Selasa, 28 Apr 2026

Kesiapsiagaan hingga Pemulihan: Strategi KOPA Medan

Medan (utamanews.com)
Oleh: Dwinata Novelia Sipayung, dkk Selasa, 09 Des 2025 08:19
Dokumentasi Bersama Bapak Safri Tanjung (Kepala KOPA)
 Istimewa

Dokumentasi Bersama Bapak Safri Tanjung (Kepala KOPA)

Di tengah dinamika kehidupan di Kampung Aur, Medan, mahasiswa dari program Kesejahteraan Sosial Universitas Sumatera Utara yang terdiri dari Dwinata Novelia Sipayung 220902062, Septiani Rehulina Putri Sinaga 220902044, Yolanda Oktari Br Bangun 220902050, Tasya Uli Marsuara Manurung 220902012, Rachel Yohana Vatreciya Purba 220902040 dan bersama mahasiswa dari Universitas Negeri Islam Sumatera Utara yaitu Chodijjah Nur syahfitri 0103221007 dan Cipta Novian 0103221003 melakukan studi lapangan dalam mata kuliah Manajemen Penanggulangan Bencana yang diampu oleh Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos, MSP dan Ibu Dra. Berlianti, MSP. Penelitian ini mengangkat kiprah Komunitas Peduli Anak (KOPA) Medan sebagai model ketangguhan komunitas dalam menghadapi banjir berulang dan berkepanjangan yang menjadi bagian dari kehidupan warga Kampung Aur.

Penelitian ini memaparkan bagaimana KOPA tidak hanya membina anak-anak melalui kegiatan sosial, tetapi juga mengembangkan strategi manajemen bencana berbasis komunitas yang berkelanjutan. Tokoh sentral dalam gerakan ini adalah Pak Safri Tanjung, yang sejak tahun 1989 telah melakukan pengabdian melalui program “Maghrib Mengaji”. Kegiatan ini membuka jalan edukasi awal bagi masyarakat pinggiran sungai agar anak-anak tidak berkeliaran malam hari, sekaligus memperkuat ikatan sosial di antara warga sekitar.

Pada masa awal pengabdian, sekitar 375 kepala keluarga dari Kampung Aur, termasuk kelompok Tionghoa, menjadi subjek pendampingan komunitas. Kehidupan sosial di Kampung Aur pada saat itu sangat kental dengan semangat gotong royong, warga rutin membersihkan tepian sungai, saling membantu, dan menjalin kebersamaan dalam banyak aspek kehidupan. Namun seiring meningkatnya risiko banjir, kini hanya sekitar 10 persen warga yang masih memanfaatkan sungai sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Hasil pencatatan mahasiswa bahwa intensitas banjir di Kampung Aur mengalami eskalasi signifikan sejak era 2010. Dalam satu tahun, banjir bisa terjadi hingga 25 kali, dan mendekati akhir tahun, hampir semua rumah bisa terdampak. Perubahan pola alam dan pengaturan kota memaksa KOPA dan warga untuk merumuskan langkah mitigasi yang lebih sistematis. Salah satu upaya utama yang diinisiasi adalah pendirian Bank Sampah Citra Aur pada tahun 2022. Prinsip komunitas sangat kental di sini: “sampah menjadi uang, uang dikonversi menjadi emas.” Program ini melibatkan 75 persen warga, dengan sistem penarikan sampah dua kali sebulan. Hasilnya sangat menggembirakan: keuntungannya bisa mencapai Rp4,7 juta, yang kemudian dikelola ulang untuk peningkatan kapasitas komunitas. 

Tidak hanya mitigasi berbasis lingkungan, sistem kesiapsiagaan banjir di Kampung Aur juga sangat terstruktur. Warga memanfaatkan corong masjid sebagai alat peringatan banjir, sementara hampir 90 persen penduduk mampu berenang, menjadi modal besar ketika air meluap. Inovasi rumah juga mencerminkan adaptasi komunitas: setiap rumah di pinggir sungai umumnya memiliki loteng atau lantai dua, agar barang berharga bisa diselamatkan saat evakuasi. Bahkan, ban dalam mobil disiapkan sebagai alat evakuasi darurat untuk anak-anak, lansia, dan harta benda penting. Dalam situasi banjir, pemuda KOPA rutin melakukan pengecekan rumah warga untuk memastikan keselamatan semua penghuni.
Mahasiswa juga mencatat jalur evakuasi yang telah ditetapkan oleh komunitas: KOPA, SIMPASERI, dan arah jalan besar menjadi titik pengungsian strategis saat banjir. Selain itu, peran ibu-ibu dalam mitigasi sangat penting melalui pertemuan rutin, ibu-ibu memperoleh edukasi tanggap darurat, membangun pemahaman kolektif dalam menghadapi bencana. Sementara itu, pemuda menjadi “pelopor” mitigasi aktif, terjun langsung saat musibah datang.

Kolaborasi dengan lembaga eksternal pun turut diperkuat. Dalam penelitian ini terungkap bahwa KOPA telah diakui secara formal oleh kecamatan, dan pernah mendapat dukungan dari instansi seperti PTPN 4, yang memberikan dana rehabilitasi gedung sekitar Rp15 juta. Meski demikian, tantangan tetap ada: keterbatasan fasilitas (gedung masih disewa), kurangnya sumber daya manusia di bidang teknologi informasi, serta minimnya sarana teknologi seperti komputer, menjadi kendala serius dalam pengembangan kapasitas komunitas.
produk kecantikan untuk pria wanita

Meski menghadapi hambatan, penelitian mahasiswa menunjukkan bahwa pemahaman warga akan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam Bank Sampah, sistem peringatan dan evakuasi mandiri, serta kolaborasi lintas generasi. Selain itu, KOPA tetap menjalankan misi sosial pendampingan anak, terutama anak jalanan (sekitar 30 orang) dan anak rentan/yatim (sekitar 55 orang), dengan program yang fleksibel dan kontekstual.

Dari hasil kajian ini, mahasiswa menyimpulkan bahwa KOPA Medan merupakan contoh nyata bagaimana komunitas lokal mampu bertransformasi menjadi agen perubahan sosial sekaligus menjadi aktor utama dalam membangun ketangguhan menghadapi ancaman lingkungan. Strategi-strategi yang dijalankan mulai dari edukasi berkelanjutan, keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat, mitigasi berbasis pengelolaan lingkungan, hingga penguatan sistem kesiapsiagaan menunjukkan bahwa ketahanan bencana tidak semata-mata lahir dari kebijakan pemerintah atau intervensi lembaga formal. Ketangguhan tersebut tumbuh melalui ikatan sosial yang kuat, kepedulian kolektif, dan kemampuan komunitas untuk mengorganisasi diri dalam menghadapi situasi darurat.

KOPA Medan memperlihatkan bahwa perubahan signifikan bisa dimulai dari ruang-ruang kecil di tengah masyarakat, di mana kesadaran, solidaritas, dan komitmen bersama menjadi modal utama. Upaya pemulihan dan pemberdayaan yang mereka jalankan membuktikan bahwa kekuatan akar rumput memiliki peranan penting dalam memperkuat ketahanan sosial-komunitas. Model seperti ini tidak hanya relevan bagi Kampung Aur, tetapi juga dapat menjadi referensi bagi komunitas lain yang menghadapi tantangan serupa, bahwa ketangguhan dapat dibangun melalui karakter komunitas yang kuat, kepemimpinan yang konsisten, serta semangat kolektif yang tidak mudah padam
iklan peninggi badan
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️