Di tengah hiruk pikuk pembangunan kota, masih ada individu yang terpinggirkan dari sistem dan perhatian sosial. Salah satunya adalah Bapak R, seorang warga di Kelurahan Pujidadi, Kota Binjai, yang selama ini menjalani hidup dalam keterbatasan dan tanpa identitas administratif yang jelas. Melalui praktik kerja lapangan di Dinas Sosial Kota Binjai, saya berkesempatan untuk terlibat langsung dalam proses pendampingan terhadap Bapak R. Tidak hanya sebagai seorang mahasiswa, namun juga sebagai calon pekerja sosial yang berhadapan langsung dengan realitas kehidupan yang seringkali luput dari perhatian.
Terlupakan di Kota Sendiri
Bapak R tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), yang menyebabkan dirinya tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial apa pun. Hal ini tentu menjadi masalah besar, mengingat banyak layanan dasar di Indonesia yang mengandalkan validitas data kependudukan.
Namun lebih dari sekadar dokumen, masalah Bapak R menggambarkan bagaimana sistem sosial masih memiliki celah—di mana seseorang bisa luput dari perhatian hanya karena tidak memiliki akses administratif.
Proses pendampingan dimulai dari observasi dan komunikasi langsung dengan pihak kelurahan, masyarakat sekitar, serta Bapak R sendiri. Melalui pendekatan yang humanis, kami menggali riwayat kehidupan Bapak R, tantangan yang ia hadapi, dan dukungan sosial yang masih memungkinkan untuk diberikan.
Langkah-langkah konkret kemudian dilakukan, seperti:
- Menghubungkan Bapak R dengan pihak kelurahan terkait kepengurusan dokumen administratif.
- Melakukan koordinasi dengan unit layanan Dinas Sosial untuk kemungkinan intervensi sosial lanjutan.
- Memberikan dukungan moral dan emosional secara langsung.
Kasus Bapak R memberikan gambaran nyata tentang pentingnya kehadiran pekerja sosial di lapangan. Tidak semua masalah bisa diselesaikan melalui data dan sistem. Ada kalanya, kehadiran langsung, empati, dan komunikasi menjadi kunci utama dalam menjangkau mereka yang terpinggirkan.
Pendampingan ini juga menjadi refleksi penting bagi saya sebagai mahasiswa Kesos: bahwa keadilan sosial harus diperjuangkan hingga ke tingkat paling dasar—dimulai dari keberpihakan terhadap satu individu yang membutuhkan.
Kisah Bapak R bukan sekadar cerita tentang satu orang yang tidak memiliki KTP. Ini adalah cerita tentang sistem yang belum sepenuhnya inklusif, dan tentang pentingnya peran pekerja sosial dalam menjembatani jurang itu.
Semoga semakin banyak pihak yang peduli, dan semakin banyak suara-suara yang biasanya tak terdengar, mulai mendapat ruang dan perhatian.
Praktikan juga sangat berterima kasih kepada Supervisor Sekolah, Bapak Agus Suriadi, S.Sos., M.Si., dan dosen pengampu mata kuliah, Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kessos.