Sejumlah pemuda yang mengatasnamakan Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Binjai (APMB) menggelar aksi unjuk rasa damai di Kantor Pemerintah Kota (Pemko) Binjai, Jalan Jend. Sudirman, Kota Binjai, Rabu (21/1).
Kedatangan para pengunjuk rasa tersebut untuk menyoroti Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Binjai, Wahyu Umara, yang diduga sedang dalam kondisi tidak sehat saat mengikuti seleksi hingga akhirnya terpilih sebagai pejabat eselon II.
Dugaan itu terungkap dari orasi aksi massa yang mengatasnamakan Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Binjai.
Dalam orasinya, massa menyampaikan bahwa Kadis PUTR Binjai terpilih merupakan pejabat titipan dari luar (impor).
“Sementara banyak sumber daya manusia di Kota Binjai yang layak,” ungkap Koordinator Aksi, Oza Hasibuan.
“Hasil lelang Kadis PUTR penuh indikasi kecurangan, yang mana kita ketahui bahwasanya ada dugaan manipulasi administrasi. Untuk itu kami meminta kepada Wali Kota, Ketua Pansel, Kepala BKD, dan juga Dirut Rumah Sakit Djoelham, untuk memberi penjelasan,” sambungnya.
Orasi massa diterima pejabat di Pemko Binjai dan menyampaikan aspirasinya secara langsung di ruang rapat. Usai diskusi, Oza menegaskan jika Tim Pansel yang diwakili Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kota Binjai menilai bahwa hal tersebut sah secara undang-undang.
Artinya, tidak masalah ketika pejabat bukan dari Binjai mengikuti lelang jabatan tersebut.
“Tapi hal yang mendasar terlalu dipaksakan, sementara di Binjai banyak yang sehat dan memiliki sumber daya yang mampu bersaing,” ungkapnya.
Soal dugaan tidak sehat, menurut Oza, RSUD Djoelham Binjai juga tidak dapat menyampaikan secara utuh.
“Kita menduga ada praktik nepotisme dalam proses lelang jabatan ini. Dan soal kesehatan pejabat terpilih, tidak bisa menjawab dan dalam rahasia jawabannya,” bebernya.
Bagi Oza, hal ini disesalkan oleh pihaknya. Ia menilai jawaban itu bukanlah solusi.
“Mereka tidak mau evaluasi dan malah menjawab rahasia. Kita akan lanjut lagi dengan aksi yang lebih besar dalam waktu dekat ini,” seru Oza, seraya menegaskan bahwa pihaknya menduga ada cawe-cawe dalam pengangkatan Kadis PUTR Binjai.
Terpisah, Pelaksana Tugas Direktur RSUD Djoelham, dr. Romy Ananda, memilih bungkam saat dikonfirmasi dugaan pejabat eselon II terpilih dalam keadaan tidak sehat. Begitu juga saat disoal rekam medis Kadis PUTR Binjai terpilih, Romy memilih untuk diam.
Sikap serupa juga disampaikan Wahyu Umara, sebagai pejabat terpilih dalam hasil lelang jabatan yang duduk pada kursi strategis Dinas PUTR Binjai. Sejak awal mengikuti seleksi hingga terpilih, Wahyu memang sulit menjawab konfirmasi awak media.