Kegiatan Praktikum Lapangan atau PKL merupakan salah satu mata kuliah wajib yang diikuti oleh mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP USU. Dilakukannya kegiatan praktikum ini adalah agar mahasiswa/i dapat mengimplementasikan keilmuan yang telah dipelajari selama perkuliahan termasuk memberikan pengalaman langsung untuk menangani klien dengan berperan sebagai pendamping dalam memahami apa yang menjadi kebutuhan klien.
Dea Gita Br. Sembiring dengan NIM 220902097 merupakan mahasiswi Kesejahteraan Sosial FISIP USU yang dalam artikel ini memaparkan pengalaman sebagai praktikan, yang didampingi oleh Supervisor Sekolah yaitu Ibu Dr. Hairani Siregar, M.SP dan Supervisor Lembaga yaitu Suster Hormina Saragih, S.Ag. Praktikan melaksanakan PKL di SLBA Karya Murni yang berlokasi di Jl. Karya Wisata No.6, Gedung Johor, Kec. Medan Johor, Kota Medan, Sumatera Utara.
Kegiatan PKL dilakukan pada tanggal 06 Maret 2025 sampai tanggal 17 Mei 2025. Izin untuk melakukan kegiatan PKL diberikan pada tanggal 03 Maret 2025 oleh Kepala Sekolah SLBA Karya Murni Medan, yakni Suster Hormina Saragih yang akrab disapa Suster Petriani. Pada saat meminta izin melakukan PKL, Suster Petriani menjelaskan tetterkait kondisi di sekolah SLBA Karya Murni Medan, kondisi anak-anak didik yang ada di sekolah yang diantaranya adalah Autisme, Tuna Netra, dan Tuna Grahita.
Pada pertemuan pertama kepada anak-anak difabel, praktikan memperkenalkan diri sebagai kakak mahasiswa asal USU yang akan melakukan PKL di sekolah tersebut selama beberapa bulan. Perkenalan ini dilakukan untuk membangun pendekatan yang baik dengan anak-anak di SLBA Karya Murni Medan. Dalam kegiatan PKL ini, praktikan mendampingi beberapa anak dalam berbagai aktivitas yang menyenangkan dan bermanfaat, seperti belajar huruf braille, mengembangkan kreativitas, keterampilan, serta menumbuhkan rasa semangat dalam menjalankan setiap rangkaian kegiatan. Dengan pendekatan yang baik, praktikan berharap dapat membangun suasana yang menyenangkan dan hubungan yang erat sehingga anak-anak merasa aman, merasa didukung dan termotivasi selama kegiatan berlangsung.
Praktikan mendapat klien yang akrab disapa Stiven (nama asli disamarkan) berusia 11 tahun. Ia duduk di kelas 3 SD. Sejak awal melaksanakan perkenalan secara pribadi dengan klien, praktikan sudah bisa merasakan bonding yang kuat karena klien merupakan anak yang aktif, ramah, ceria, dan bisa gampang berbaur dengan orang baru. Stiven merupakan anak yang terlahir dengan kondisi fisik yang normal, akan tetapi pada saat usianya yang ke-6 tahun, Ia mengalami kebutaan permanen diakibatkan karena kesalahan saat berenang, menurut keterangan klien, saat itu kandungan kaporit dalam kolam renang sangat banyak sehingga ketika klien tidak sengaja membuka matanya didalam air, matanya terasa perih selama beberapa waktu. Pada saat kejadian, tidak ada yang menyadari itu dikarenakan klien berenang berada jauh dari orangtuanya. Sehingga, orangtuanya terlambat menyadari dan mengatasi mata klien yang sudah iritasi, yang ketika dibawa ke dokter, ternyata klien, Stiven, telah mengalami kebutaan. Selang beberapa tahun, akhirnya orangtuanya memutuskan untuk memasukkan Stiven bersekolah di SLBA Karya Murni Medan agar tetap mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan kondisi yang dialaminya.
Stiven dikenal sebagai anak yang mudah didekati dan memiliki keingintahuan yang besar. Ia belum sepenuhnya lancar membaca huruf Braille, namun mulai memahami simbol dasar dan menunjukkan kemajuan dalam mengenali bentuk melalui sentuhan. Dalam kesehariannya di kelas, Stiven aktif berpartisipasi dalam kegiatan menyanyi, mendengarkan cerita, dan latihan mengenal arah melalui suara. Ia juga cukup mandiri dalam aktivitas seperti makan, merapikan alat tulis, dan mengenal suara guru-gurunya.
Tahap asesmen dilakukan dengan mengacu pada tahapan awal dalam pendekatan casework menurut Zastrow (2010), yaitu mengenali permasalahan melalui observasi sistematis, wawancara, dan refleksi. Dalam konteks Stiven, asesmen dilaksanakan melalui observasi langsung selama pembelajaran, wawancara guru kelas dan kepala sekolah, serta refleksi pendamping. Untuk memvalidasi permasalahan yang dihadapi Stiven, digunakan metode Delphi dalam tiga putaran diskusi melibatkan guru, kepala sekolah, dan pendamping. Hasilnya mengidentifikasi tiga masalah utama :
1. Ketidakmampuan membedakan dan menggunakan tanda baca (terutama koma)
2. Keterbatasan dalam berhitung dasar
3. Rasa percaya diri yang masih lemah dalam mengerjakan tugas mandiri
Sebagai alat bantu visual, digunakan Diagram Venn untuk memetakan tiga aspek penting yang saling beririsan
a. Kemampuan akademik (membaca, menulis, berhitung)
b. Kemandirian belajar (inisiatif, fokus, keberanian)
c. Dukungan lingkungan (guru, teman, struktur kelas)
Asesmen menunjukkan bahwa Stiven memiliki antusiasme belajar tinggi dan lebih responsif saat dibimbing secara individual. Ia menunjukkan kemajuan ketika diberikan pendekatan konkret dan penguatan positif, meski masih kesulitan dalam mengorganisasi kalimat atau memahami konsep numerik abstrak.