Pada kesempatan ini, Najla Yasmin sebagai mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara melakukan praktikum kerja lapangan di Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. Dalam menjalankan praktikum pekerja sosial, ia membuat program therapeutic groupwork yang berkolaborasi dengan Komunitas Centra Mitra Remaja, yang merupakan bagian dari program PKBI SUMUT.
Therapeutic groupwork merupakan salah satu metode intervensi pekerja sosial yang bertujuan untuk membantu klien agar dapat memperbaiki atau mengatasi masalah yang dihadapi melalui kelompok (groupwork). Secara global, diperkirakan satu dari tujuh (14%) anak usia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, namun sayangnya hal ini masih belum disadari dan diobati (WHO, 2022). Maka dari itu, tema dari therapeutic groupwork ini ialah Losing Them Doesn’t Make Us Lose, dengan harapan terapi ini membuat mereka dapat memaknai kehilangan dan menerimanya sebagai daur alami kehidupan. Tidak hanya itu, groupwork dilakukan agar mereka tidak merasa terisolasi dengan pengalaman yang mereka hadapi.
Therapeutic groupwork melibatkan 4 orang klien, praktikan, konselor, dan relawan CMR. Kegiatan ini dilakukan pada bulan Mei dan Juni 2025 dengan total 3 kali pertemuan.
Terapi ini diawali dengan tahapan assessment menggunakan alat social life road, di mana setiap klien diarahkan untuk menggambar dan menjelaskan secara bergantian. Setelah itu, praktikan melakukan plan of intervention, yaitu therapeutic groupwork akan hadir dengan pendekatan terapi psikoanalisis menggunakan teknik talking cure. Teknik talking cure adalah teknik terapi awal yang diciptakan oleh Freud dan Breuer, di mana klien dibina hubungan baik dengan ahli profesional (pekerja sosial, psikolog, dokter) untuk kemudian bercerita tentang pengalaman masa lalunya.
Kemudian, praktikan melakukan intervention bersama Direktur PKBI SUMUT yang memiliki pengalaman sebagai konselor untuk memberikan kesempatan kepada klien bercerita. Konselor, praktikan, dan klien diperbolehkan menanggapi cerita yang dibagikan. Selanjutnya dilakukan monitoring untuk melihat perubahan dalam diri klien. Setelah itu, kami melakukan evaluasi terkait intervensi yang sudah dilakukan.
Klien sangat senang mengikuti therapeutic groupwork. Inisial KH mengatakan, “Aku sangat bersyukur dengan mengikuti kegiatan ini karena dengan ini aku bisa mendengarkan cerita-cerita orang lain dan tidak merasa terisolasi atas masalah pribadiku.”
Klien inisial MA juga berkata, “Ternyata emosional seseorang harus divalidasi, karena aku sebenarnya ya udah nganggep itu berlalu dan ternyata selama ini aku butuh tempat yang tepat untuk bercerita. Terima kasih udah kasih kesempatan itu.”
Akhir kegiatan ini ditandai dengan praktikan melakukan terminasi sebagai tanda bahwa hubungan antara pekerja sosial dan klien selesai dalam therapeutic groupwork yang telah dilakukan.