaan.
“Bahkan ada yang sudah menjadi pejabat, dan sering datang ke Panti Asuhan untuk melihat masa kecil dan membantu Panti juga,” tukasnya.
“Untuk beberapa tahun terakhir ini ada 6 pekerja yakni sebagai admin, penjaga malam, juru masak, ibu asuh dan dua guru mengaji,” ungkap penggagas Tugu Becak Siantar, Erizal Ginting.
Saat ditanya Marini dan Wirda, Erizal Ginting pun mengatakan bahwa pengasuhan moral yang diberikan kepada anak-anak panti asuhan adalah dengan selalu mempertebalkan (memperkuat) ilmu agama dan memberikan pengajaran nilai-nilai sosial yakni saling menghargai satu sama lain.
Marini sempat menanyakan pendapat pendiri panti asuhan islamic center tentang perkembangan sosial.
Menurut Erizal Ginting, perkembangan sosial di era digital yakni memahami adaptasi terhadap lingkungan secara efektif serta bertanggungjawab (komitmen) dengan tugas-tugas, menghargai perbedaan individual, dan peka terhadap lingkungan disekitarnya, baik secara teknologi (maya), maupun keseharian (nyata).
Usai pertemuan, Marini dan Wilda juga sempat berfoto bersama dengan Erizal Ginting Tokoh Seni dan Budaya Sumut yang juga menulis Buku Peristiwa Siantar Hotel Berdarah.