Peserta mengikuti dialog publik yang digelar oleh Rumah Konstituen, Minggu (14/4/2019)
Ungkapan mayoritas-minoritas kembali mengemuka ke publik. Netizen ramai mengecam status akun 'Antonio Bannera', yang mengungkit kembali tragedi '98 sambil mengungkit suksesi Pilpres 2019.Menurut Candiki Repantu, Antropolog PUSIS Unimed, penyebab munculnya persoalan etnik karena adanya kepentingan politik.
"Hasil penelitian kami, masalah etnik banyak dimanfaatkan untuk melakukan politik identitas. Kata 'Cina' sering digunakan sebagai 'labeling negatif' terhadap etnis Tionghoa. Dan ironisnya, 'labeling' ini dibuat untuk melakukan justifikasi kekerasan dan menganggap intimidasi adalah hal wajar", tutur Candiki, dalam dialog publik "Meneguhkan NKRI, Mewaspadai Intimidasi Etnis Menjelang Pemilu 2019", yang digelar oleh Rumah Konstituen, di D'Jong Cafe, Minggu (14/3/2019).
Antropolog ini tidak menampik bahwa di negeri multietnis, labeling terhadap minoritas sering digunakan untuk meraih suara mayoritas. Oleh karenanya masyarakat harus menyadari bahwa munculnya isu sentimen etnis karena ada kepentingan, baik kepentingan sesaat berskala kecil maupun kepentingan global.
Jalan keluar dari persoalan ini, menurut Candiki, adalah menerima perbedaan sebagai anugerah, selalu berpikir positif, dan jangan mau diadu-domba oleh kepentingan pihak-pihak tertentu.
Dialog ini diikuti kurang lebih seratus warga berbagai etnis dan agama, dan dirangkai dengan deklarasi "Pemilu damai tanpa diskriminasi dan intimidasi etnis."
Salah satu pembicara dalam dialog publik ini, Liani (etnis Tionghoa), mengatakan bahwa beberapa kali pengalamannya dalam Pemilu, etnis Tionghoa kerap menjadi sasaran intimidasi dan diskriminasi demi kepentingan kelompok tertentu.
"Itulah yang menyebabkan etnis Tionghoa tidak begitu peduli dengan pemilu. Yang penting bagi mereka rukonya aman, usahanya berjalan. Berpolitik, dikatakan kurang kerjaan," ungkap Liani yang kini calon anggota legislatif DPRD Medan dari PSI.
Bersama Liani, pembicara lainnya adalah Irwansyah (Ketua Jurusan Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sumatera Utara), Eko Marhaendy (Direktur Eksekutif Rumah Komunikasi) dan Candiki Repantu (Antropolog UNIMED), dengan moderator Samuel Nababan.