Masa depan bangsa terletak pada anak-anak, namun tidak semua anak tumbuh dalam dukungan keluarga yang utuh. Di sinilah peran pekerja sosial menjadi penting. Hal ini tercermin dalam praktik nyata yang dilakukan oleh Nur Fitri Ramadani Siregar, mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Sumatera Utara, selama menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Rumah Literasi Ranggi (RLR), Deli Serdang.
Hal ini diwujudkan dalam praktik nyata oleh Nur Fitri Ramadani Siregar (220902081), mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Sumatera Utara, yang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama satu semester di Rumah Literasi Ranggi (RLR), Deli Serdang. Di lembaga ini, ia tidak hanya belajar, tetapi juga memberikan dampak bagi kehidupan seorang anak.
Rumah Literasi Ranggi, berlokasi di Komplek Perumahan PWI SUMUT, Kecamatan Percut Sei Tuan, bukan sekadar tempat belajar membaca dan menulis. Lebih dari itu, lembaga ini menjadi rumah kedua bagi anak-anak yang mengalami kerentanan sosial, baik karena kondisi ekonomi, pendidikan, hingga dinamika keluarga yang kompleks. Salah satu anak yang menjadi fokus intervensi adalah AA, seorang anak perempuan berusia 8 tahun. Setelah perceraian orang tuanya dan meninggalnya sang ayah, AA tinggal bersama kakaknya yang masih remaja dan tantenya, sementara sang ibu bekerja di luar kota. Ketiadaan figur pengasuh utama membuat AA mengalami hambatan dalam perkembangan emosional dan sosial: menarik diri, tidak percaya diri, dan enggan bersosialisasi.
Melalui pendekatan casework atau pekerjaan sosial individual, Nur Fitri Ramadani merancang dan melaksanakan intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan psikososial AA. Pendekatan ini terdiri dari enam tahapan utama: Engagement, Intake, Contract, Assessment, Planning, Intervention, Monitoring, dan Termination.
Dalam tahapan awal, ia membangun kepercayaan AA melalui pendekatan bermain, menggambar bersama, dan kegiatan ringan lainnya di Rumah Literasi Ranggi. Ia tidak memaksa AA untuk bercerita, namun menciptakan ruang yang aman agar AA dengan sendirinya merasa nyaman untuk terbuka. Hasil dari tahap asesmen menunjukkan bahwa AA memiliki keterikatan emosional yang sangat kuat kepada kakaknya, namun tidak dengan lingkungan sosial lainnya. Ini menjadi dasar penting dalam menyusun rencana intervensi yang fokus pada peningkatan kepercayaan diri dan keberanian bersosialisasi. Kegiatan seperti diskusi santai, mendongeng, hingga keterlibatan dalam permainan kelompok dilaksanakan secara rutin dan perlahan. Setiap keberhasilan kecil seperti tersenyum, menjawab pertanyaan, atau ikut bermain diberikan penguatan positif. Pendekatan ini merujuk pada teori behaviorisme Skinner, yang menekankan pentingnya penguatan dalam perubahan perilaku.
“Hari pertama AA hanya duduk diam. Dua minggu kemudian ia mulai menggambar bersama saya. Di minggu keempat, ia ikut menjawab pertanyaan dalam kelompok. Perubahan kecil ini terasa besar karena ia mulai percaya, mulai hadir sebagai dirinya,” Fitri.
Dalam pekerjaan sosial, sistem sumber merupakan salah satu elemen penting dalam pemulihan individu. Rumah Literasi Ranggi berperan sebagai sistem sumber eksternal yang sangat kuat bagi AA. Suasana belajar yang menyenangkan, para pengelola yang suportif, serta teman-teman sebaya yang positif menjadi lingkungan protektif bagi AA untuk membangun kembali dirinya. Melalui monitoring yang berkelanjutan, diketahui bahwa AA mengalami peningkatan dalam keberanian sosial. Ia mulai aktif terlibat dalam diskusi kelompok dan tersenyum ketika diajak berbicara. Perubahan ini, walaupun tidak drastis, menunjukkan hasil intervensi sosial yang terencana dan berbasis kekuatan klien. Lingkungan yang hangat di Rumah Literasi Ranggi memainkan peran besar dalam keberhasilan intervensi ini. Sistem sumber yang mendukung, seperti pengelola, teman sebaya, dan rutinitas kegiatan, berkontribusi sebagai perubahan perilaku dan emosi anak.
Praktik ini bukan hanya proses belajar akademik, tetapi juga perjalanan pembentukan empati dan keterampilan profesional. Fitri menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukungnya selama PKL berlangsung.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Malida Putri, S.Sos., M.Kesos selaku supervisor sekolah, Ibu Ranggini, S.E. selaku supervisor lembaga, serta seluruh pengelola dan anak-anak di Rumah Literasi Ranggi yang telah menerima dan mendampingi saya selama satu semester. Tanpa dukungan dan kepercayaan mereka, proses pembelajaran saya tidak akan seberarti ini,” ujarnya dengan penuh syukur.
Saya berharap ke depan, lembaga seperti Rumah Literasi Ranggi dapat lebih banyak berkolaborasi dengan mahasiswa, komunitas, dan lembaga sosial lainnya dalam memperluas jangkauan pelayanan terhadap anak-anak yang membutuhkan. Ia juga mendorong mahasiswa lain untuk tidak hanya melihat PKL sebagai kewajiban, tetapi sebagai kesempatan untuk hadir secara nyata dalam kehidupan orang lain.