USAID rilis hasil survey kemampuan membaca siswa tingkat dasar
MEDAN (utamanews.com)
Senin, 30 Jun 2014 20:42
(utamanews.com/smsn)
Mr. Robert Ewing, Konsulat Jenderal A.S. untuk wilayah Sumatera, 30/6/2014
Meskipun peranan guru sangat penting, di Amerika, mengajari anak bisa membaca adalah merupakan tugas orangtua di rumah. Orangtua biasanya membuat beberapa rangkaian tindakan untuk memicu keinginan anak belajar membaca, seperti membacakan dongeng untuk anak dengan suara keras dan jelas selama 30 menit setiap hari.
Hal ini dinyatakan oleh Mr. Robert Ewing, Konsulat A.S. untuk Sumatera pada ekspose hasil survey nasional perihal kemampuan membaca oleh siswa sekolah dasar dan potret keefektifan manajemen sekolah di 80 kabupaten di Indonesia, pagi tadi 30 Juni 2014, di ruang Crystal, hotel Karibia Boutique, jalan Timor, Medan,
Ester Manurung Management Project (USAID Specialist) menyatakan bahwa hasil survey menunjukkan bahwa siswa kelas 2 SD di Indonesia mempunyai kemampuan membaca yang cukup tinggi.
Berdasarkan hasil survey yang dilaksanakan sejak Oktober 2013 s/d Mei 2014 oleh RTI Internasional dan Myriad Research terhadap 4800 siswa kelas 2 SD di seluruh Indonesia didapati bahwa 48% siswa sudah mahir dan memahami apa yang dibacanya.
Namun yang membuat miris adalah 5,9% dari keseluruhan siswa ini masih ada yang berada di level paling bawah, yakni tidak dapat membaca namun mengenal huruf. Siswa yang termasuk dalam klasifikasi ini hampir seluruhnya ada di Indonesia Timur, khususnya Papua dan Nusa Tenggara.
Khusus untuk Sumatera, Ester menjelaskan bahwa 42% sudah fasih dan memahami apa yang dibacanya, 28% membaca lebih lambat, namun sudah mengerti apa yang dibaca dan sisanya 30% masih membutuhkan bimbingan tambahan dalam pengajaran membaca.
Hasil survey tentang potret keefektifan manajemen sekolah menghasilkan data bahwa guru yang mendorong siswa untuk aktif memberi jawaban pertanyaan di dalam ruang kelas dan sekolah yang menyediakan akses penuh bagi siswa menggunakan perpustakaan memiliki siswa yang lebih baik dalam hal membaca dan pemahaman.
Survey ini juga merilis bahwa siswa putri lebih baik pemahamannya dibanding siswa putra, kemudian sebanyak 25% dari siswa yang tidak masuk TK memiliki kemampuan membaca yang lebih lambat dibandingkan dengan yang masuk TK/PAUD.
Pejabat yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara menanggapi hasil survey ini dengan mengatakan bahwa hasil survey ini akan diteruskan ke pengambil kebijakan untuk dijadikan masukan dalam penyusunan kurikulum maupun modul belajar siswa sekolah dasar.
Pendidikan generasi muda adalah prioritas utama pemerintahan manapun karena anak-anak adalah masa depan suatu bangsa. (Smsn)