Bukan hanya Pemerintah China (RRT) yang melarang rakyatnya mengakses Twitter, tapi juga pemerintah Arab Saudi. Kepala Polisi Agama Arab Saudi Syekh Abdul Latif Abdul Aziz al-Sheikh mengatakan bahwa pengguna twitter telah kehilangan pahala dunia dan akhirat. Padahal – nah, ini masalahnya – twitter kini semakin popular di Negara ultra konservatif tersebut.
Tampaknya, sama seperti di China, larangan twitter di Arab Saudi karena pemerintah Kerajaan Arab Saudi khawatir twitter jadi ajang diskusi politik, agama, serta berbagai masalah sensitive lainnya. Apalagi, seperti banyak dibicarakan media-media Barat, pemerintah Arab Saudi Khawatir Twitter bakal dipakai untuk membicarakan masalah Hak Asasi manusia (HAM) dan pengadilan terhadap kebebasan berbicara di sana.
Kabarnya, saat ini pemimpin sebuah situs yang vocal menyuarakan hak asasi manusia di Arab Saudi telah ditahan. Di samping itu, ada juga aktivis-aktivis lain yang didakwa melakukan kemurtadan dan kejahatan dalam situs tersebut.
Menurut Jonathan Turleym professor hukum George Washington University, larangan ini tampaknya malah akan mempersulit posisi pemerintah Arab Saudi. “Semakin pemerintah bersikap represif, justru public akan sadar bahwa media sosial adalah media untuk meningkatkan kekuatan bagi kebebasan berpendapat di seluruh dunia,” ujarnya.
Berbeda dengan Arab Saudi, China punya Weibo, social media ala China yang membuat rakyatnya tetap bisa berekspresi, walaupun tetap saja ada unsur sensorship. Tapi, seperti didapat dalam pembicaraan warta Ekonomi dengan beberapa petinggi Weibo di Beijing belum lama ini, metode sensorship-nya tidak terlalu mengganggu pengguna di sana. (we)