Setelah bertahun-tahun duduk di bangku kuliah, mempelajari teori demi teori dari balik layar proyektor dan tumpukan buku referensi, tibalah saat di mana mahasiswa harus benar-benar turun ke lapangan. Di sinilah Praktek Kerja Lapangan (PKL) mengambil peran. Bukan sekadar rutinitas akademik, PKL menjadi jembatan nyata antara dunia kampus dan dunia kerja yang sesungguhnya. Lewat PKL, mahasiswa diajak keluar dari zona nyaman kelas, untuk menyentuh langsung dinamika sosial, bekerja sama dengan berbagai kalangan, dan menghadapi kondisi nyata yang tak selalu sesuai dengan teori. Pengalaman ini bukan hanya mengasah keterampilan profesional, tapi juga menumbuhkan empati, ketangguhan, dan pemahaman mendalam tentang peran mereka di masyarakat.Bagi sebagian mahasiswa, PKL bahkan menjadi titik balik. Tempat mereka menemukan makna dari ilmu yang mereka pelajari selama ini. Tempat mereka belajar bahwa dunia luar jauh lebih kompleks, namun juga penuh peluang. Karena itulah, PKL bukan sekadar kewajiban akademik—tapi latihan kehidupan.
Saya, Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kessos) FISIP Universitas Sumatera Utara, Rizky Akbar dengan NIM 220902033, dengan dosen pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos dan supervisor sekolah, Bu Novita Sari. S.Sos.,M.Kesos. telah selesai melaksanakan Praktek Kerja Lapangan sebagai pemenuhan laporan PKL 1, dimana PKL 1 merupakan mata kuliah prasyarat pada Program Studi Kesejahteraan Sosial, FISIP USU.
Medan, Marelan – Di tengah tantangan ekonomi, seorang remaja perempuan berusia 16 tahun dari Kecamatan Medan Marelan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang. W, anak sulung dari empat bersaudara, hidup dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, sementara sang ibu mengajar mengaji anak-anak di sekitar rumah. Namun, di balik kesederhanaan itu, W menyimpan semangat dan bakat luar biasa dalam bidang seni dan literasi.
Tak hanya aktif dalam ekstrakurikuler seperti marching band dan tari, W juga sering mengikuti lomba puisi, menulis cerita pendek, dan menggambar. Meski tidak memiliki fasilitas yang memadai, semangat belajar dan dorongan dari orang tua menjadi bahan bakar utama bagi W untuk terus berkarya.
Perubahan positif dalam diri W mulai tampak jelas saat ia mendapatkan pendampingan dari seorang mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Sumatera Utara yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan di bawah bimbingan Yayasan BRILiaN Maal. Dalam proses pendampingan tersebut, digunakan metode casework dengan pendekatan berbasis kekuatan (strength-based approach), yang menitikberatkan pada potensi dan sumber daya yang dimiliki klien, bukan semata-mata pada masalahnya.
Metode casework yang diterapkan meliputi beberapa tahapan, yaitu engagement, assessment, planning, intervention, evaluation, dan termination. Tahap engagement dilakukan dengan membangun kedekatan dan rasa percaya melalui percakapan informal. Dalam tahap assessment, pekerja sosial mengidentifikasi kondisi keluarga, potensi klien, dan sumber dukungan yang tersedia. Selanjutnya, dilakukan perencanaan kegiatan yang dirancang secara spesifik dan realistis, termasuk kegiatan menggambar bebas, menulis cerpen, serta sesi refleksi bersama orang tua.
Intervensi dijalankan dengan pendampingan langsung dalam aktivitas kreatif, disertai dukungan emosional dan motivasi. Hasilnya, W mengalami peningkatan kepercayaan diri, lebih terbuka dalam berekspresi, dan mulai membangun mimpi untuk terus mengembangkan bakatnya. Evaluasi dilakukan secara partisipatif bersama klien dan orang tua, untuk mengukur dampak proses yang telah berjalan. Akhirnya, pada tahap terminasi, hubungan profesional ditutup dengan penuh penghargaan terhadap perubahan positif yang telah dicapai oleh klien.
Kisah W menjadi cerminan nyata bahwa dukungan orang tua, walau tidak berbentuk materi, mampu menjadi kekuatan besar dalam membentuk karakter dan semangat juang anak. Ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia yang serba cepat dan kompetitif, perhatian dan dorongan dari keluarga masih menjadi fondasi terpenting dalam proses tumbuh kembang remaja.