Baru-baru ini, aparat kepolisian mendeteksi munculnya paham radikal dan anti Pancasila di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Menyikapi hal itu, tokoh pemuda Tobasa memohon kepada kepolisian supaya bertindak tegas memberantas siapa saja yang menggerakkan perlawanan terhadap pemerintah.
"Aparat hukum, baik Polisi, TNI, dan Pemerintah setempat harus menyikapi kondisi ini dengan sigap. Jangan dibiarkan sampai menyebar merusak mental masyarakat khususnya di Tobasa," tutur tokoh pemuda Tobasa Binahar Napitupulu yang ditemui di Balige bersama Ketua KNPI Tobasa David O Hutabarat, Senin (21/6).
Diterangkan, informasi keberadaan beberapa oknum yang tergabung dalam paham radikal dan anti Pancasila itu di Tobasa diketahui dari kepolisian. Sebagai tokoh pemuda di daerah itu, pihaknya merasa tergerak untuk menyerukan penolakan dengan paham yang cenderung melawan ideologi Negara Republik Indonesia itu.
"Kepada masyarakat khususnya pemuda kami himbau untuk waspada, supaya jangan terpengaruh dengan paham radikalisme yang anti pancasila. Karena kita harus patuh pada pemerintah. Pancasila idiologi Negara kita," timpal David.
Terpisah, Ketua DPD Pemuda Pancasila Kabupaten Tobasa menegaskan agar pihak kepolisian menindak tegas oknum-oknum yang terlibat dengan paham radikalisme itu.
"Kami memohon kepada Bapak Kapolres Tobasa mengambil sikap. Tindak tegas paham radikalisme dan anti Pancasila di Tobasa. Pancasila, harga mati," tandasnya.
Dalam konsep terpisah, Binahar Napitupulu yang ditanyai terkait maraknya issu miring meninggalnya tahanan Andi Pangaribuan di ruang sel Mapolres Tobasa tahun lalu, meminta agar seluruh pemuda menyikapinya dengan kepala dingin, dan jangan sembarangan menebar issu, baik di media elektronik, media cetak, media online, maupun di media sosial.
"Mari kita sama-sama menjaga situasi kondusif di Tobasa. Jangan sembarangan menebar issu, yang kami ketahui, saat ini kasus tersebut sudah ditangani Poldasu. Jika memang mencurigakan, lakukan investigasi, jangan menebar opini negativ kepada institusi polisi. Jagan menuduh tanpa fakta dan bukti," ungkapnya.
Terkait masalah tersebut, menurutnya sesuai pernyataan Kapolres Tobasa AKBP Jidin Siagian di beberapa media cetak, bahwa sudah ada hasil otopsi yang menyatakan bahwa almarhum diduga meninggal akibat gantung diri. Kemudian dalam kasus itu sudah ada petugas yang diperiksa dan menjalani hukuman.
"Masalah kebenarannya, saat ini kasus tersebut sudah ditangani Poldasu. Mari kita berikan waktu dan ruang bagi yang ditugaskan Bapak Kapolda menuntaskan persoalan itu," ungkapnya.
David O Hutabarat, sependapat dengan pernyataan tokoh masyarakat Tobasa. "Informasi yang saya dengar, saat ini kasus tersebut sudah ditangani Poldasu. Untuk itu, mari kita bersabar menunggu hasil penyidikan dari Poldasu. Jangan kita masyarakat Tobasa mudah terpengaruh dengan opini-opini yang berkembang, sebelum pernyataan atau keterangan resmi dari Polda," tutur David.
Saya juga sependapat dengan pembentukan tim investigasi, lanjut David. Ini juga merupakan solusi dalam penanganan kasus ini. Sebagai ketua KNPI, saya menghimbau kepada masyarakat khususnya pemuda di Tobasa, untuk tidak mudah terpengaruh dengan situasi ini dan terlebih untuk mempengaruhi atau menciptakan situasi yang tidak kondusif di Kabupaten yang kita cintai ini," tandasnya.