Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 7 Binjai, Khaidir Nasution, mengungkapkan apa yang menjadi pemicu para pelajarnya menggelar aksi unjukrasa pada Selasa (5/11) kemarin.
"Mulanya kami melakukan razia handphone murid, karena di handphone mereka gawat gawat kali. Jadi mereka marah karena razia itu," ujar Khaidir saat dikonfirmasi awak media, Rabu (6/11).
Diakui Khaidir, dalam razia tersebut, pihaknya menemukan video asusila di beberapa handphone milik pelajar SMAN 7 Binjai. Bahkan, ditemukan juga saling tukar foto bugil, siswa yang tergabung geng motor dan judi online.
"Jadi ditunjukkan sama polisi yang hadir semalam," ungkap Khaidir.
Namun saat diminta awak media untuk menunjukkan beberapa buktinya, Khaidir tidak mau menunjukkannya dengan alasan privasi meskipun wartawan sudah mengatakan jika dokumentasi itu bukan untuk disebarluaskan, apalagi di publikasi.
"Karena ada privasi, jadi tidak bisa kami kasih tau. Tapi sudah kami kasih tau ke pihak kepolisian," ujarnya.
Kepala Sekolah SMAN 7 Binjai ini juga mengaku jika orangtua murid tidak ada yang merasa keberatan dan malah mengucapkan terimakasih atas kegiatan razia tersebut.
Pada kesempatan itu, Khaidir juga menyinggung soal masalah dana Program Indonesia Pintar (PIP) yang disebut sebut dalam tuntutan pelajar pada aksi unjukrasa tersebut.
"Siapa yang berani mengguit. Katanya ada kena administrasi Rp 50 ribu. Jadi ada anggota yang jahat yang awak tak tau mengutip Rp 50 ribu ke murid," kata Khaidir.
Artinya, sebut Khaidir, ada anggotanya yang melakukan aksi pengutipan liar (Pungli).
Namun, di tengah tengah sesi wawancara, tiba tiba beberapa orang dengan mengenakan pakaian dinas Pemprovsu berwarna putih, tampak nyelonong menjumpai Khaidir, sehingga wawancara yang dilakukan pun terputus.
Padahal, secara etika seharusnya Khaidir menyeselaikan wawancara dengan awak media, baru setelahnya berjumpa dengan orang lain. Alhasil, para awak media pun kecewa dan meninggalkan Khaidir.
"Nanti kita jumpa ya," ucap Khaidir kepada awak media yang bergegas meninggalkan lokasi.
Pantauan awak media di SMAN 7 Binjai, tampak dengan jelas beberapa fasilitas yang sudah rusak. Rusaknya fasilitas ini juga menjadi tuntutan para pelajar yang menggelar aksi unjukrasa.
Sedangkan di lapangan futsal terlihat lantainya sudah rusak serta jaring gawang yang sudah tidak terpasang.
Begitu juga dengan lapangan Voli mengalami hal serupa. Terlihat jaring net yang terpasang juga sudah rusak. Bahkan ruangan agama kristen tampak atapnya sudah bocor.
Diketahui, sebelumya para pelajar SMA Negeri 7 Binjai melampiaskan kekesalannya dengan cara menggelar aksi unjukrasa di sekolahnya yang beralamat di Jalan Sawi, Kelurahan Payaroba, Kecamatan Binjai Barat, Selasa (5/11).
Aksi mereka pun viral di media sosial (medsos). Dalam video yang beredar, tampak sejumlah pelajar berkumpul di depan salah satu ruangan yang ada di SMA Negeri 7 Binjai.
Ruangan tersebut disebut sebut merupakan ruang Kepala Sekolah SMAN 7 Binjai, Khaidir Nasution.
"Mana suara kita," ujar seorang pelajar disambut teriakan oleh teman temannya.
"Keluarkan dia dari kantor," teriak pelajar lainnya.
Pun begitu, tidak begitu jelas siapa orang yang dimaksud untuk keluar dari dari kantor atau salah satu ruangan yang dimaksud.
"Uang SPP naik tanpa ada penjelasan. Bahkan sering ada pengutipan tambahan setiap ada kegiatan. Belum lagi bantuan dari Pemerintah yang tidak jelas kemana uangnya. Lihatlah, fasilitas sekolah pun banyak yang rusak," ungkap beberapa pelajar lainnya yang mengaku duduk di Kelas XI.
Menurut informasi yang berhasil dirangkum awak media, aksi unjukrasa yang dilakukan tersebut karena para pelajar SMAN 7 Binjai menilai jika sekolah kebanggan mereka belakangan ini kurang kondusif. Bahkan beberapa fasilitas sekolah dinilai tidak ada kemajuan dari tahun ke tahun.
"Di angkatan 2022, SPP-nya hanya 30 ribu. Tapi untuk yang tahun pelajaran 2023 dan 2024, naik menjadi 50 ribu," ujar para pelajar.
"Yang kami tau, uang SPP adalah salah satu uang sumbangan, karena uang itu bisa digunakan untuk kegiatan," sambung para pelajar.
Para pelajar juga mengatakan, belum lagi uang bantuan yang sampai saat ini belum cair, untuk mereka yang membutuhkan.
"Lapangan futsal rusak, tapi tidak diperbaiki. Begitu juga dengan bangku dan meja belajar yang rusak dan tidak diperbaiki," ucap mereka dengan nada kesal.
Kepala Sekolah SMAN 7 Binjai, Khaidir Nasution, saat dikonfirmasi, enggan berkomentar dan memilih bungkam.
Sementara itu, beberapa personil kepolisian juga tampak melakukan penjagaan di dekat ruangan tersebut.