Duka yang mendalam menimpa satu keluarga asal Desa Kwala Besar, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat.
Sebab, pada Minggu (24/3) lalu, salah seorang anggota keluarga mereka yang bernama Mihani (28) seorang ibu muda dengan satu anak dan berstatus janda, ditemukan sudah tidak bernyawa usai menginap di Kota Binjai.
Rasa sedih yang teramat sangat itu pun dirasakan oleh ibu korban bernama Sabariyah, saat ditemui awak media di rumahnya usai dilakukan ekshumasi makam anaknya oleh pihak kepolisian dari Polres Binjai dibantu tim dokter dari RS Bhayangkara Medan, Sabtu (25/5) lalu.
Wanita paruh baya ini pun sempat menceritakan awal kepergian korban yang merupakan anak kedua dari empat bersaudara pada pada Sabtu (23/3) sekira pukul 15.00 Wib.
"Pada sore hari itu, anak saya pergi bersama temannya bernama Mona. Mereka katanya mau pasang behel gigi di Kota Binjai," ucap Sabariyah dengan nada sedih.
Sebagai seorang ibu, wanita berhijab ini pun mengaku sempat merasa khawatir dengan keberangkatan anaknya. Namun kekhawatirannya tersebut tidak diperlihatkannya.
Keesokannya harinya, tepatnya pada Minggu (24/3) pagi, sekira pukul 06.00 Wib, Sabariyah pun mengaku menerima telpon dari tetangganya yang menyampaikan bahwa anaknya tersebut sudah meninggal dunia.
"Pada esok paginya setelah anak saya pergi, saya ditemui tetangga yang mengatakan kalau Mona (teman korban) mau ngomong di telpon. Setelah saya terima, Mona menyampaikan bahwa anak saya sudah meninggal karena jatuh di kamar mandi," urai Sabariyah.
Bak disambar petir, menerima kabari itu, Sabariyah pun langsung bingung dan sedih. Namun, ia juga mengaku heran atas kematian anaknya yang sangat tiba-tiba tersebut.
"Orangtua mana yang gak sedih mendengar kabar tersebut karena anak saya pergi dalam keadaan sehat dan kembali sudah meninggal dunia. Tapi saya heran, kenapa anak saya meninggal dunia secara tiba-tiba," tutur Sabariyah dengan wajah murung sembari meneteskan air mata.
Usai menerima jasad korban dan akan dilakukan proses pemakaman, pihak keluarga melihat sejumlah luka di tubuh korban. Ironisnya menurut Sabariyah, tidak ada penjelasan dari Mona (teman korban) terkait kematian anaknya, padahal malam sebelumnya mereka bersama.
"Saat jasad anak saya tiba di rumah yang difasilitasi oleh Mona, kami keluarga besar melihat ada luka lebam di kening, wajah dan leher. Bahkan ada luka di perut dan kuku kakinya yang lepas," ungkap Sabariyah, sembari memohon doa agar kasus kematian anaknya dapat segera terungkap.
Sementara itu, dilokasi pemakaman, tampak pihak kepolisian dari Polres Binjai dan tim dokter dari RS Bhayangkara Medan didampingi tim kuasa hukum korban, melakukan ekshumasi terhadap jasad Mihani yang sudah hampir dua bulan dimakamkan.
Menurut Kasat Reskrim Polres Binjai AKP Zuhatta Mahadi, ekshumasi tersebut dilakukan karena adanya laporan dari pihak keluarga yang curiga terhadap kematian korban.
"Ekshumasi ini dilakukan untuk melihat apakah ada bekas luka di tubuh korban seperti yang dilaporkan keluarga ke Polres Binjai. Ini juga merupakan tahapan penyidikan yang harus dilakukan setelah keluarga membuat laporannya pada 13 April 2024 lalu," ucap AKP Zuhatta Mahadi
Perwira Pertama Polri ini juga menjelaskan, awalnya Polres Binjai tidak mengetahui adanya peristiwa kematian korban di wilayah hukum Polres Binjai. Namun setelah adanya laporan pada 13 April lalu, barulah petugas melakukan penyelidikan secara mendalam hingga dilakukan ekshumasi.
Ditempat yang sama, Kuasa hukum korban, Fauzi Sibarani, didampingi rekannya Gerald Siahaan, mengatakan jika proses penyidikan yang dilakukan oleh Polres Binjai terkesan lama.
"Proses penyidikan ini terlalu lama dari tanggal laporan korban. Sebab korban membuat laporan pada 13 April 2024 dan baru 25 Mei dilakukan ekshumasi, itupun setelah kami mendatangi Polres Binjai pada 21 Mei 2024 lalu," ucap Fauzi Sibarani.
Mewakili tim kuasa hukum dan keluarga korban, Fauzi pun berharap agar setelah dilakukan ekshumasi, pihak kepolisan dari Polres Binjai segera mengungkap tabir duka kematian Mihani yang pergi dalam keadaan sehat dan kembali ke rumah dalam kondisi tidak bernyawa.
"Kami berharap ada keadilan bagi keluarga dan korban," demikian tutup Fauzi Sibarani diakhir penyampaiannya.