Dalam rangka melengkapi data, dokumen, dan bukti historis untuk pengusulan Tuan Raimbang Sinaga sebagai pahlawan nasional, komunitas Hasusuran Dolok Panribuan bersama tim kembali melakukan kegiatan napak tilas, Sabtu (21/3/2026). Setelah sebelumnya menelusuri jejak sejarah di Medan Labuhan dan Labuhan Ruku, kali ini tim fokus menelusuri wilayah inti perjuangan Raimbang Sinaga, yakni kawasan Bah Kisat dan Aek Nauli, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun.
Tim napak tilas yang dipimpin oleh Esra Eduward Sinaga selaku inisiator, bersama pengurus Sanggar Budaya Rayantara Simalungun, Sri Sultan Saragih dan Hasudungan Purba Siboro, menyusuri kawasan hutan dan aliran sungai yang dahulu menjadi jalur strategis perlintasan masyarakat dan pasukan kolonial.
Menurut Esra Sinaga, kegiatan ini merupakan bagian penting dari upaya merekonstruksi secara menyeluruh lokasi atau jalur medan perjuangan Raimbang Sinaga dalam menghadapi ekspansi kolonial Belanda pada akhir abad ke-19.
“Penelusuran langsung ke lapangan ini menjadi amat penting, mengingat keterbatasan arsip kolonial yang mencatat secara detail lokasi-lokasi perlawanan di wilayah pedalaman Dolok Panribuan ini,”ujarnya.
Hal serupa juga dikemukakan tokoh masyarakat setempat, Daulat Sinaga (74), yang pernah menjabat Kepala Desa (Pangulu) Nagori Dolok Parmonangan pada era 1980–2002.
Menurutnya, kawasan Aek Nauli ini merupakan titik penting dalam menelusuri lokasi perlawanan Raimbang Sinaga terhadap Belanda.
“Lokasi penyergapan Belanda oleh Tuan Raimbang Sinaga lebih banyak terjadi di sekitar Aek Nauli. Sementara Bah Kisat ini dulunya merupakan jalur perlintasan penting dari Tanah Jawa menuju Panahatan melalui jalan setapak di tengah hutan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pada masa lalu kawasan tersebut merupakan jalur aktif yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan kawasan Danau Toba.
“Dulu pada masa Belanda, di sekitar Aek Nauli sudah ada aktivitas pengolahan batu kapur. Bahkan saya masih sempat melihat sisa rel muntik (jalur pengangkut material). Tapi sekarang semuanya sudah hilang, kembali menjadi hutan,” ujarnya sambil menunjukkan bekas jalan setapak yang kini tertutup semak belukar.
Bah Kisat sebagai Jalur Strategis Kolonial
Keterangan lisan yang diwariskan secara turun-temurun juga menguatkan bahwa kawasan Bah Kisat merupakan jalur perlintasan penting bagi pasukan kolonial Belanda. “Menurut cerita nenek saya, rombongan Belanda sering melintas di sekitar sungai Bah Kisat ini, baik dari Tanah Jawa menuju Dolok Parmonangan, Aek Nauli, hingga Parapat untuk menyeberangi Danau Toba ke Samosir. Tuan Raimbang Sinaga sering melakukan penyergapan di jalur ini, bahkan sampai ke perbatasan Aek Nauli,” ungkap Daulat Sinaga.
Ditambahkan, melihat kondisi geografis lokasi tersebut yang hingga sekarang pun masih berupa hutan, perbukitan, dan jalur aliran sungai, tampaknya memberikan keuntungan tersendiri bagi taktis Tuan Raimbang Sinaga dalam melakukan serangan gerilya terhadap pasukan Belanda.
Hal ini menunjukkan bahwa perlawanan yang dilakukan bukan sekadar spontan, tetapi memiliki pemahaman strategis terhadap medan tempur yang cocok dilakukan .
Mengunjungi Pusat Kekuasaan Partuanon Dolok Panribuan
Selain menelusuri lokasi medan pertempuran, tim juga mengunjungi lokasi yang menjadi bekas Rumah Bolon atau istana Partuanon Dolok Panribuan yang dikenal dengan sebutan pamatang di Nagori Negeri Dolok. Dalam struktur pemerintahan tradisional Simalungun, pamatang merupakan pusat kekuasaan partuanon, tempat raja menjalankan fungsi politik atau pemerintahan, sosial, dan adat. Lokasi ini memiliki nilai historis yang tinggi karena menjadi pusat pemerintahan dinasti leluhur Tuan Raimbang Sinaga secara turun-temurun.
Namun, bangunan Rumah Bolon tersebut telah musnah akibat peristiwa revolusi sosial di Simalungun pada tahun 1946.
“Dari pamatang inilah pemerintahan Tuan Dolok Panribuan dijalankan secara turun-temurun, termasuk pada masa Tuan Raimbang Sinaga. Pemangku terakhir adalah Tuan Mortahain Sinaga, yang menjadi korban pembunuhan peristiwa revolusi sosial pada 3 Maret 1946,” jelas Esra Eduward Sinaga.
Ia juga menunjukkan bahwa di sekitar lokasi tersebut juga terdapat sebuah jerat, yaitu tempat penyimpanan tulang-belulang leluhur para pemanngku partuanon yang dibangun tahun 1942.
Dukungan Pemerintah dan Aparat Lokal
Kegiatan napak tilas ini turut mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Tim didampingi oleh perwakilan Kecamatan Dolok Panribuan melalui Kasi Pemberdayaan Masyarakat Nagori (PMN) Jogi Siburian, serta sejumlah perangkat nagori, antara lain Pangulu Nagori Negeri Dolok Holden MT Gultom, Gamot Huta V Herman Siallagan mewakili perangkat Nagori Pondok Buluh.
Menurut Jogi Siburian, pemerintah kecamatan menyambut baik upaya ini sebagai bagian dari pelestarian sejarah lokal. “Kami sangat mendukung upaya pengusulan Tuan Raimbang Sinaga sebagai pahlawan nasional. Perjuangan beliau di wilayah Dolok Panribuan ini sudah sepantasnya mendapat pengakuan pemerintah sehingga dapat menjadi pembelajaran sejarah bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Menelusuri Lokasi Penangkapan di Siborna
Sebagai bagian dari rangkaian napak tilas, tim juga mengunjungi Nagori Siborna, Kecamatan Panei, yang diyakini sebagai lokasi penangkapan Raimbang Sinaga oleh Belanda. Secara historis, lokasi ini memiliki posisi strategis sebagai jalur penghubung antara Pematangsiantar dan wilayah Sidamanik.
Berdasarkan rekonstruksi sejarah yang telah dihimpun dari berbagai sumber, Raimbang Sinaga ditangkap pada tahun 1892 di Siborna, kemudian diadili di Labuhan Ruku (Batubara) pada tahun 1893, namun akhirnya wafat dalam tahanan kolonial di Medan pada tahun 1894, saat menunggu pengasingan ke Kupang.