Bupati Masih Belum Peduli Nasib Kaum Nasrani Kisaran
ASAHAN (utamanews.com)
Jumat, 04 Okt 2013 10:46
marshall
Gereja dihimpit pasar kaget
Pimpinan tiga Gereja di Kisaran sampai saat ini belum memperoleh respon yang positif dari Muspida Asahan berkaitan dengan surat yang telah mereka layangkan perihal keresahan jemaat atas keberadaan pedagang pasar pagi di Jalan H. Misbah Kisaran yang nota bene jalan masuk ke lokasi tiga gereja yakni GBKP (Gereja Batak Karo Protestan), HKI (Huria Kristen Indonesia) dan GKI (Gereja Kristen Indonesia). Dimana setiap kali akan melaksanakan kebaktian jemaat harus berjuang untuk bisa masuk ke dalam gereja karena ratusan warga jemaat tertahan di simpang jalan-jalan masuk ke lokasi gereja.
Kerap terjadi pertengkaran kecil antara warga jemaat gereja dengan para pedagang karena insiden mobil mereka menabrak dagangan para penjual di depan gereja, sementara plang larangan untuk berjualan sudah dipasang oleh pengurus gereja namun tidak diindahkan. Jumlah pedagang semakin hari semakin banyak jumlahnya hingga sepanjang jalan H. Misbah tempat berdirinya tiga gereja besar di Kisaran sudah penuh dengan pedagang. Sementara lokasi itu peruntukannya bukan tempat berjualan atau pasar pagi sehingga timbul pertanyaan, apakah hal ini mungkin sengaja dibiarkan oleh Bupati Asahan ? Karena beberapa kali surat keberatan dan protes dari pimpinan tiga Gereja itu sudah dilayangkan kepada Muspida Asahan, Dinas Tata Kota, Satpol PP Pemkab Asahan. Mengapa tidak ada tindakan penertiban?
Ketika warga jemaat gereja berupaya melarang para pedagang yang berjualan di depan gereja, maka para pedagang kerap beralasan bahwa mereka juga membayar Restribusi ke Dinas Tata Kota dan menganggap hal itu sudah legal.
Visi Kabupaten Asahan, “Terwujudnya Asahan yang Religius, Sehat, Cerdas, dan Mandiri”
Sementara Visi Kabupaten Asahan yang dibuat oleh Taufan Gama Simatupang selaku Bupati Asahan adalah terwujudnya Asahan yang Religius, Sehat, Cerdas, dan Mandiri. Bagaimana mau Religius jika mau masuk ke rumah ibadah saja cukup sulit harus berjuang, dan bukan baru-baru ini saja kesulitan itu ada bahkan sudah hampir berjalan tiga tahun.
Seorang warga jamaat GBKP “yang enggan disebut namanya” menyatakan dengan nada kesal, “mungkin Bupati Asahan menunggu adanya korban jiwa baru para pedagang dipindah dari depan gereja ini, karena masalah suara burung walet (suara kaset burung walet di gedung bertingkat dekat gereja, red) juga belum selesai ini pedagang lagi menutupi jalan masuk ke gereja, kesabaran orang kan juga ada batasnya”.
Pimpinan Tiga Gereja itu Pdt. Ibrahim Barus S.Th, Pdt. TK Lumbantoruan S.Th dan Pdt. Yatos Nugroho S.Th berharap agar Muspida Asahan khususnya Bupati Asahan dapat memberikan perhatian dan perlindungan bagi warga Nasrani di Kabupaten Asahan agar dapat tenang dan nyaman dalam menjalankan ibadah di gerejanya masing-masing karena ibadah adalah jalan untuk menuju visi yang Religius sesuai dengan yang dicanangkan Bupati Asahan.
Karena bagaimana dapat beribadah dengan nyaman dan tenang jika hendak masuk ke gereja saja sudah mencium aroma pesing dan bau busuk dari penjual ikan disamping gereja, jalan masuk sudah tertutup, suasana kumuh, suara burung walet dari gedung-gedung bertingkat ketika beribadah, tempat parkir sudah ditempati pedagang kaki lima dan bahkan sering terjadi insiden kecil antara warga jemaat dengan pedagang untuk dapat masuk menuju gereja. Ini kan harus menjadi perhatian kita semua khususnya bagi aparat pemerintahan di Kabupaten Asahan ini termasuk Lurah Kisaran Barat, Camat Kisaran Barat, BAMAG Kabupaten Asahan, Dinas Tata Kota, Satpol PP dan lebih khusus lagi Bupati Asahan dan Muspida Kabupaten Asahan.
Karena kami yakin warga Nasrani Kabupaten Asahan mendukung sepenuhnya untuk mewujudkan Visi dan Misi Pemerintah Kabupaten Asahan demi tercapainya Pemerintahan yang baik dan bersih (Good Government and Clean Governance) serta pemerintahan yang amanah, berwibawa secara akuntabel dan transparan dengan berorientasi pada pelayanan prima untuk mendorong percepatan pembangunan. (Marshall)