Salah seorang petugas kebersihan, Anuar Lubis (55) yang diduga diberhentikan oleh oknum Kabid Kebersihan dan Pertamanan Pemkab Mandailing Natal (Madina), FL bercerita bahwa saat ini dia tidak memiliki pekerjaan lagi, padahal menurut pengakuan Anuar dia sudah mengabdi sebagai petugas kebersihan selama tujuh belas tahun terhitung 3 tahun sebelum Madina dimekarkan dari kabupaten Tapanuli selatan, bahkan disebutkan Anuar dia sudah dua kali diberhentikan oleh Firman dari petugas kebersihan kota Panyabungan.
Demikian disampaikan Anuar Lubis kepada UTAMANEWS, Selasa (23/4) di rumahnya. Sepengetahuan Anuar, jumlah petugas kebersihan yang diberhentikan oleh oknum Kabid tanpa alasan dan keterangan serta tidak ada surat pemberhentian ada lebih 10 orang, meski tidak sekaligus diberhentikan. Dan semua petugas kebersihan yang diberhentikan itu hingga sekarang tidak lagi memiliki pekerjaan.
“Yang lebih sedihnya lagi, beberapa teman kami yang diberhentikan itu sudah sempat menangis memohon kepada dia (Firman Lubis) agar tetap ikut bekerja, namun tetap diberhentikan juga. Dan saya sudah kedua kali ini dipecatnya, karena dia bilang ada dendamnya sama saya,” beber Anuar.
Ketika ditanyai mengenai dendam itu, Anuar menjelaskan pada periode pertama pemerintahan Madina dipimpin oleh H Amru Daulay, ketika itu Firman Lubis juga menjabat sebagai kepala kebersihan selalu membawa para petugas kebersihan untuk mengerjakan kebun karetnya di salah satu desa di kecamatan Lembah Sorik Merapi itupun pada saat jam bekerja.
“Waktu itu kami ada beberapa orang disuruhnya untuk mengerjakan pembuatan kolam ikan, mengantarkan pasir selama beberapa hari, bahkan bukan hanya siang hari malampun kami disuruhnya mengerjakan kebunnya, lalu pak Bupati mengetahui kejadian itu langsung mencopot beliau (Firman), dan itulah sebabnya dia dendam sama kami lalu dipecat karena sekarang kepala bidang kebersihan kembali dia jabat,” ungkap Anuar.
Masih Anuar, disampaikan bahwa mereka yang bekerja sebagai petugas kebersihan itu adalah orang-orang yang pengangguran dan tidak memiliki pendidikan, lalu ditawarkan bekerja sebagai petugas kebersihan untuk bisa menghidupi keluarga. Namun kini beberapa temannya hanya bisa pasrah dan menangis saat diberhentikan.
“Kami yang bekerja itu tidak ada yang berpendidikan, dan saya saat ini hanya bisa bekerja di sawah orang agar tetap bisa bertahan hidup, sementara teman-teman yang lain sampai saat ini belum ada pekerjaan, memang sungguh jauh berbeda pemerintahan yang sekarang dengan periode sebelumnya, kami hanya berharap agar bisa memeroleh pekerjaan lagi khusus bagi teman-teman yang tidak lagi memiliki pekerjaan, dan meminta kepada Bupati agar bisa bijaksana menyikapi hal ini, dan kami ingat betul visi-misi beliau, ” keluhnya.
PSM:Kami Akan Laporkan Ke Komnas HAM
Menyikapi hal ini, Ketua Pekerja Sosial Masyarakat Kabupaten Madina Ahmad Suheri Nasution SSos menyesalkan tindakan seorang pejabat yang sudah menunjukkan sikap arogansi dan premanisme kepada bawahan, tindakan itu sudah tidak bisa dimaafkan lagi dan Bupati Hidayat Batubara dituntut agar segera menuntaskan persoalan ini.
“Saya pikir Bupati cerdas menyikapi kondisi ini, namun sungguh heran seorang Kepala daerah tidak meresfon hal yang sudah merusak citra pemerintahan. Inikan sudah terjadi pelanggaran HAM, dan jika Bupati tidak segera bertindak kami akan melaporkan kasus ini kepada Komnas HAM di Jakarta,” kata Suheri.(Dimas)