Minggu, 19 Apr 2026

Duel Efisiensi "Emas Hitam": Batubara dan Coke, Dalam Persaingan Produksi Gas DME

Medan (utamanews.com)
Oleh: Nabila Tri Mardani Selasa, 23 Des 2025 14:23
 Ilustrasi

Kapan terakhir kali Anda merasa was-was saat mendengar kabar harga "gas melon" atau LPG akan naik? Bagi jutaan ibu rumah tangga dan pelaku UMKM di Indonesia, LPG adalah nyawa dapur. Namun, di balik nyala api biru yang stabil itu, tersimpan fakta ekonomi yang cukup menyesakkan. Data Kementerian ESDM mencatat konsumsi LPG nasional telah menembus angka 8 juta ton per tahun, di mana sekitar 75-80 persennya harus didatangkan dari luar negeri.

Ketergantungan impor yang akut ini memaksa negara merogoh devisa hingga Rp 63,5 triliun setiap tahunnya. Beban ini belum termasuk realisasi subsidi LPG 3 kg yang membengkak hingga Rp 80,9 triliun pada 2024. Jika dibiarkan, "bom waktu" subsidi ini akan terus membebani anggaran negara. Namun, angin segar datang dari dunia riset energi: Indonesia bersiap beralih ke Dimethyl Ether (DME), "gas masa depan" produksi dalam negeri yang siap memutus rantai impor tersebut.

Secara sederhana, DME adalah gas sintetis yang sifatnya sangat mirip dengan LPG. Ia mudah terbakar, memiliki nyala api biru yang bersih, dan aman digunakan di kompor rumah tangga yang sudah ada. Bedanya, DME tidak menghasilkan asap hitam atau jelaga kotor saat dibakar. Jika LPG disuling dari minyak bumi, DME diproduksi melalui pengolahan batubara atau biomasa. Secara kimiawi, ia dikenal dengan rumus (CH_3 OCH_3) namun bagi masyarakat awam, cukup mengenalnya sebagai bahan bakar bersih pengganti LPG.

Tantangan teknis kini muncul dalam pemilihan bahan baku utamanya. Apakah pabrik harus menggunakan batubara mentah sepenuhnya, atau memanfaatkan Coke limbah padat berwarna hitam pekat sisa kilang minyak yang selama ini terabaikan?
Untuk menjawab keraguan tersebut, data uji coba skala pilot (pilot scale) yang dipublikasikan oleh Muda dan Boosroh (2013) membedah "rapor" kedua kandidat ini secara transparan dalam lima babak krusial:

Dalam hal kepadatan energi, coke terbukti menjadi raksasa dengan nilai kalor menembus 36,01 MJ/kg, jauh meninggalkan batubara yang hanya mencatat 24,75 MJ/kg. Keunggulan ini didorong oleh kandungan karbon padat (fixed carbon) pada Coke yang mencapai 87,96 persen, sedangkan batubara hanya 42,83 persen. Ibarat bahan bakar, Coke adalah briket super padat yang menyimpan energi dua kali lipat lebih banyak.

Namun, batubara membalas di ronde ini. Batubara memiliki keunggulan alami sebagai "pemicu api" berkat kandungan zat terbang (volatile matter) yang melimpah sebesar 45,79 persen. Sebaliknya, Coke sangat miskin zat terbang di angka 1,06 persen. Zat terbang ini ibarat serpihan kayu kering yang mudah menyala; tanpa zat ini, coke sangat sulit dibakar dan bereaksi di dalam mesin gasifikasi.

Masalah lain terlihat pada kadar air. Batubara tergolong "basah" dengan kelembapan (moisture content) mencapai 9,64 persen, sedangkan coke sangat kering dengan kadar air hanya 0,72 persen. Kondisi ini menciptakan dilema: batubara yang basah membutuhkan energi ekstra untuk dikeringkan, sementara Coke yang terlalu kering dan padat menuntut suhu ekstrem agar bisa bereaksi.
produk kecantikan untuk pria wanita

Mengapa Coke tidak bisa dipakai sendirian? Data output gas membuktikan alasannya. Saat batubara digasifikasi, ia mampu menghasilkan gas Hidrogen (H_2) sebesar 38,35 mol persen. Namun, saat menggunakan 100 persen Coke, produksi Hidrogen anjlok drastis menjadi hanya 4,26 mol persen. Padahal, gas Hidrogen adalah bahan baku mutlak untuk membuat DME. Ini membuktikan bahwa coke tidak cukup 'aktif' secara kimiawi jika bekerja sendirian.

Guna menjembatani karakteristik yang bertolak belakang ini, strategi pencampuran (blending) menjadi kunci. Namun, data eksperimen memberikan peringatan keras untuk menghindari rasio setengah-setengah. Pada rasio campuran 50:50 (Batubara:Coke), produksi gas justru jatuh ke titik terendah. Efisiensi terbaik ditemukan pada dominasi batubara (misalnya rasio 90:10), di mana produksi gas tetap tinggi namun nilai kalor sistem berhasil didongkrak oleh kehadiran Coke.

Dampak efisiensi teknis ini berbanding lurus dengan keuntungan ekonomi bagi negara. Studi tekno-ekonomi terbaru dari Xu et al. (2024) mengungkapkan bahwa penerapan teknologi polygeneration (produksi ganda DME dan listrik) mampu mencapai efisiensi energi total hingga 49,54 persen.

iklan peninggi badan
Secara kalkulasi bisnis, model pabrik masa depan ini diproyeksikan memiliki keuntungan bersih proyek (Net Present Value) positif sebesar US$ 21,3 juta (sekitar Rp330 miliar). Lebih menarik lagi, modal investasi diperkirakan dapat kembali (payback period) hanya dalam kurun waktu 7,12 tahun. Dengan skema ini, titik impas (breakeven) harga DME bisa ditekan di kisaran US$ 286 - 686 per ton, menjadikannya sangat kompetitif dibanding harga pasar energi fosil.

Jika proyek ini terealisasi, dampak paling nyata bagi masyarakat adalah stabilitas harga. Karena bahan baku batubara dan Coke tersedia melimpah di dalam negeri, harga DME tidak akan mudah dipermainkan oleh gejolak kurs dolar ataupun perang harga minyak dunia layaknya LPG. Risiko kelangkaan gas pun dapat diminimalisir karena rantai pasok yang pendek dari tambang lokal langsung ke pabrik dan konsumen. Selain itu, pembangunan pabrik gasifikasi di daerah akan menciptakan ribuan lapangan kerja baru, menggerakkan ekonomi lokal yang selama ini hanya bergantung pada penjualan bahan mentah.

Data-data di atas menegaskan bahwa "emas hitam" sisa kilang (Coke) adalah aset tersembunyi yang bernilai tinggi. Dengan strategi pencampuran yang tepat dan teknologi poligenerasi, Indonesia bisa menyulap limbah menjadi energi murah. Langkah ini bukan sekadar wacana teknis, melainkan jalan terukur menuju kemandirian energi dan melepaskan diri dari jerat impor yang merugikan triliunan rupiah.

Nabila Tri Mardani
Mahasiswi Teknik Kimia
Institut Teknologi Sawit Indonesia
Telepon: 085609486672
Editor: Budi
Tag:
busana muslimah

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️