Sabtu, 25 Apr 2026

Penyebaran Hoaks Paling Tinggi di Medsos, Begini Kiat-Kiat Mencegahnya

Jakarta (utamanews.com)
Oleh: Iyus Rabu, 06 Okt 2021 12:26
 Istimewa

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggelar webinar melawan hoaks dengan kiat-kiat yang diberikan oleh pembicara Farah Puteri Nahlia sebagai Anggota Komisi 1 DPR RI, Samuel A Pangerapan sebagai Dirjen Aptika Kemkominfo RI, Verdy Firmantoro sebagai Dosen dan Analisis Komunikasi Politik, Selasa, 5 Oktober 2021 malam.

Dalam webinar ini, Farah Puteri Nahlia menyampaikan penyebaran hoaks yang paling tinggi adalah melalui saluran media sosial yaitu sebanyak 92,40%.

Ia memaparkan bagaimana ciri-ciri hoaks yang harus dikenali agar tidak termakan hoaks adalah berita mengakibatkan kecemasan, permusuhan dan kebencian.

"Sumber berita tidak jelas, sering bermuatan fanatisme atas nama ideologi, judul dan kata pengantarnya provokatif dan biasanya berita seperti ini diminta untuk dishare dan diviralkan," ucapnya dalam keterangan persnya, Rabu (6/10/2021).
Farah juga menyampaikan bahwa menyebarkan hoaks sudah diatur dalam undang-undang. UU ITE juga memiliki dampak positif yang bisa digunakan dalam etika media sosial.

Ia menghimbau agar berita hoaks yang tersebar di media sosial harus diwaspadai dengan tidak ikut membagikan berita tersebut agar tidak semakin menyebar.

Di akhir, Farah Puteri Nahlia memberikan tips agar masyarakat tidak termakan dengan hoaks-hoaks yang beredar di media sosial. Pertama, jangan mudah terprovokasi, kedua, baca sumber berita dan informasi berasal, ketiga, perhatikan keaslian gambar dan video, keempat, jangan sebarkan berita atau informasi tersebut jika belum jelas keasliannya.

Dirjen APTIKA Kemkominfo, Samuel A pangerapan, BSc, dalam kata sambutannya menyampaikan kehadiran teknologi di dalam masyarakat membuat kita menghadapi distrupsi teknologi.
produk kecantikan untuk pria wanita

Ia juga memberikan saran untuk mengahadapi distrupsi itu sebagai masyarakat harus mempelajari hal yang paling penting pada era digital saat ini.

"Yaitu paham akan literasi digital agar kita sebagai masyarakat bisa mengambil peranan penting dalam keadaan saat ini," tambahnya.

Ia mengatakan bahwa pada tahun 2020 Kominfo bersama Kata Data melakukan survey status literasi digital nasional dengan mengacu pada kerangka milik UNESCO.

iklan peninggi badan
Dari kajian tersebut menunjukkan bahwa indeks literasi Indonesia menunjukkan 3,47 dari skala 1-4. Dalam hal tersebut menurutnya bahwa Indonesia masih berada di bagian sedikit di atas sedang, belum dalam keadaan yang baik.

Dalam webinar tersebut Verdy Firmantoro juga memberikan pemahaman tentang bagaimana informasi hoaks bisa muncul dikarenakan beberapa faktor. Pertama, adanya kepentingan politik tertentu. Biasanya ini digunakan oleh orang-orang yang berada dalam politik untuk kepentingan kelompok mereka.

Kedua, orientasi bisnis, hal ini bisa dilihat dari banyaknya bisnis-bisnis yang menyebarkan informasi yang kurang akurat terhadap bisnisnya.

Ketiga, kurangnya melek informasi atau literasi digital rendah.

"Jadi kita harus beretika dalam menggunakan sosial media di mana kita di era kebebasan dituntut untuk tidak kebablasan, dengan memberikan informasi yang berkualitas," tukasnya.
Editor: Herda
Tag:
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️