Jumat, 22 Mei 2026
Refleksi Akhir Tahun: Urgensi Penataan Sungai Medan-Deli Serdang dan Peran Vital Pekerja Sosial dalam Bingkai Tri Dharma
Medan (utamanews.com)
Oleh: Sulthon Abdillah, dkk Rabu, 10 Des 2025 18:30
Istimewa

Sebagai mahasiswa yang memegang teguh peran sebagai agent of change, kita memandang proyek penataan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang melintasi perbatasan Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang bukan sekadar proyek infrastruktur fisik semata, melainkan sebuah laboratorium sosial dan ekologis yang kompleks. Langkah Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui BWS Sumatera II yang tengah berpacu mengatasi penyempitan alur sungai atau bottle neck yang kerap memicu banjir tahunan harus dilihat sebagai momentum penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara menyeluruh. Dari sisi pendidikan dan pengajaran, pembangunan tanggul parapet dan pengerukan sedimen merupakan implementasi nyata dari mitigasi struktural. Namun, kaum intelektual harus kritis memahami bahwa rekayasa teknis tersebut tidak akan berkelanjutan tanpa disertai mitigasi non-struktural yang melibatkan aspek sosial masyarakat.
Dalam ranah penelitian dan pengembangan, pergeseran pendekatan penanganan dampak sosial melalui konsep "Geser dan Tata" menuju hunian vertikal (Rusunawa) menawarkan hipotesis solusi yang menarik namun berisiko jika mengabaikan dimensi kemanusiaan. Di sinilah peran pekerja sosial menjadi sangat krusial untuk diteliti dan diterapkan. Mahasiswa perlu mengkaji bagaimana pekerja sosial dapat memfasilitasi transisi warga yang terdampak, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental. Pekerja sosial berperan vital dalam melakukan asesmen kebutuhan dasar, pendampingan psikososial untuk mengatasi trauma banjir, serta memastikan bahwa relokasi ke Rusunawa tidak memutus jaringan sosial atau social capital warga yang sudah terbangun lama di bantaran sungai. Visi Waterfront City tidak boleh hanya menjadi gimmick estetika, melainkan harus berbasis pada kesejahteraan warga yang didampingi secara profesional.
Akhirnya, pada pilar pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa harus turun tangan mengisi kekosongan peran pendampingan di lapangan. Kita tidak boleh berdiam diri saat masyarakat menghadapi dilema relokasi dan ancaman bencana. Mahasiswa, khususnya dari rumpun ilmu sosial dan kesejahteraan sosial, harus mengambil peran layaknya pekerja sosial profesional: melakukan advokasi kebijakan, memberikan layanan dukungan psikososial bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, serta memfasilitasi dialog antara pemerintah dan warga. Sinergi antara pembangunan infrastruktur fisik, penguatan literasi bencana, dan intervensi pekerja sosial inilah yang menjadi kunci untuk mewujudkan wilayah aglomerasi yang tidak hanya bebas banjir, tetapi juga memanusiakan warganya melalui pemulihan sosial yang bermartabat.

  1. Sulthon Abdillah Muhammad_220902071, 
  2. Sonang M. Tampubolon_220902013, 
  3. Yutia Anggraini _0103222031, 
  4. Resty Etika Pulungan_ 01032220442, 
  5. Arairis Akbar _220902087, 
  6. Okphilip Abdi Agam Zebua_220902011, 
  7. Reza Andhika P_0103222029
busana muslimah
Kontak   Disclaimer   Karir   Iklan   Tentang Kami   Pedoman Media Siber

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

gopay later