Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn didampingi Ketua TP PKK Ny Liswati Sinaga serta Forkopimda Plus Kota Pematangsiantar menghadiri dan mengikuti Haul Raja Sang Naualuh Damanik XIV yang ke 112, pertama kali digelar di Masjid Raya, Jalan Masjid, Kelurahan Timbang Galung, Kecamatan Siantar Barat. Kamis (23/04/2026).
Sebelum acara Haul dimulai, Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn dan Tuan Difi Sang Nuan Damanik saling bercengkrama dan berbincang akrab.
Dalam kegiatan tersebut juga hadir narasumber akademisi yang memaparkan sejarah Raja Sang Naualuh Damanik XIV yakni Drs Shohibul Anshor Siregar MSi.
Tampak hadir juga Pengurus BKM Masjid Raya Prof Dr Ir Harmein Nasution MSIE, Wakil Wali Kota Pematangsiantar Herlina, Kapolres Pematangsiantar AKBP Sah Udur TM Sitinjak, Dandim 0207/SML Letkol Inf Gede Agus Dian Pringgana, KPw BI Pematangsiantar Ahmadi Rahman, Ketua Yayasan Raja Sang Naualuh Damanik Evra Sassky Damanik, Perwakilan Denpom 1/I Pematangsiantar, Perwakilan Kajari Pematangsiantar, Ketua DMI Pematangsiantar, Pimpinan Organisasi Islam se Kota Pematangsiantar, Para OPD, Para Camat serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn mengatakan bahwa Peringatan haul ini bukan sekadar mengenang wafatnya seorang tokoh, tetapi menjadi momentum penting bagi kita untuk meneladani nilai-nilai perjuangan, kepemimpinan, serta pengabdian yang telah ditunjukkan oleh Raja Sang Naualuh Damanik dalam sejarah kota pematangsiantar.
“Beliau merupakan sosok pemimpin yang tidak hanya dikenal karena keberanian dan kebijaksanaannya, tetapi juga karena komitmennya dalam menjaga persatuan, nilai-nilai adat, serta keharmonisan di tengah masyarakat. Semangat inilah yang sepatutnya kita warisi dan kita implementasikan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini,” katanya.
Setiap tahun, kata Wesly Silalahi, Haul Raja Sang Naualuh Damanik terus dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan tokoh-tokoh yang telah berjasa bagi daerah ini, sebagai bagian dari rangkaian HUT Kota Pematangsiantar ke-155.
“Kegiatan ini mengingatkan kita bahwa perjalanan panjang kota ini tidak terlepas dari jasa para pendahulu yang telah meletakkan dasar-dasar pembangunan, persatuan, dan kebersamaan. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melanjutkan perjuangan tersebut dengan semangat yang sama, bahkan lebih baik lagi,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, Wali Kota Wesly Silalahi mengajak kita semua, khususnya generasi muda, untuk terus menggali dan memahami sejarah serta kearifan lokal yang kita miliki. Dengan demikian, kita dapat memperkuat jati diri sebagai masyarakat pematangsiantar yang berbudaya, berkarakter, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.
Sementara itu, Ahli Waris Raja Sang Naualuh Damanik, Tuan Difi Sang Nuan Damanik memaparkan, buyutnya tersebut memiliki empat istri. Istri terakhir, boru Saragih dari Silampuyang menjadi permaisuri. Dari istri terakhirnya itu, lahirlah Sarmahata Damanik.
Selanjutnya, Sarmahata Damanik memiliki tujuh anak. Putra Sulungnya, Syah Alam Damanik. Syah Alam Damanik merupakan prajurit TNI Angkatan Udara (AU) dengan pangkat terakhir Marsekal Muda. Dari pernikahannya dengan Halimah br Sinaga, Syah Alam Damanik memiliki tiga anak, yaitu 2 perempuan 1 laki-laki. Anak yang laki-laki yaitu Difi Sang Nuan Damanik.
“Saya punya kakak dan seorang adik, saya ini kalau dikatakan cicit dari Raja Sang Naualuh Damanik XIV,” kata Difi.
Tuan Difi Sang Nuan Damanik menyampaikan bahwa ini kali pertama Haul dilaksanakan di Masjid Raya.
“Saya sendiri baru mendengar dari pengurus masjid bahwa tanah Masjid Raya adalah tanah yang diwakafkan oleh kakek buyut saya, saya itu cicit dari kakek buyut saya Raja Sang Naualuh Damanik XIV, anaknya dari Raja Sang Naualuh Damanik XIV adalah oppung saya dari permaisuri,” katanya.
Ia juga mengatakan bahwa akhir-akhir ini mempelajari silsilah dan profil sejarah bahwa Raja Sang Naualuh Damanik XIV telah mewakafkan tanahnya untuk mendirikan Masjid Raya Kota Pematangsiantar.
“Mudah-mudahan amal jariyah mengalir terus kepada Raja Sang Naualuh Damanik XIV. Jadi saya bangga sebagai cicit, bahwa beliau fokus juga terhadap masyarakat muslim di Pematangsiantar dan saya tahu, Raja Sang Naualuh Damanik XIV juga tidak hanya memperhatikan masyarakat muslim tetapi ada juga dia berikan tanah kepada masyarakat nasrani dan umat lainnya. Dan itu yang menyebabkan siantar itu melekat sebagai Kota Toleransi,” katanya.
Tadi saya berbincang, lanjutnya, dengan Wali Kota Wesly Silalahi bahwa Kota Pematangsiantar mendapat peringkat ke-4 se Indonesia untuk Kota Toleransi.
“Selamat ya bapak Wali Kota, dan ini mudah-mudahan dapat dipertahankan terus kedepannya. Saya juga terus belajar, saya baru mengetahui dan saya senang sekali, Haul perdana di Masjid Raya ini dapat dilanjutkan untuk tahun-tahun berikutnya. Kita bisa diskusi, dan menggali lebih lanjut tentang suri keteledanan Raja Sang Naualuh Damanik XIV,” katanya.
Malam ini ia berbahagia bisa hadir dalam Haul Oppung Buyut Raja Sang Naualuh Damanik XIV.
“Mudah-mudahan, doa-doa kita sampai dan melapangankan beliau di akhirat. Dan amal baiknya mengalir terus,” tukasnya.
BKM Masjid Raya Prof Dr Ir Harmein Nasution MSIE mengucapkan ucapkan terima kasih kepada Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi, serta seluruh pimpinan OPD serta Pimpinan TNI Polri serta Perbankan baik BI Pematangsiantar dan Bank Sumut telah hadir pada Haul Raja Sang Naualuh Damanik.
“Pada Haul itu kita memperingati wafatnya, itulah makna Haul itu, kita peringati karna merasa memberikan dampak yang begitu besar kepada kehidupan bermasyarakat. Sekali lagi terima kasih kepada bapak Wali Kota Pematangsaintar yang telah memperingati haul di Masjid Raya,” ucapnya.
Pada tahun 1906, Harmein Nasution menjelaskan bahwa tanah Masjid Raya ini diwakafkan oleh Raja Sang Naualuh Damanik kepada masyarakat, khususnya ditempatkan di kampung Timbang Galung yang diterima oleh Tokoh Masyarakat pada saat itu diwakili Tuan Syech H Abdul Jabbar Nasution dan Pangulu Hamzah Daulay.
“Dibangun pada tahun 1906, digunakan untuk shalat jum’at pada Tahun 1911, ini 7 masjid yang bersejarah di Indonesia. Karna ini salah satu langsung terlibat Raja Sang Naualuh Damanik yang membangunnnya. Berdirinya Masjid Raya yang ada di Sultan Deli pada tahun 1906, jangan-jangan mereka berkoordinasi pada waktu itu. Mudah-mudahan, dengan pertemuan kita malam ini memperingati Haul Raja Sang Naualuh Damanik memberikan hikmah,” ucapnya.
Ia juga menegaskan agar jangan main-main dengan Raja Sang Naualuh Damanik serta perlu kita lestarikan, perlu kita membuat buku, buku kepemimpinan Raja Sang Naualuh Damanik kemudian jadi bahan ajar untuk sekolah-sekolah di Pematangsiantar dan Simalungun.
“Jadi pada kesempatan ini, mari kita kaji kembali, jiwa kepemimpinan, Intangible Asset, sehingga siantar ini memiliki wisata religius. Trend kedepan adalah wisata yang Authentic dan Genuine, inilah kedepannya harus dirawat oleh Pemko Pematangsiantar. Seperti semboyan kita, sapangambei manoktok hitei, bergotong royong untuk tujuan yang mulia,” jelasnya.
Ia juga mengatakan bahwa dirinya merupakan Cucu dari Syech Abdul Jabbar Nasution.