Ada hal yang unik, pada peringatan Hari Guru Nasional yang dilaksanakan pada hari Selasa, 25 November 2025 di SMA N 1 Dolok Pardamean - Sipintu Angin Kab. Simalungun, seluruh guru pendidik mengenakan kostum khusus bernuansa budaya simalungun sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada budaya lokal.
Setelah upacara nasional, dilakukan kegiatan budaya yang mengadopsi adat istiadat Tolu Sahundulan yang memiliki sarat makna hidup harmoni dan saling menghormati, diperagakan dengan menggunakan model Tatang Atur (protokol adat) dari perwakilan Siswa dan Komite Sekolah, saling berbalas umpasa (pantun), juga melakukan tor tor riap sebagai simbol saling memberi hati, peduli dan kasih sayang.
Acara dimulai dengan penyambutan mangalo alo dari seluruh siswa kepada Guru, seluruh siswa marsombah dan bersimpuh sebagai bentuk penghormatan kepada pendidik yang selama ini telah memberikan pembelajaran sikap hidup dan karakte,r serta ilmu pengetahuan dalam proses belajar mengajar di bangku sekolah kurang lebih 3 tahun.
Benty Sihombing S.Pd, M.Si, Kepala Sekolah SMA N 1 Dolok Pardamean menyatakan “Kita hidup bekerja mencari nafkah dan memiliki keluarga di tanah simalungun, walau berasal dari luar wilayah manapun harus menjunjung tinggi budaya lokal dan memiliki ahap simalungun.
Kegiatan Hari Guru ke-80 kali ini membawa semangat siswa agar dapat menghormati pendidik, juga mengenal keberagaman dan akar budaya bangsa, mereka mengalami adopsi adat istiadat simalungun, sehingga bila merantau atau berpindah keluar daerah kelak, memiliki karakter yang baik dan harmoni.
Manortor riap kemudian dilakukan dengan berkeliling antara siswa dan guru, sebagai media ekpresi dan menumbuhkan rasa emosional saling mendekatkan diri, tidak acuh dan saling peduli.
Hariadi Sinaga sebagai salah satu guru yang menggagas kegiatan budaya simalungun ini menambahkan bahwa pesan dari perayaan Hari Guru dengan budaya simalungun ini, siswa dapat mengambil sikap hormat dan rendah hati melalui idiom budaya marsombah kepada guru.
Sebaliknya, Guru memberikan idiom budaya “pasu pasu”, dengan tujuan mendoakan agar anak didik nya kelak dapat hidup sukses dan mulia di tengah kehidupan dan masyarakat.
“Pada awalnya, gagasan budaya simalungun pada Hari Guru ini dianggap underestimate, tidak sesuai serta rumit. Tapi dengan semangat kebersamaan Guru dan siswa terutama pengurus OSIS akhirnya dapat berjalan baik. Kita berharap banyak kegiatan sekolah dapat dilaksanakan berbasis kearifan lokal serta mengedapanan budaya simalungun” jelas nya.
Setelah Tor Tor Riap (menari adat istiadat bersama), penyerahan simbolik keranjang buah buahan dan Dayok Na Binatur juga diberikan siswa kepada guru sebagai ungkapan terima kasih, hal ini sebagai wujud doa agar ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dan diberikan dapat memberikan hasil yang baik serta memberikan keteraturan dalam hidup.
Refan Sitio selaku ketua OSIS SMA N 1 Dolok Pardamean juga memberikan pandangan bahwa tema “Anak Desa yang berakar budaya bangsa” harus dapat dipraktikan langsung, banyak siswa yang tidak mengenal dan tahu adat istiadat dan budaya simalungun. Pendekatan adopsi Tolu Sahundulan ini merupakan cara terbaik agar siswa dapat mengalami dan belajar langsung mengikuti alur prosesi adat yang ada.
“Semua siswa antusias, terihat dari persentasi kehadiran baik saat rapat, latihan sampai pelaksanaan, gembira dan bahagia merayakan kebudayaan bersama” tegas nya.
“On pe ongga, ini baru kali pertama” tambah nya. Ia yakin, semakin banyak siswa belajar mengenal dan mengetahui budaya simalungun sejak awal, maka budaya tersebut semakin kuat dan berakar, sehingga tidak akan terkikis oleh zaman yang sedang berpindah ke era digital.
Hari Guru adalah perayaan tahunan untuk menghormati para pendidik dan mengakui kontribusi penting mereka terhadap pendidikan dan perkembangan masyarakat, momentum penting yang juga menunjukkan apresiasi kepada para guru atas dedikasi dan kerja keras mereka dalam mendidik generasi penerus bangsa, agar terus bertumbuh dan berkembang tanpa lupa akar budayanya