IPWL Bukit Doa Rumahku Rehabilitasi merupakan sebuah lembaga rehabilitasi narkoba berbasis spiritualitas. IPWL Bukit Doa menggunakan pendekatan Therapeutic Community, yang menjadikan komunitas itu sendiri sebagai bagian dari terapi. Sesama residen saling berbagi pengalaman, dukungan emosional, dan motivasi. Selama pelaksanaan praktik, Yosia terlibat aktif dalam kegiatan pemulihan residen.
Berdasarkan hasil asesmen menggunakan Addiction Severity Index (ASI), klien mengalami hopelessness, rendah diri, dan sempat melakukan percobaan bunuh diri. Ia masuk ke lembaga rehabilitasi tanpa persetujuan, mengira akan menemui psikolog. Situasi ini menambah luka emosional yang ia alami sebelumnya. Di sinilah Yosia melihat pentingnya peran pekerja sosial untuk membangkitkan kembali semangat dan harapan hidup klien.
Yosia menerapkan metode casework menurut model Charles Zastrow, dengan tujuh tahapan utama:
1. Engagement, Intake dan Contract
Tahapan pendekatan awal dilakukan dengan partisipasi dalam kegiatan rutin residen, seperti morning meeting, sesi religi, dan seminar. Komunikasi informal juga dijalin secara intensif dengan residen perempuan di luar sesi formal serta klien diberi pemahaman tentang maksud dan tujuan praktik.
Melalui ASI, Yosia mengidentifikasi tujuh domain permasalahan klien. Ditemukan trauma masa lalu, relasi disfungsional, dan keputusasaan sebagai fokus utama penanganan.
3. Perencanaan Intervensi
Berdasarkan Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow, Yosia menyusun rencana intervensi untuk memenuhi kebutuhan rasa aman, harga diri, dan aktualisasi diri klien melalui tiga sesi utama.
Intervensi dilakukan dalam tiga sesi:
- o Sesi 1: Materi “I Am Drug Free” bersama residen perempuan untuk membangun kesadaran hidup sehat tanpa NAPZA.
- o Sesi 2: Nonton bareng film inspiratif dan menulis harapan hidup di sticky notes.
- o Sesi 3: Sesi individual refleksi masa lalu dan afirmasi positif, membantu klien membangun kembali makna diri.
5. Monitoring dan Evaluasi
Menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product), Yosia mengevaluasi dampak intervensi. Klien menunjukkan kemajuan signifikan: lebih terbuka, memiliki tujuan masa depan, dan ingin melanjutkan pendidikan.
Terminasi dilakukan setelah tujuan yang disepakati tercapai. Yosia memberikan dorongan kepada klien untuk terus menjalin relasi positif dengan komunitas dan staf IPWL Bukit Doa.
Program intervensi ini membuahkan hasil positif. Klien yang sebelumnya merasa hopeless, kini memiliki visi untuk melanjutkan pendidikan dan menjadi seorang pelayan Tuhan. Terima kasih kepada IPWL Bukit Doa atas kesempatan berharga yang diberikan.