Pantun ini seakan menjadi pemicu berbagai elemen pemuda yang memiliki keresahan akan kehilangan identitas budaya Melayu yang semakin tergerus oleh perkembangan zaman.
Melihat Kondisi Kekinian, kuat tegaknya suatu bangsa dan negara tidak terlepas dari besarnya budaya bangsa tersebut. Oleh karena itu pemuda-pemudi Tanjung Pura Kabupaten Langkat merasa dibutuhkannya sebuah komunitas yang menyangkut persoalan budaya khususnya Budaya Melayu.
Budaya yang telah terbentuk sejak lama akan masuk dan mengakar di dalam kehidupan manusia, sehingga tanpa kita sadari budaya ini telah mempengaruhi kehidupan manusia dari zaman ke zaman masa demi masa.
Berangkat dari diskusi rutin yang kerap dilakukan, sekumpulan pemuda dari berbagai lintas organsasi dan komunitas di Kecamatan Tanjung Pura melaksanakan deklarasi pembentukan Komunitas Tanjak Langkat di Tanjung Coffe yang berada di jalan Amir Hamzah Kelurahan Pekan Tanjung Pura, Sabtu, 10 September 2022.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Muhammad Nawawi sekaligus sebagai Camat Kecamatan Tanjung Pura.
Dalam pemaparannya, komunitas ini diharapkan sebagai wadah dalam mempopulerkan kebiasaan bertanjak sebagai identitas yang melekat di kota Tanjung Pura dan Kabupaten Langkat pada umumnya.
Beliau menyampaikan pengertian tanjak, dan berbagai macam kriteria tanjak serta fungsi dan kegunaanya. Secara filosofis ia menyampaikan Bertanjak merupakan akronim dari Berprestasi, Energik, religius, tangguh, amanah, nasionalisme, jujur, aktif dan kreatif.
Berbagai reaksi dan tanggapan hadir di dalam diskusi tersebut. Ayahanda Mat Sis memberikan apresiasi terhadap konsep yang dijabarkan dalam diskusi serta beliau menyarankan untuk terus dilakukan secara aktif di berbagai segmen kehidupan sosial.
Di awal kegiatan, Kang Benu dari aktifis pemuda Tanjung Pura yang konsen dan fokus pada konservasi lingkungan menyampaikan tujuan dan target yang akan dicapai dari kegiatan ini.
Turut hadir di tempat yang sama, Syam Firdaus Jafba DPP GMNI Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, menyampaikan setidaknya ada dua elemen pendukung pergerakan dalam hal pelestarian budaya, yakni peranan Pemerintah untuk menfasilitasi aktivitas kebudayaan tersebut, dan infrastruktur untuk menunjang kreativitas, produktivitas kebudayaan seperti misalnya keberadaan sanggar, galeri kebudayaan, situs sejarah dan hal lainnya yang berkaitan, sehingga kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan konsep yang dibangun, dan harapannya tiap-tiap generasi dapat memahami Budaya dan Kultur yang melekat pada dirinya sebagai anak bangsa.
Di akhir kegiatan, dibacakan deklarasi pembentukan Komunitas Tanjak Langkat serta disusul dengan penandatanganan naskah deklarasi.
Selanjutnya terbentuklah struktur pengurus Komunitas ini. Muhammad Nawawi sebagai Wali Utama, Ibnu Hajar sebagai Wali Litbang (Penelitian dan Pengembangan) dan Erwin Syahputra Sebagai Wali Aksi Akselerasi.