Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Binjai menyelenggarakan Sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif dalam rangka pengawasan tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak Tahun 2024 di Hotel Graha Kardopa, Kota Binjai, Rabu (7/8).
Kegiatan yang mengambil tema "Mewujudkan Demokrasi yang Berkualitas Tanpa Politisasi SARA Dalam Rangka Pilkada Kota Binjai Tahun 2024" tersebut dihadiri oleh Anggota Bawaslu Binjai Fadhil Azhar SP, Koordinator Sekretariat Bawaslu Binjai Helly Herlinda, Ketua KPU Binjai Anton Indratno, perwakilan Dandim 0203/LKT, perwakilan Polres Binjai, Perwakilan Kejari Binjai, Organisasi Wartawan, organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa, pemantau pemilu, perwakilan pemilih pemula, Panwascam se-Kota Binjai, serta stakeholder.
Dalam sambutannya, Kordiv Pencegahan Parmas Humas Bawaslu Binjai Fadhil Azhar menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam upaya meminimalisir politik SARA dan penyebaran hoaks dalam pemilihan kepala daerah.
"Dalam bentuk pencegahan tersendiri, peran masyarakat tidak bisa dipisahkan sebagai upaya meminimalisir politik SARA, dan penyebaran hoaks dalam pemilihan kepala daerah,” ungkapnya.
Fadhil juga menekankan pentingnya sosialisasi ini untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemilu. " Semua orang punya kebutuhan untuk menjadi aktor dalam hal mengawasi pemilihan kepala daerah. Pilkada ini harus menjadi momen di mana seluruh lapisan masyarakat perlu bergerak untuk melakukan pengawasan bersama, tegasnya, sembari membuka langsung kegiatan sosialisasi pengawasan tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak Tahun 2024.
Sementara, narasumber kegiatan, Tri Heru Wardoyo, dalam paparannya menegaskan jika isu SARA diibaratkan bagai api dalam sekam. Untuk itu, sensitifitas dan kepekaan kita dituntut harus ditingkatkan.
"Isu yang paling gampang dan cepat memantik keributan di negara kita ini adalah isu SARA, seperti contohnya isu anti China," urai Tri Heru Wardoyo.
Mantan aktifis dan pegiat sosial ini juga membeberkan penyebab terjadinya rasisme, dampak, serta cara menanggulanginya.
Menurutnya, Rasisme dapat dibagi dalam beberapa poin, seperti rasisme internal, interpersonal, institusional dan rasisme sismetik.
"Tentunya hal ini mempunyai dampak, seperti berujung pada penyiksaan dan perlakuan buruk serta dapat menimbulkan konflik terbuka," bebernya.
Untuk itu, sambung pria yang juga dipercaya sebagai pengasuh Paguyuban Putra Putri Brimob tersebut, diperlukan cara untuk menanggulanginya, seperti mengetahui lebih banyak informasi hingga terjadi rasisme.
Sesi tanya jawab seputar isu SARA juga menjadi topik yang hangat dalam kegiatan tersebut.
Dikesempatan yang sama, dilakukan pula pembacaan sekaligus penandatanganan naskah Deklarasi dengan para perwakilan organisasi mahasiswa dari 5 (lima) kampus yang ada di Kota Binjai. Fadhil berharap, penandatanganan naskah Deklarasi ini diikuti dengan tindakan nyata untuk mensukseskan penyelenggaraan Pilkada di Kota Binjai.
Berikut isi Naskah Deklarasi ;
1. Siap mm mengikuti Pilkada tahun 2024 secara jujur, adil, santun dan bermartabat
2. Siap bekerjasama dengan penyelenggara dan pengawas Pilkada serentak tahun 2024 untuk tidak mengangkat isu isu yang berbau SARA, profokasi dan hoax
3. Siap untuk tidak melaksanakan segala bentuk politik praktis ditempat ibadah selama tahapan Pilkada serentak tahun 2024
4. Siap bekerjasama dengan aparat TNI, Polri, untuk menjaga situasi Kamtibmas yang kondusif, aman dan damai pada pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2024 di wilayah Kota Binjai.