Minggu, 03 Mei 2026

Transformasi Remaja Pendiam lewat Sentuhan Sosial dan Spiritualitas

Medan (utamanews.com)
Oleh: Anita Maisaroh Kamis, 19 Jun 2025 17:09
Anita Maisaroh dan klien
 Istimewa

Anita Maisaroh dan klien

Tidak semua perubahan besar diawali dengan langkah yang besar. Terkadang, perubahan itu dimulai dari satu sapaan kecil, satu ayat yang dihafal, atau satu sesi pendampingan yang bermakna. Inilah pelajaran penting yang praktikan temukan selama menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN, tepatnya dalam program Family Strengthening yang berfokus pada penguatan kapasitas individu dan keluarga dari sisi sosial dan spiritual. Sebagai mahasiswa semester enam Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, Anita Maisaroh (220902018) sebagai seorang praktikan memiliki kesempatan mendampingi seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun sebagai klien praktikum. Klien adalah siswa kelas X di salah satu Madrasah Aliyah swasta di Marelan, Kota Medan. Klien sangat pendiam, sering salah menjawab saat diajak bicara, dan tampak kesulitan memahami pembicaraan orang lain. Namun, di balik sikap pasifnya tersimpan mimpi yang besar yakni menjadi seorang tahfidz Qur’an.

Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini dilaksanakan selama kurang lebih 3,5 bulan, dimulai sejak pelepasan mahasiswa PKL oleh pihak kampus pada awal Maret 2025 hingga proses terminasi dengan klien pada pertengahan Juni 2025. Kegiatan dilakukan setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat, dengan waktu yang telah disesuaikan bersama pihak lembaga serta kebutuhan klien. Seluruh kegiatan berlangsung di bawah pengawasan pembimbing lapangan dari Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN RO Medan yaitu Bapak Suyatno Yayha Alfariz, serta dosen pembimbing akademik dari kampus yakni Ibu Novita Sari S.Sos., M.Kesos. Kegiatan dilaksanakan dalam cakupan program Family Strengthening yang berada di bawah naungan Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN RO Medan dan berlokasi di Marelan, Kota Medan. Program ini menargetkan anak-anak dan remaja dari keluarga pra-sejahtera yang memerlukan intervensi sosial. Salah satu klien yang didampingi dalam kegiatan ini adalah seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun, yakni “Rafi” (nama samaran).
Rafi merupakan anak dari keluarga tidak mampu dan termasuk dalam kategori PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial), khususnya sebagai anak dari keluarga rentan yang mengalami hambatan dalam fungsi sosial. Berdasarkan asesmen awal, Rafi menunjukkan permasalahan serius dalam hal komunikasi, interaksi sosial, dan kemampuan memahami informasi secara verbal. Pendampingan terhadap Rafi telah mendapat izin dari orang tua, serta telah disesuaikan dengan prinsip kerahasiaan dan etika profesi pekerjaan sosial. Pendampingan terhadap Rafi dilakukan melalui pendekatan model casework dari Zastrow, yang mencakup delapan tahap intervensi sosial secara sistematis, yaitu:

Pendampingan diawali dengan membantu klien menyadari masalah yang ia alami secara mandiri. Dalam tahapan awal intervensi, khususnya pada fase penyadaran akan adanya masalah, praktikan menggunakan AUM (Alat Ungkap Masalah) sebagai instrumen awal untuk menggali pengalaman pribadi dan persepsi internal klien secara mandiri. AUM dipilih sebagai alat bantu karena karakteristik klien yang sangat pendiam, tertutup, dan kesulitan mengungkapkan pikiran secara verbal langsung.

Pengisian AUM dirancang agar klien merasa lebih leluasa dalam menyampaikan apa yang dirasakan, tanpa tekanan interaksi tatap muka. Klien diberi waktu untuk menjawab berbagai pernyataan dan pertanyaan reflektif dalam suasana yang tenang. Harapannya, AUM dapat menjadi cermin awal yang memperlihatkan kondisi psikis dan sosial klien secara lebih jujur dan mendalam.

2. Tahap Penjalinan Relasi Mendalam
Selanjutnya, praktikan menjalin hubungan profesional yang hangat dan mendalam dengan klien. Pendekatan ini dilakukan melalui pertemuan informal, dialog terbuka, serta aktivitas ringan yang menyenangkan namun tetap edukatif. Relasi ini ditujukan untuk menciptakan kepercayaan dan rasa aman, sehingga klien merasa didengar dan dihargai sebagai individu utuh. Relasi yang terbangun memungkinkan terjadinya keterbukaan emosional, di mana klien mulai berani mengungkapkan perasaan dan kebutuhannya.

produk kecantikan untuk pria wanita
3. Tahap Pengembangan Motivasi
Setelah hubungan terjalin, praktikan berfokus pada membangkitkan kembali motivasi klien. praktikan menggunakan pendekatan reflektif untuk mengaitkan cita-citanya menjadi tahfidz dengan kebutuhan komunikasi yang baik. Klien menyadari bahwa menjadi hafidz tidak hanya soal menghafal, tetapi juga menyampaikan pesan Al-Qur’an kepada orang lain. Motivasi spiritual ini dijadikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan perubahan dalam dirinya secara menyeluruh.

4. Tahap Pengonsepsian Masalah (Menggunakan BPSS dan Kuadran Strength)
Praktikan melakukan asesment komprehensif menggunakan pendekatan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual (BPSS). Hasil asesment menunjukkan bahwa secara biologis dan spiritual, klien berada dalam kondisi baik, namun dari aspek psikologis dan sosial ia menghadapi tantangan besar seperti rasa takut berbicara, keraguan diri, dan kesulitan memahami konteks percakapan.

Asesment dilengkapi dengan Kuadran Strength yang memetakan kekuatan klien, yakni:
iklan peninggi badan
  • Komitmen terhadap hafalan Qur’an
  • Kedisiplinan mengikuti rutinitas pondok
  • Kecenderungan cepat menerima umpan balik positif
  • Kerendahan hati dan keterbukaan terhadap perubahan

5. Tahap Eksplorasi Strategi Mengatasi Masalah
Praktikan dan klien secara bersama-sama menjelajahi berbagai alternatif strategi pemecahan masalah. Beberapa opsi yang dieksplorasi di antaranya:
  • Melakukan latihan komunikasi dua arah
  • Menggunakan skrip sapaan sederhana
  • Melatih public speaking secara bertahap
  • Meningkatkan intensitas hafalan untuk meningkatkan rasa percaya diri
Eksplorasi dilakukan dengan melibatkan klien secara aktif agar strategi yang dipilih benar-benar sesuai dengan kenyamanan dan kapasitasnya.

6. Tahap Penyeleksian Strategi
Dari hasil eksplorasi, kami memilih strategi yang realistis, terukur, dan sesuai kemampuan klien. Strategi yang disepakati adalah:
  • Menargetkan hafalan minimal tiga surah per sesi
  • Melatih penyampaian jawaban yang tepat dan jelas
  • Berani menyapa minimal satu orang baru setiap hari
  • Role-play menghadapi situasi percakapan umum
  • Memberikan pesan/presentasi surah setelah menyetor hafalan di depan peserta dan pendamping.
  • Melakukan dialog interaktif, simulasi komunikasi sosial, dan evaluasi ekspresi untuk meningkatkan pemahaman klien terhadap sinyal komunikasi.
Strategi-strategi ini dipilih karena memiliki keseimbangan antara aspek teknis dan spiritual.

7. Tahap Implementasi Strategi
Selama enam sesi intervensi dalam dua minggu, strategi diterapkan secara konsisten. Praktikanmemberikan pendampingan aktif dan umpan balik setiap pertemuan. Hasil yang dicapai sangat menggembirakan:
  • Klien berhasil menghafal 35 surah dengan tajwid yang baik
  • Klien mampu menjawab pertanyaan dengan tenang dan sesuai konteks
  • Klien menunjukkan inisiatif menyapa pendamping dan teman tanpa paksaan
  • Klien tampak lebih rileks dan menikmati proses interaksi sosial
  • Klien berani mempresentasikan terjemahan hafalan surah di depan khalayak ramai
  • Klien memperlihatkan peningkatan semangat dalam menghafal serta menunjukkan perkembangan positif dalam aspek vokal, ditandai dengan volume suara yang lebih stabil dan jelas
  • Klien memiliki inisiatif untuk membuka percakapan dan mulai aktif menceritakan pengalamannya kepada pendamping

8. Tahap Evaluasi
Pada tahap evaluasi, praktikan mengajak klien merefleksikan seluruh proses. Klien mengungkapkan bahwa ia kini merasa lebih siap untuk tampil di depan umum, percaya diri dalam menjawab pertanyaan, dan semakin semangat menghafal Qur’an. Sebagai bentuk penghargaan simbolik, klien diberikan reward dan menyusun tindak lanjut bersama orang tua untuk keberlanjutan proses adaptasi sosial dan spiritual klien.

Pendampingan ini memberi pelajaran berharga bahwa perubahan yang bermakna berasal dari kesadaran personal, bukan paksaan eksternal. Penerapan tahapan casework menurut Zastrow terbukti efektif dalam membimbing remaja keluar dari keterkungkungan diam menuju keberdayaan komunikasi dan spiritualitas. Program Family Strengthening YBM BRILiaN menjadi lahan tumbuh bagi perubahan ini—bukan hanya bagi klien, tetapi juga bagi praktikan sebagai calon pekerja sosial yang sedang bertumbuh bersama mereka.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak supervisor sekolah, supervisor lembaga, serta seluruh pengelola Program Family Strengthening Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN RO Medan, yang telah memberikan kesempatan dan ruang pembelajaran yang luar biasa selama satu semester kegiatan PKL berlangsung. Dukungan, bimbingan, dan kepercayaan yang diberikan sangat membantu dalam proses penguatan kapasitas mahasiswa dalam praktik pekerjaan sosial mikro yang berbasis nilai, etika, dan profesionalisme.

Penulis: Anita Maisaroh
Dosen Pengampu: Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️