Minggu, 03 Mei 2026

Upaya Memperbaiki Mutu SD Negeri Rotan Sogo, Palas, Belum Mendapat Dukungan Masyarakat

TABAGSEL (utamanews.com)
Senin, 23 Feb 2015 21:25
<i>Kondisi bangunan rehab berat dari DAK TA 2014 pada SD Rotan Sogo yang memicu polemik di masyarakat sekitar sekolah.</i>
 Maulana Syafii

Kondisi bangunan rehab berat dari DAK TA 2014 pada SD Rotan Sogo yang memicu polemik di masyarakat sekitar sekolah.

Upaya Ratisah SPd.I selaku Kepala Sekolah di SDN Rotan Sogo Kecamatan Hutataja Tinggi (Huragi) Kabupaten Padang Lawas (Palas), untuk memperbaiki mutu sekolah itu belum mendapat dukungan dari masyarakat sekitarnya.

Kasek yang baru menduduki jabatannya sejak bulan april 2014 lalu ini, diisukan warga telah memanfaatkan material bangunan sekolah lama yang dibongkar karena menerima dana DAK TA 2014 berupa rehab berat, dimana material lama tersebut digunakan untuk keperluan pribadinya.

Ia juga diisukan tidak mampu dalam membangun komunikasi yang baik antara guru dengan kepala sekolah dan juga hubungan dengan komite sekolah, sehingga memicu hubungan yang kurang harmonis di sekolah itu.

Kumpul Hasibuan, selaku Ketua Komite SDN Rotan Sogo ketika ditemui wartawan menjelaskan, sejak tanggal 20 oktober 2014 lalu telah mengundurkan dirinya, karena merasa tidak cocok dengan situasi di sekolah itu.
"Hubungan kasek dan guru kurang harmonis, sudah diberi masukan tapi sepertinya kurang menerima", ungkap Kumpul Hasibuan yang juga Kades Parmainan ini.

Soal pengelolaan DAK maupun BOS di sekolah itu, Kumpul Hasibuan, mengaku tidak tahu menahu dan tidak pernah menanda tangani SPJ-nya.

Sedangkan, Ratisah, SPd. I saat berbincang dengan wartawan, Senin (23/2) membenarkan, sekolah yang dipimpinnya menerima dana DAK TA 2014 lalu sebesar Rp234 juta, untuk alokasi rehab berat tiga unit ruang belajar.

produk kecantikan untuk pria wanita
"Pada saat pembongkaran bangunan kelas yang lama, saya berada di Sibuhuan menemui konsultan pelaksana rehab", ucap Ratisah.

Tapi diketahuinya, ternyata bahan material dari ruang kelas yang lama, seperti seng dan kayu-kayu tidak sempat dilelang oleh pihak sekolah karena keburu dipungut oleh masyarakat sekitarnya.

Demikian pula isu dari masyarakat yang menuding batu bata untuk rehab digunakan oleh kasek. Hal ini ditepisnya, bahwa ketika itu, kondisi batu bata sudah habis sedangkan waktu pelaksanaan pembangunan sudah hampir habis dan pekerja mendesak agar diadakan batu bata, sehingga kasek meminjam sebanyak 1000 batu bata dari masyarakat.

" Waktu itu pekerja mendesak agar batu bata didatangkan, tapi karena terlalu lama menunggu batu bata dari Sibuhuan, akhirnya saya pinjam seribu batang batu bata dari masyarakat, begitu batu bata yang saya pesan datang, maka saya kembalikan batu bata yang dipinjam dari masyarakat", terang Ratisah.
iklan peninggi badan

Begitupun, Ratisah tidak mengelak, bahwa sisa material bangunan berupa kerikil samsam sebanyak setengah kubik digunakannya untuk keperluannya di rumah, karena menurutnya, bila dibiarkan teronggok begitu saja akan habis tergerus air hujan, makanya diamankannya.

Disinggung soal Ketua Komite Sekolah, Ratisah menerangkan, saat ini tidak ada Ketua Komite, bila diperlukan akan diminta tanda tangan dari Sekretaris Komite Sekolah.

"Untuk SPJ DAK maupun pengelolaan dana BOS, cukup tanda tanda tangan kasek dan bendahara", sebut Ratisah.

Untuk diketahui, jumlah siswa di sekolah ini sebanyak 300 orang, dari empat desa, yakni Desa Lubuk Bunut, Sibodak Sosa Jae, Pagaran Dolok dan Desa Parmainan. Siswa kelas 1 dan kelas 2 dikenakan jadwal belajar reguler karena kurang ruang belajar, jumlah guru sebanyak 17 orang, 5 guru PNS dan 12 orang guru honor.

Sementara, Kepala Desa Sibodak Sosa Jae, Ibnu Mulkan Hasibuan menyebutkan, kehadiran Ratisah selaku kasek baru di SDN Rotan Sogo, situasi dan kondisi sekolah masih terkontaminasi dengan sistem yang diterapkan oleh kasek lama, yang ditengarai kerap membangun kesenjangan antara guru dengan kaseknya.

"Kasek yang lama sekitar 14 tahun menjabat di sekolah itu, banyak guru honor yang diangkat kasek lama dari keluarganya, keadaan ini yang memicu kesenjangan antara guru lain dengan kasek. Kondisi yang sudah menahun inilah yang perlahan diperbaiki kasek baru dengan menerapkan kedisiplinan di sekolah itu", ujarnya.

Dibenarkan Ibnu Mulkan, saat proses pembongkaran material bangunan kelas yang mendapat rehab berat itu, sejumlah masyarakat mengambil material yang lama, seperti seng dan kayu, sehingga material tersebut tidak dilelang oleh pihak sekolah.

"Beberapa material dari bangunan yang lama, seperti seng, masih digunakan sekolah untuk pagar di belakang sekolah", terang Ibnu Mulkan. (MS)
busana muslimah
Berita Terkini
gopay later
Berita Pilihan
adidas biggest sale
promo samsung
flash sale baju bayi
wardah cosmetic
cutbray
iklan idul fitri alfri

Copyright © 2013 - 2026 https://utamanews.com
PT. Oberlin Media Utama

ramadan sale

⬆️