Sabtu, 02 Mei 2026

Efektivitas Managemen Pra-Bencana Dalam Mengurangi Resiko Banjir Rob di Belawan, Medan

Medan (utamanews.com)
Oleh: Putri Ramadani, Khoirul Bariyyah, Zayna Hayani, Haydi Suafisa, Sanreza Pallevi, Siti Anur Rambe, dan Siska Dindari Selasa, 07 Okt 2025 10:47
Banjir Rob di Medan Belawan
 Istimewa

Banjir Rob di Medan Belawan

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir artinya adalah kenaikan volume air yang menyebabkan daratan tergenang. Banjir adalah jenis bencana alam yang sering terjadi, yaitu sekitar 40% dari total bencana alam lainnya. Banjir bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti curah hujan tinggi, kemiringan lereng, aliran air dari sungai, serta faktor manusia seperti tidak menjaga lingkungan sekitar. Kecamatan Medan Belawan adalah salah satu dari 21 Kecamatan yang berada di bagian utara Kota Medan. Kecamatan ini memiliki luas sekitar 21,82 kilometer persegi dan berada pada ketinggian 3 meter di atas permukaan laut. Salah satu masalah yang sering terjadi di Kecamatan Medan Belawan adalah banjir pasang atau rob. Saat ini, daerah pesisir Kecamatan Medan Belawan sering mengalami banjir pasang yang disebabkan oleh air laut yang naik. Banjir rob adalah genangan air laut di bagian daratan yang berada di sekitar pantai, yang terjadi karena air laut pasang. Perubahan naik dan turunnya air laut akan memengaruhi tingkat genangan yang terjadi.

Di tengah meningkatnya kesadaran tentang pentingnya ketahanan terhadap perubahan iklim, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai dampak banjir rob di wilayah pesisir, terutama di Medan Belawan. Melalui pendekatan yang menyeluruh, yang mencakup pengumpulan dan analisis data, diharapkan hasil pemetaan ini dapat membantu dalam merencanakan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi dari banjir rob.

Manajemen pra-bencana merupakan serangkaian upaya sistematis yang dilakukan sebelum terjadinya bencana, dengan tujuan untuk meminimalkan potensi kerugian dan dampak yang ditimbulkan. Di Belawan, berbagai langkah telah dilakukan, seperti pembangunan tanggul laut, pengerukan saluran air, dan penyuluhan kepada masyarakat tentang tindakan tanggap darurat. Namun demikian, masih ditemukan kendala seperti kurangnya koordinasi antarinstansi, minimnya partisipasi warga, serta terbatasnya dana dan sumber daya manusia yang kompeten di bidang penanggulangan bencana Faktor sosial dan ekonomi juga mempengaruhi efektivitas manajemen pra-bencana. Banyak warga Belawan yang tinggal di kawasan padat dan kumuh, yang secara struktural rentan terhadap banjir, namun memiliki akses terbatas terhadap informasi dan fasilitas mitigasi. Selain itu, aktivitas industri dan pelabuhan di Belawan kadang berkontribusi pada degradasi lingkungan, yang memperparah risiko banjir. Oleh karena itu, upaya manajemen pra-bencana tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknis semata, melainkan harus melibatkan strategi pemberdayaan masyarakat dan penguatan kapasitas lokal.

Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-banjir rob di Belawan menjadi bagian penting dalam mengembalikan kondisi masyarakat dan infrastruktur yang terdampak. Namun, optimalisasi proses ini masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah ketergantungan masyarakat pada bantuan pemerintah, baik dalam bentuk logistik, perbaikan rumah, maupun dukungan modal usaha. Sayangnya, proses distribusi bantuan tersebut kerap tidak merata dan lambat, sehingga memicu kesenjangan serta ketidakpuasan di kalangan warga. Selain itu, minimnya pendataan dan dokumentasi kerusakan pasca-bencana juga menjadi hambatan serius.
Secara keseluruhan, optimalisasi proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Belawan membutuhkan pendekatan yang inklusif, terencana, dan berkelanjutan. Tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat agar lebih tangguh menghadapi bencana serupa di masa mendatang. Upaya ini sangat penting agar setiap peristiwa banjir rob tidak lagi menjadi siklus penderitaan yang terus berulang, melainkan momentum untuk membangun masa depan yang lebih adaptif dan aman bagi seluruh warga Belawan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan manajemen bencana yang holistik, yang tidak hanya fokus pada aspek teknis tetapi juga memperkuat kapasitas sosial dan ekonomi masyarakat. Penerapan prinsip build back better, kolaborasi multi-pihak, serta edukasi dan pemberdayaan masyarakat sangat penting untuk menciptakan ketahanan bencana yang berkelanjutan di wilayah Belawan.
Editor: Budi
Tag:
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️