Sebagai kewajiban akademis, Praktik Kerja Lapangan dirancang untuk memberikan mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU pemahaman langsung terhadap dinamika kerja sosial di masyarakat.
Vannya Tesalonika Panggabean merupakan mahasiswa semester 6 Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Dalam kegiatan Praktikum Kerja Lapangan (PKL), Vannya dibimbing oleh supervisor sekolah, Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos, M.Kesos, yang juga merupakan dosen pengampu mata kuliah PKL. Praktikum ini dilaksanakan selama kurang lebih tiga bulan, dimulai pada 10 Maret 2025 hingga 6 Juni 2025, dengan lokasi pelaksanaan di IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor) Bukit Doa, yang beralamat di Jl. Lapangan Golf No.120 B, 20353, Pancur Batu, Sumatera Utara.
Dalam pelaksanaan PKL, Vannya terlibat langsung dalam aktivitas rehabilitasi pecandu narkoba, sebuah proses yang tidak mudah dan penuh tantangan. Upaya untuk keluar dari jerat penyalahgunaan narkoba membutuhkan lebih dari sekadar pengobatan medis; motivasi diri memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan rehabilitasi.
Hal ini tercermin dalam pendekatan yang diterapkan di IPWL Bukit Doa, salah satu pusat rehabilitasi terkemuka di Sumatera Utara, yang menekankan pentingnya kekuatan dari dalam diri para klien. Menurut pengelola IPWL Bukit Doa, banyak pecandu yang datang dengan kondisi fisik dan mental yang lemah. Namun, perubahan mulai terlihat ketika mereka menemukan kembali harapan dan tekad untuk sembuh.
"Kami percaya bahwa keberhasilan rehabilitasi bukan hanya bergantung pada metode terapi yang kami berikan, tetapi terutama pada seberapa besar keinginan mereka sendiri untuk berubah," ujar salah satu konselor di IPWL Bukit Doa.
Melalui pendekatan berbasis motivasi diri ini, IPWL Bukit Doa tidak hanya memberikan terapi medis dan psikologis, tetapi juga membangun kembali semangat hidup klien untuk menata masa depan yang lebih baik.
Pada program ini metode yang diterapkan oleh penulis adalah metode pendekatan grup work yang memiliki tahapan-tahapan seperti berikut:
Tahap ini merupakan proses awal di mana dilakukan kesepakatan atau perjanjian kerja sama dengan pihak instansi. Pada tahap ini, penulis menyerahkan surat tugas resmi kepada instansi dan bertemu langsung dengan pimpinan yang nantinya akan berperan sebagai supervisor lapangan selama penulis menjalankan kegiatan praktik.
Tahap asesmen menjadi salah satu bagian penting dalam proses ini. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa berperan sebagai pendamping dengan melakukan observasi terhadap permasalahan yang dihadapi penerima manfaat. Pekerja sosial melakukan wawancara mendalam untuk menggali informasi seputar riwayat penyalahgunaan narkoba, jenis zat yang digunakan, durasi penggunaan, serta dampak yang ditimbulkan. Selain itu, dikumpulkan juga data pendukung lain seperti catatan medis, laporan kepolisian, informasi dari keluarga, serta berbagai dokumen lain yang relevan guna membentuk gambaran lengkap mengenai kondisi klien.
Pada tahap ini, pekerja sosial bersama klien menyusun rencana rehabilitasi secara komprehensif dan sistematis agar dapat diimplementasikan dengan efektif. Bersama klien, ditetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang untuk memberikan arah dan meningkatkan motivasi dalam proses pemulihan. Selain itu, dilakukan analisis kebutuhan yang meliputi aspek medis, psikologis, sosial, dan kebutuhan lainnya. Informasi ini menjadi dasar dalam penyusunan rencana aksi yang meliputi jenis layanan dan terapi yang dibutuhkan, jadwal pelaksanaan, pihak yang bertanggung jawab, serta indikator keberhasilan. Draft rencana tersebut kemudian dibahas bersama klien untuk memperoleh persetujuan akhir sebelum diimplementasikan.
Tahap ini merupakan pelaksanaan dari program rehabilitasi yang telah dirancang berdasarkan kebutuhan spesifik klien. Penulis mulai mengimplementasikan berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi diri klien agar mampu pulih dari ketergantungan narkoba.
Beberapa program yang dilaksanakan antara lain:
- Memberikan edukasi kepada klien tentang pentingnya motivasi diri dalam proses pemulihan dari ketergantungan narkoba.
- Menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan motivasi diri.
- Memberikan pemahaman bahwa motivasi diri merupakan kunci utama dalam keberhasilan rehabilitasi, di mana dorongan internal sangat penting untuk membangun semangat, keteguhan hati, dan tekad untuk sembuh total, kembali berfungsi di masyarakat, serta menjalani hidup yang lebih sehat dan normal.
Tahap evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana program intervensi motivasi diri telah dilaksanakan dan berhasil. Observasi dan wawancara dengan klien menjadi metode utama dalam mengevaluasi aspek-aspek seperti frekuensi pertemuan, tingkat kedisiplinan klien, kendala yang dihadapi selama pelaksanaan program, serta perubahan yang terjadi pada klien.
Tahap terminasi adalah saat di mana hubungan kerja atau kontrak dengan klien diakhiri. Pemutusan hubungan ini dilakukan setelah seluruh tujuan program tercapai dengan baik. Penulis mengakhiri hubungan profesional dengan klien berdasarkan hasil evaluasi yang menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan telah memberikan hasil sesuai harapan.