Komitmen nyata untuk menciptakan lingkungan akademik yang bebas dari kekerasan seksual (KS) kembali digaungkan oleh mahasiswa. Di bawah kepemimpinan Ketua Komisariat Alfu Hidayatullah, Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Riau sukses menyelenggarakan Diskusi Publik bertajuk RESPONS di Coffee Radja, Pekanbaru, pada Jumat (22/5/2026) malam.
Langkah taktis PMII UNRI ini patut diacungi jempol. Pasalnya, acara edukasi berskala besar ini tetap berjalan khidmat meski wilayah Sumatra tengah dilanda pemadaman listrik massal (blackout). Antisipasi cepat dari panitia bersama penyedia tempat yang menyediakan genset, memastikan forum pergerakan ini tidak terhenti oleh kendala teknis.
Sebagai inisiator kegiatan, Ketua Komisariat PMII UNRI, Alfu Hidayatullah, mengungkapkan bahwa forum ini lahir dari keresahan bersama akan pentingnya tindakan nyata, bukan sekadar teori di atas kertas.
"Nama RESPONS merupakan singkatan dari Ruang Edukasi dan Sinergi Penanganan Kekerasan Seksual. Acara ini sengaja kami gagas karena kami melihat butuhnya respons cepat dan wadah untuk menyamakan persepsi antara mahasiswa, Satgas kampus, dan praktisi hukum. Kami ingin penanganan kekerasan seksual di kampus tidak hanya sebatas regulasi, tetapi terwujud melalui edukasi dan sinergi yang nyata," tegas Alfu di hadapan ratusan peserta.
Berkat kelancaran antisipasi teknis tersebut, tiga narasumber ahli yang diundang dapat membedah isu ini secara komprehensif. Ketua Satgas PPKPT Universitas Riau, Dr. Separen, M.H., dalam pemaparannya menegaskan komitmen lembaganya dalam menjamin kerahasiaan identitas korban dan memastikan sistem pelaporan berjalan sesuai amanat Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).
Selanjutnya, Advokat sekaligus Ketua KOPRI PKC PMII Riau, Utari Nelviandi, S.H., M.H., menyoroti penanganan kasus dari sisi perlindungan perempuan. Ia membedah instrumen advokasi untuk mencegah terjadinya trauma berulang (reviktimisasi) pada penyintas selama proses hukum dan pendampingan psikologis berlangsung.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa BEM UNRI, Muhammad Azhari, memandang isu ini dari kacamata pergerakan eksekutif mahasiswa. Ia mengajak seluruh elemen kelembagaan mahasiswa untuk berani menjadi garda terdepan sebagai ruang aman pertama bagi korban, sekaligus memotori kampanye anti-KS di tingkat fakultas dan jurusan.
Keberanian Alfu Hidayatullah beserta jajaran panitia dalam mengeksekusi forum ini mendapat apresiasi langsung dari pihak birokrasi kampus. Dr. Separen mengakui bahwa inisiatif mahasiswa sangat dibutuhkan oleh Satgas.
“Saya juga mengapresiasi kegiatan ini, karena sepertinya belum ada yang membuat forum diskusi seputar KS di level internal kampus maupun eksternal semenjak kasus di UNRI,” ujar Dr. Separen.
Tak hanya itu, Pengurus Cabang (PC) PMII Kota Pekanbaru yang hadir di lokasi turut memberikan pujian atas soliditas tim PMII UNRI yang mampu menyiapkan segala kebutuhan acara dalam waktu yang sangat singkat. “Ini luar biasa, PMII UNRI mampu menyiapkan acara ini hanya dalam waktu tiga hari,” ungkapnya.
Acara yang dihadiri oleh delegasi BEM, himpunan mahasiswa, dan kader PMII se-Pekanbaru ini ditutup secara emosional. Dikomandoi langsung oleh Alfu Hidayatullah, seluruh peserta yang hadir mengucapkan pernyataan sikap bersama, berkomitmen penuh untuk melawan segala bentuk predator seksual dan menjaga ruang aman di Universitas Riau.