Dari laporan yang diterimanya, Budi mengungkapkan masih banyak terjadi kecurangan proses karantina. Bahkan, ada pelaku perjalanan yang berupaya negosiasi dengan petugas di pintu masuk internasional.
“Faktanya masih banyak pelanggaran yang menunjukkan masih tidak disiplin dan tak tertib menjalankan karantina. Masih banyak pemain pengganti. Yang kedua, ada interaksi terjadi karena penjual makanan, maupun saudara atau teman-teman datang ke tempat karantina, termasuk upaya negosiasi membujuk para petugas bisa mengamankan diri di depan,” ujar Budi saat launching Monitoring Karantina Presisi di Bandara Soekarno Hatta, Banten, Kamis (6/1).
Budi berharap petugas di pintu-pintu keluar masuk luar negeri dan perbatasan agar lebih serius dan mampu mengawasi pelaku karantina.
“Dengan aplikasi bisa terpantau secara baik. Saya harapkan semua pos lintas batas semakin semangat dengan aplikasi ini,” tutur Budi.
Masih dalam sesi dialog interaktif, Budi Gunawan juga sempat menyapa jajaran Polres Sambas.
Dia memastikan BIN turut serta mengamati pintu keluar masuk pendatang dari luar negeri.
“Kami dari intelijen juga mengamati secara ketat pintu-pintu masuk perjalanan luar negeri termasuk dalam masa karantina,” kata Budi.
“Kita (juga) mengapresiasi dan menyambut baik peluncuran aplikasi karantinanya yang digagas bapak Kapolri,” sambungnya.
Aplikasi yang diluncurkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo merupakan tindak lanjut arahan Presiden Jokowi terkait varian Omicron dan pengawasan warga yang karantina.
Aplikasi Monitoring Karantina akan ditempatkan di bandara dan pelabuhan khusus kedatangan dari luar negeri. Selain itu, ditempatkan juga di hotel lokasi karantina, dan tempat lainnya yang menyediakan sarana karantina.
Selanjutnya warga dari luar negeri diminta mengunggah aplikasi tersebut dan mengisi data lengkap. Lalu mereka diminta melakukan scan barcode di tempat lokasi karantina yang terhubung ke monitoring center di Mabes Polri.