Sabtu, 02 Mei 2026
Dari Kawan Jadi Lawan? Soekarno, Hatta, dan Politik yang Memisahkan

Dwitunggal: Soekarno & Hatta dalam Perjuangan Kemerdekaan

Medan (utamanews.com)
Oleh: Dito Kamis, 20 Mar 2025 00:19
Ilustrasi
 Istimewa

Ilustrasi

Dalam hidup, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah. Namun, bagaimana jika perbedaan itu terjadi di antara dua tokoh besar yang membentuk sejarah bangsa? Soekarno dan Hatta adalah contoh nyata bahwa perbedaan bisa membawa perdebatan, tetapi juga keputusan yang menentukan nasib Indonesia.  

Mengutip cerita Soekarno dan Hatta dalam konteks perjuangan dalam membangun bangsa Indonesia. Dwitunggal yang terpisahkan oleh politik namun tetap bersahabat.  

Masyarakat melihat kedekatan Soekarno dan Hatta, tetapi di balik itu, mereka sering kali berbeda pandangan politik. Awal mula pertemuan mereka juga sudah terlihat banyak sekali perbedaan dalam memandang cara memerdekan bangsa Indonesia. Di dalam buku biografinya yang berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat,” Soekarno pun mengakui bahwa perbedaan pandangan kerap muncul antara dia dan Hatta.  

“Pada tahun 1920an, antara kami telah terdapat keretakan ketika aku menjadi eksponen utama dengan pendirian bahwa nonkoperasi, sedang dia (Hatta), sebagai eksponen utama dengan pendirian bahwa kerja sama dengan pemerintah (Belanda) tidak menjadi halangan untuk mencapai tujuan,” tutur Bung Karno dalam bukunya.

Beda Jalan: Demokrasi Parlementer vs Demokrasi Terpimpin

Zaman itu, kedua tokoh ini terkenal dengan PNI-nya. Bung Karno merupakan pimpinan utama dari Partai Nasional Indonesia sedangkan Bung Hatta adalah pimpinan utama dari PNI-Baru (Partai Pendidikan Nasional Indonesia). Kedua partai itu memiliki cara yang berbeda dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Soekarno dengan Partai Nasional Indonesia berupaya memperjuangkan kemerdekaan dengan mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya. Sedangkan Hatta dengan Partai Pendidikan Nasional Indonesia memperjuangkan kemerdekaan dengan mendidik para kadernya agar memiliki kesadaran kewarganegaraan yang kuat sehingga mampu memperjuangkan hak-hak sipilnya tanpa pengaruh tokoh manapun.  

Sejak pertemuan pertama keduanya berlangsung, perdebatan antara cara politik Partai Nasional Indonesia besutan Bung Karno dengan Pendidikan Nasional Indonesia bentukan Bung Hatta pun tak terelakkan. Hatta mengkritik PNI Soekarno yang bertumpu pada ketokohan perorangan. Akibatnya, ketika Soekarno dipenjara, pergerakan PNI pun ikut terhenti.  

produk kecantikan untuk pria wanita
Sedangkan Soekarno mengkritik PNI Hatta yang menurutnya utopis untuk mencapai cita-cita kemerdekaan karena tak banyak bersentuhan dengan massa rakyat. “Mendidik rakyat supaya cerdas akan memerlukan waktu bertahun-tahun Bung Hatta. Jalan yang Bung tempuh baru akan tercapai kalau hari sudah kiamat,” kata Soekarno mengomentari cara pergerakan PNI-Baru Hatta. Meski keduanya kerap tak sependapat, Hatta mampu mengesampingkan ego pribadinya demi kepentingan bersama.  

Pandangan Hatta mendukung demokrasi parlementer. Ia percaya bahwa sistem ini memungkinkan perwakilan rakyat melalui partai politik dan memberikan ruang bagi kebebasan berpendapat serta partisipasi masyarakat dalam pemerintahan. Hatta menekankan pentingnya kedaulatan rakyat sebagai inti dari demokrasi, dengan harapan bahwa setiap suara rakyat dapat terwakili secara adil dalam pengambilan keputusan politik.  

Namun, sebaliknya, dengan ketokohan Soekarno yang keras dan otoriternya, dianggapnya demokrasi terpimpin lebih sesuai dengan karakter dan kondisi masyarakat Indonesia. Ia berpendapat bahwa demokrasi parlementer, yang diadopsi setelah kemerdekaan, tidak cocok karena seringkali menyebabkan ketidakstabilan politik. Dalam pandangannya, sistem ini tidak mencerminkan kebutuhan rakyat dan lebih banyak melayani kepentingan elit politik dan kapitalis. Soekarno menganggap bahwa demokrasi harus berdasarkan pada musyawarah dan mufakat, bukan pada perdebatan yang berpotensi memecah belah bangsa.


iklan peninggi badan
Retaknya Dwitunggal: Pengunduran Diri Hatta dari Wakil Presiden

Bagaimana jika kedua tokoh ini saling keras kepala dengan ideologi-nya masing-masing? Apa tidak bubar bangsa Indonesia pada waktu itu, dan mungkin proklamasi tidak akan kita dengar, namun dermawannya seorang tokoh dapat kita lihat dari seberapa cermat dia melihat ke depan, bukan hanya hari ini. Hatta bisa saja menggebu-gebu ingin membuat bangsa ini menjadi demokrasi parlementer, tapi apa gunanya jika bangsa ini terbelah menjadi dua? Mungkin itulah di benaknya waktu itu.  

Jika kita balik pada hari ini, seberapa banyak dari kita masih mementingkan kepentingan yang sebenarnya hanya menguntungkan dirinya sendiri, mengedepankan egosentris untuknya, luput dari kepentingan bersama. Hari ini kita rujuk dua tokoh di atas, Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden karena sudah tidak sejalan dengan Bung Karno, artinya egosentris yang begitu dominan tidak menutup kemungkinan memecah persahabatan dan hubungan baik antara kita dengan manusia lainnya. Tentu ketika Hatta mengundurkan diri, Bung Karno tidak diam, membujuk Hatta agar tetap dalam pemerintahan, namun rasa kecewa sudah menyelimuti tubuhnya. Hatta tetap dengan pendiriannya dan akhirnya resmi mengundurkan diri.  

Hubungan mereka berdua mulai renggang, sementara itu Hatta memilih fokus pada akademik serta terus mengkritik kebijakan politik Soekarno pada saat itu. Walaupun hubungan mereka renggang ketika Soekarno jatuh dari kekuasaan pada 1967 dan kesehatannya memburuk, Hatta tetap menunjukkan rasa hormatnya sebagai sahabat lama. Ia bahkan menghadiri pemakaman Soekarno pada 1970.  

Kisah Soekarno dan Hatta mengajarkan kita bahwa setiap keputusan membawa konsekuensi. Entah itu perpisahan, perbedaan, atau bahkan kehilangan. Namun, sejarah mencatat bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadapi perbedaan dengan kebijaksanaan.
Editor: Budi
Tag:
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️