Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kota Medan mendatangi Kantor Walikota Medan di Jalan Kapten Maulana Lubis pada Senin (20/04/2026).
Kedatangan mereka bertujuan untuk mempertanyakan sikap Walikota Medan, Rico Waas.
Hal ini berkaitan dengan evaluasi 100 hari kerja Dirut PUD Pasar, Anggia Ramadhan.
Kinerja tersebut dinilai telah menimbulkan kekisruhan di sejumlah pasar tradisional.
Salah satu pasar yang disorot adalah Pasar Kampung Lalang.
Massa datang menggunakan mobil komando sambil membawa empat spanduk berisi tuntutan.
Tulisan pada spanduk tersebut antara lain, "Walikota Untuk Anggia, Anggia Untuk Walikota".
Selain itu ada juga tulisan "APPSI Kota Medan, Marhaenis Academy SBN".
Kemudian spanduk lainnya bertuliskan, "Evaluasi 100 Hari Kerja Direksi PUD Pasar Dan Copot Dirut PUD Pasar Medan".
Serta tuntutan tegas, "Copot Dirut PUD Pasar Medan Anggia Ramadhan".
Selain membawa spanduk, massa juga membagikan selebaran kepada pengguna jalan.
APPSI Kota Medan bersama Marhaenis Academy mulai berorasi sejak pukul 14.20 WIB.
Mereka menyampaikan tuntutan secara bergantian sambil menunggu perwakilan Pemko Medan.
Dalam orasinya, Diga Adlianta Pinem menyampaikan sikap tegas kepada pemerintah.
"Kami menunggu Walikota Rico Waas untuk datang menemui kami. Bila perlu sampai kami menginap karena kami datang dengan tujuan untuk menuntaskan kekisruhan di pasar-pasar tradisional yang ada di Kota Medan," ujarnya.
Aparat kepolisian dari Polrestabes Medan dan Satpol PP terlihat berjaga di lokasi.
Setelah cukup lama, pihak kepolisian mencoba memfasilitasi pertemuan.
Beberapa perwakilan massa diminta masuk ke ruang rapat Kantor Walikota.
Namun massa menolak ajakan tersebut.
Mereka meminta agar perwakilan Pemko Medan yang datang langsung ke lokasi aksi.
Karena tidak ada perwakilan yang datang, massa menggeser mobil komando ke tengah jalan.
Hal ini sempat menyebabkan kemacetan di Jalan Kapten Maulana Lubis.
Ketua APPSI Kota Medan, Muhamad Siddiq, kembali melakukan komunikasi melalui pihak kepolisian.
Polisi mencoba melobi agar ada pertemuan antara massa dan pihak pemerintah.
Namun massa tetap pada pendiriannya.
Mereka kembali menegaskan agar pejabat Pemko Medan datang menemui mereka.
"Kami minta supaya utusan Walikota Medan yang datang menemui kami disini. Walikota sebagai tuan rumah, biasanya datang menyambut tamunya di depan rumahnya. Etikanya, bukan tamunya disuruh masuk tanpa ada sambutan dari tuan rumah," tegas Diga.
Aksi berlangsung di tengah hujan gerimis yang mengguyur Kota Medan.
Hingga sore hari, tidak ada tanda-tanda perwakilan pemerintah akan datang.
Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB.
Massa akhirnya memutuskan untuk mengakhiri aksi sementara.
Mereka mulai mengumpulkan alat peraga dan bersiap membubarkan diri.
Sebelum bubar, Diga kembali menyampaikan pernyataan tegas.
"Kami rakyat yang punya harga diri. Kalau hari ini kami datang dengan jumlah massa yang sedikit, maka Walikota Medan memaksa kami untuk datang dengan jumlah massa yang besar."
Ia juga menegaskan rencana aksi lanjutan.
"Kami pasti akan datang dengan jumlah massa yang besar yang akan membuat sepanjang jalan Kantor Walikota Medan ini macat total. Kami pastikan itu akan terjadi."
Selain itu, ia menyampaikan apresiasi kepada aparat keamanan.
"Maka kami hari ini akan kembali ke sekretariat dan terimakasih kami ucapkan kepada para aparat kepolisian yang telah berjam-jam ditengah guyuran hujan, tetap mengamankan aksi kami."
Pesan juga ditujukan langsung kepada Walikota Medan.
"Dan kepada Walikota Medan, Rico Waas, kau tunggu kedatangan kami dengan jumlah massa yang lebih besar."
Ia juga mengingatkan soal pengelolaan PUD Pasar.
"Dan ingat bahwa PUD Pasar bukanlah milik partai. Jangan kau jadikan PUD Pasar seperti milik partaimu," tegasnya.
Setelah itu, massa membubarkan diri secara tertib.