Selama kegiatan berlangsung praktikan dibimbing langsung oleh supervisor sekolah dan pembimbing dari BPBD PROVSU. Artikel ini disusun sebagai bagian dari pelaporan kegiatan PKL, khususnya intervensi sosial yang dilakukan di Komplek Griya Pesona Minimalis, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, yang merupakan kawasan rawan banjir.
Masalah banjir di kawasan ini merupakan isu yang sangat kompleks, karena bukan hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi juga oleh kondisi sungai yang dangkal, tumpukan sampah yang menyumbat aliran air, serta pembangunan pemukiman yang tidak memperhatikan tata kelola lingkungan. Dampaknya sangat dirasakan oleh warga, mulai dari terganggunya aktivitas harian hingga kerusakan barang-barang rumah tangga. Namun demikian, persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis atau bantuan pemerintah semata. Diperlukan keterlibatan langsung masyarakat sebagai pelaku utama dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, kegiatan intervensi yang saya lakukan berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan partisipatif, yang merupakan bagian dari praktik pekerjaan sosial makro.
Proses intervensi ini dilaksanakan dalam enam tahapan utama: engagement, assessment, perencanaan, intervensi, monitoring dan evaluasi, serta terminasi. Pada tahap engagement, praktikan memulai pendekatan dengan warga secara informal melalui kunjungan rumah dan perkenalan di salah satu warung warga. Tahap ini sangat penting untuk membangun kepercayaan dan menciptakan suasana akrab.
Pada tahap assessment, dilakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan menggunakan tools pohon masalah untuk menggali akar persoalan banjir dan solusi yang diharapkan dari sudut pandang warga. Mereka menyampaikan keluhan terkait kondisi sungai, sampah, serta pembangunan yang kurang terkontrol, namun juga menyampaikan keinginan kuat untuk ikut serta dalam perbaikan.
Pada tahap perencanaan, setelah mengetahui akar permasalahan dari hasil assessment, disusunlah rencana kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan komplek dan edukasi kebencanaan yang meliputi tahapan pra-bencana, tanggap darurat saat bencana, dan setelah bencana (pasca-bencana). Kegiatan ini dirancang bersama warga agar mereka merasa memiliki dan terlibat penuh.
Saat intervensi dilaksanakan, antusiasme warga cukup tinggi meskipun partisipasi belum merata. Namun yang paling penting adalah adanya perubahan sikap beberapa warga mulai peduli untuk menjaga lingkungan dan mengingatkan tetangga agar tidak membuang sampah sembarangan. Edukasi yang diberikan pun diterima dengan baik, terbukti dari pemahaman warga yang meningkat tentang apa yang harus dilakukan ketika banjir terjadi.
Tahap monitoring dilakukan seminggu setelah intervensi. praktikan kembali ke lokasi untuk melihat perkembangan. Warga menyampaikan bahwa mereka merasa lebih sadar dan ingin mempertahankan kebiasaan baik yang telah dimulai. Bahkan ada usulan untuk menambah tempat sampah di titik-titik strategis.
Di tahap terminasi, praktikan mengadakan pertemuan kecil bersama warga sebagai bentuk penutupan kegiatan secara formal, sekaligus menyerahkan kembali tanggung jawab pengelolaan lingkungan kepada mereka.
Dari keseluruhan proses ini dapat disimpulkan bahwa intervensi berbasis partisipasi masyarakat sangat efektif dalam meningkatkan kesadaran dan mendorong perubahan perilaku warga dalam upaya penanggulangan banjir. Meskipun tantangan tetap ada, seperti kiriman sampah dari luar dan kondisi sungai yang butuh penanganan pemerintah, tetapi langkah awal yang sudah dimulai warga merupakan modal sosial yang sangat berharga.
Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman saya sebagai calon pekerja sosial, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara masyarakat dan pendamping dapat membuahkan perubahan yang berarti.