Minggu, 28 Feb 2021 14:29
  • Home
  • Ragam
  • Efek Sabu Selain Membuat kecanduan, Merusak Otak Hingga Jantung

Efek Sabu Selain Membuat kecanduan, Merusak Otak Hingga Jantung

Labuhanbatu (utamanews.com)
Oleh: Junaidi
Rabu, 20 Jan 2021 18:10
Istimewa
Penemuan metamfetamina berawal pada tahun 1871, ketika seorang ahli farmasi Jepang bernama Nagai Nagayoshi yang sedang melakukan riset di Universitas Humboldt, Berlin. Nagoyashi berhasil mengisolasi senyawa efedrina yang berfungsi sebagai stimulan dari tumbuhan Cina, Ephedra sinica.

Metamfetamina (metilamfetamina atau desoksiefedrin), disingkat met, dan dikenal di Indonesia sebagai sabu-sabu, adalah obat psikostimulansia dan simpatomimetik. Obat ini dipergunakan untuk kasus parah gangguan hiperaktivitas kekurangan perhatian atau narkolepsi dengan nama dagang Desoxyn, tetapi juga disalahgunakan sebagai narkotika. "Crystal meth" adalah bentuk kristal dari metamfetamina yang dapat dihisap lewat pipa.

"Efek Sabu selain menyebabkan ketergantungan dan gangguan psikologis serta dapat menyebabkan kerusakan pada otak, jantung hingga menyebabkan kematian."

Dirangkum dari beberapa sumber oleh awak media ini, Rabu (20/01/2021), Efek sabu yang membuat orang kecanduan. Sabu, yang juga dikenal dengan nama methamphetamine, merupakan salah satu jenis narkotika dan obat berbahaya (Narkoba) yang dapat mempengaruhi sistem saraf.


Obat ilegal ini, berwarna putih, terasa pahit, tidak berbau, dan dapat larut dalam air. Efek sabu dapat berupa sensasi menyenangkan, karena obat ini bertindak sebagai stimulan, yang membuat banyak pemakainya menjadi kecanduan.

Selain itu, sabu juga dapat membuat penggunanya lebih aktif berbicara, memunculkan perasaan kuat pada diri sendiri, serta menurunkan nafsu makan. Efek tersebut dapat terjadi, karena sabu mendorong produksi hormon dopamin, senyawa kimia tubuh yang berkaitan dengan motivasi, kesenangan, serta fungsi motorik tubuh manusia.

Walau memberikan sensasi "rush" dan menyenangkan, sabu memiliki dampak yang sangat mengerikan. Efek sabu dapat berupa kerusakan sistem saraf, dengan membahayakan reseptor dopamin dan serotonin.

Tidak hanya di otak, sabu juga dapat menimbulkan gangguan medis, termasuk masalah pada jantung serta mulut. Berikut ini berbagai efek sabu yang bisa menyebabkan masalah serius pada tubuh.

Kerusakan otak akibat mengkonsumsi Sabu, Penggunaan sabu yang berulangkali dan jangka panjang dapat mengubah struktur otak. perubahan struktur ini, dapat memicu munculnya gangguan koordinasi, kesulitan memahami sesuatu, serta masalah bicara. sistem pertahanan dalam otak pengguna sabu juga akan menyerang sel-sel sehat di organ tersebut.


Pengguna sabu secara berlebihan berisiko untuk menderita penyakit Parkinson. Selain itu, penggunaan sabu dalam jangka panjang juga dapat memicu kondisi stroke, karena sabu membuat pembuluh darah mengeras.

Disamping itu penggunaan sabu akan mengalami masalah jantung. Ada beberapa gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat timbul, sebagai efek sabu. Gangguan tersebut dapat berupa kejang pada pembuluh darah, detak jantung yang menjadi cepat, matinya jaringan otot, serta terbentuknya jaringan parut pada organ jantung.

Berikut ini beberapa masalah lain pada jantung, jika seseorang berulang kali mengonsumsi sabu, Tekanan darah tinggi, Nyeri di bagian dada dan kesulitan bernafas, Serangan jantung, Robek atau pecahnya lapisan pembuluh darah besar pada jantung (diseksi aorta), penyakit jantung koroner, Penyakit kordiomiopati, atau kelainan pada otot jantung yang mengakibatkan jantung kesulitan memompa darah ketubuh.

Dari segi hukum yang berlaku di negara kesatuan republik indonesia, setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan narkotika dipidana sebagaimana yang tertuang di undang-undang narkotika nomor 35 tahun 2009.

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan Narkotika yang ada dalam lampiran UU 35 tahun 2009 tentang Narkotika.
Editor: Budi

T#g:Narkotika
Berita Terkait
Komentar Pembaca

Copyright © 2013 - 2021 https://utamanews.com. All Rights Reserved.

Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Disclaimer

Iklan

Karir

RSS

Kontak