Daerah Kabupaten Palas memang identik dengan perkebunan kelapa sawit. Tapi, bukan berarti kondisinya wajar, bila proses belajar mengajar dilakukan di bawah pohon kepala sawit. Namun, itulah yang berlangsung selama dua tahun terakhir di Desa Gunung Tua Kecamatan Sosa.Kendati dengan kondisi tempat terbuka dan memungkinkan proses belajar terkendala karena hujan turun, sejauh ini belum pernah proses belajar mengajar terganggu karena alasan itu. Bahkan, dengan kondisi yang serba memaksa begitu, para siswa disini terlihat tetap bersemangat dan santai dalam menerima bahan pelajaran dari guru.
"Tidak ada yang tidak bisa, kalau kita mau. Kami belum punya gedung tempat belajar, tapi di tempat terbuka di bawah pohon kelapa sawit pun bisa dilangsungkan proses belajar mengajar," kata Haposan, pimpinan Yayasan Alfakih Babussalam Desa Gunung Tua kepada wartawan, kemarin.
Dikatakan Haposan, saat ini, jumlah siswa di yayasan yang dipimpinnya itu mencapai 250 orang. Terdiri dari tiga tingkatan siswa dalam dua angkatan yang ada. Di sini, saat ini lengkap basis pendidikan mulai Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), Tsanawiyah (setingkat SMP) dan Aliyah (setingkat SMA). "Bahkan, ada juga TPA (taman pendidikan Alquran)," terang Haposan.
Dengan semangat dan motivasi untuk mendidik yang tinggi pula, bersama Haposan, kini ada sebanyak 26 orang guru yang bersedia bergabung. Mereka sama-sama memberikan pengabdian terbaik untuk membekali generasi penerus di desa itu, baik ilmu sains maupun agama.
Para siswa sendiri, dikatakannya, tidak dibebankan bayaran alias gratis. Sebab, Haposan juga tahu, sebagian besar masyarakat yang ada di daerah sekitar sekolah, merupakan keluarga dengan penghasilan rendah.
"Untuk biaya operasional sekolah ini, kami hanya mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) serta bantuan dari para donatur," akunya.
"Mudah-mudahan, proses belajar mengajar tetap bisa. Kami hanya salat dan berdoa, semoga semua donatur kami diberi umur panjang dan kerendahan rezeki," paparnya sembari mengatakan mereka kerap menggelar pengajian bersama dan shalat duha.
Dikatakannya lagi, apa yang berlangsung saat ini di sekolah tersebut, tentu bukan hal yang normal. Karena seharusnya, proses belajar mengajar bisa dilaksanakan di ruangan kelas. Namun, karena kondisi keterpaksaan, harus dilakukan di ruangan terbuka.
"Sebenarnya, kami sudah punya bangunan empat ruangan atau dua ruangan bertingkat. Tapi, itu sebenarnya untuk bangunan asrama," terang Haposan sembari mengaku sejauh ini belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Ia berharap, pemerintah tetap melihat dan memperhatikan kondisi seperti ini. Karena, apa pun yang mereka lakukan, tetap juga untuk menyiapkan generasi bangsa. Agar, perkampungan mereka yang nun jauh dari pusat kota tidak selalu tertinggal, termasuk dalam bidang pendidikan. (MS)