Praktik Kerja Lapangan (PKL), merupakan salah satu bentuk kegiatan pembelajaran di luar kelas yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menerapkan ilmu dan keterampilan yang telah dipelajari di bangku kuliah dalam situasi nyata di dunia kerja atau masyarakat. PKL bukan hanya kegiatan administratif, tapi merupakan proses pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang sangat penting untuk membentuk profesionalisme dan etika kerja di bidang masing-masing.
Saya, Rami Santia Purba NIM 220902111, merupakan mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP USU yang turut serta melakukan kegiatan Praktikum. Kegiatan praktikum dilaksanakan di Dinas Sosial Kabupaten Humbang Hasundutan, sebuah instansi pemerintah daerah yang memiliki mandat untuk menyelenggarakan layanan dan program kesejahteraan sosial, khususnya bagi kelompok rentan dan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Berlokasi di Pasaribu, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Haundutan, Sumatera Utara.
Dinas Sosial (Dinsos) berperan sebagai ujung tombak dalam implementasi kebijakan sosial di daerah. Lembaga ini menjalankan berbagai fungsi penting, seperti asesmen kebutuhan masyarakat miskin, pendampingan program bantuan seperti Program Keluarga Harapan (PKH), serta pelaksanaan intervensi sosial yang berbasis komunitas. Dalam konteks praktikum ini, Dinsos menjadi tempat yang strategis untuk mengamati langsung proses penanganan masalah sosial secara sistematis, sekaligus menjadi wadah pembelajaran lapangan mengenai bagaimana teori pekerjaan sosial diterapkan dalam situasi nyata. Salah satu pengalaman yang sangat berharga adalah keterlibatan saya dalam proses pendampingan kasus individu penerima PKH menggunakan pendekatan case work, yang akan dijelaskan dalam artikel berikut ini.
Kemiskinan merupakan salah satu persoalan sosial yang paling kompleks di Indonesia, karena mencakup tidak hanya aspek ekonomi, tetapi juga sosial, pendidikan, dan kesehatan. Dalam konteks ini, kelompok masyarakat miskin yang tergolong sebagai Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), termasuk ibu rumah tangga, lansia, dan penyandang disabilitas, menjadi sasaran utama dalam program-program kesejahteraan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Salah satu upaya pemerintah yang paling signifikan adalah Program Keluarga Harapan (PKH), yang memberikan bantuan bersyarat kepada keluarga miskin untuk mendorong akses terhadap layanan dasar. Namun, sebagaimana ditemukan dalam praktik sosial di lapangan, bantuan finansial semata tidak cukup tanpa intervensi yang menyentuh akar permasalahan sosial dan personal.
Dalam praktikum sosial yang dilaksanakan di Dinas Sosial Kabupaten Humbang Hasundutan, pendekatan pekerjaan sosial individual (case work) diterapkan untuk menangani kasus seorang ibu rumah tangga, yang merupakan peserta aktif PKH. Klien menghadapi berbagai tantangan dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarganya, terutama akibat kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil dan minimnya keterampilan pengelolaan keuangan. Dengan latar belakang pendidikan yang tidak tuntas dan beban peran ganda sebagai pengasuh serta pencari nafkah, klien menjadi representasi nyata dari tantangan kesejahteraan sosial di tingkat akar rumput.
Pendekatan case work yang diterapkan mengikuti tahapan-tahapan sistematis sesuai teori Charles Zastrow (2010), dimulai dari engagement, intake, dan contract, di mana hubungan awal antara praktikan dan klien dibangun melalui komunikasi empatik dan saling percaya. Setelah hubungan kerja profesional terbentuk, dilakukan asesmen mendalam menggunakan alat bantu seperti genogram dan ecomap. Hasil asesmen menunjukkan bahwa klien memiliki dukungan sosial yang cukup baik namun masih sangat tergantung secara ekonomi pada bantuan PKH, serta belum memiliki kemampuan manajemen keuangan yang memadai untuk mengembangkan usaha rumah tangganya.
Berdasarkan temuan tersebut, perencanaan intervensi disusun dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi melalui pelatihan pengelolaan keuangan rumah tangga dan penguatan motivasi diri. Klien diberi pelatihan penggunaan buku keuangan sederhana untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran harian, yang kemudian diikuti dengan pendampingan mingguan selama delapan minggu. Intervensi ini tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga melibatkan pendekatan psikososial melalui pemberian motivasi verbal yang konsisten untuk meningkatkan rasa percaya diri dan semangat kemandirian klien.
Evaluasi dilakukan secara berkala untuk mengukur pencapaian hasil, yang menunjukkan perkembangan positif terutama dalam konsistensi pencatatan keuangan serta munculnya inisiatif klien dalam mengatur keuangan dan merencanakan pengembangan usaha kecilnya. Tahap akhir dari praktik case work adalah terminasi, yang dilakukan secara bertahap dan suportif, disertai refleksi bersama dan penyusunan rencana keberlanjutan agar klien mampu melanjutkan proses pemberdayaan dirinya secara mandiri setelah hubungan profesional berakhir.
Studi kasus ini menunjukkan bahwa implementasi metode case work dalam praktik sosial tidak hanya efektif untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah personal, tetapi juga memberikan dampak psikologis dan sosial yang signifikan. Keterlibatan aktif klien, penguatan potensi yang dimiliki, serta dukungan sosial yang terintegrasi menjadi faktor kunci keberhasilan intervensi. Dengan demikian, pendekatan pekerjaan sosial yang berbasis relasi, empati, dan pemberdayaan terbukti relevan dalam menjawab tantangan kesejahteraan sosial, terutama bagi penerima program bantuan seperti PKH.
Sebagai penutup dari pengalaman praktikum ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Boy Iskandar Warongan, S.Sos., MSP selaku supervisor sekolah. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Dinas Sosial Kabupaten Humbang Hasundutan yang telah memberikan kesempatan dan ruang belajar yang sangat berarti. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan pelayanan sosial dan intervensi terhadap klien, saya memperoleh banyak pelajaran berharga tentang pentingnya empati, strategi pemberdayaan, serta peran pekerja sosial dalam membangun keberfungsian sosial masyarakat. Semoga pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi saya untuk berkontribusi secara nyata di bidang kesejahteraan sosial pada masa mendatang.