Di usianya yang baru beranjak empat tahun, sejak beroperasi tahun 2011 lalu, Pesantren Aljumhuriyah Padang Lawas turut memberi warna keagamaan di daerah ini, prestasi demi prestasi, terus dicatatkannya.
Seperti pada ajang MTQ Kecamatan Sosa yang digelar baru-baru ini, tercatat tiga orang siswanya menjuarai posisi paling puncak di cabang perlombaan yang diikutinya. Otomatis, siswa itu pun bakal menjadi utusan kecamatan untuk MTQ di tingkat kabupaten.
Ketiganya adalah, Misla Husni Harahap, siswa kelas X MTs Aljumhuriyah menyabet juara I bidang Mujawwad tingkat remaja putri, kemudian, Susi Aswita Harahap, kelas IX menjuarai Khattil Quran kategori tulisan, dan Nur Jamilah, kelas IX berhasil juara di perlombaan Khattil Quran kategori hiasan Mushaf.
"Selain tampil sebagai juara I, ada lagi siswa lain yang menduduki posisi II sampai juara harapan. Dari 28 siswa yang dikirim, semuanya hampir jadi juara di ajang MTQ Kecamatan Sosa", kata Ahmad Sanusi Daulay, pimpinan Pesantren Aljumhuriyah didampingi seorang guru, Jamaluddin Dalimunte saat ditemui Media, Rabu (11/3).
Dikatakannya, beberapa bulan lalu, satu siswanya, Abdul Maulup Harahap, siswa kelas IX ini berhasil jadi juara I pada lomba Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat kabupaten. Siswa ini pun jadi utusan Kabupaten Palas ke tingkat Provinsi Sumut di Medan. "Ia mengikuti lomba sains untuk bidang studi fisika", ucapnya.
Tak hanya itu, beberapa prestasi menggembirakan lainnya berhasil diukir siswanya, seperti, jadi pemenang lomba dai cilik tingkat kabupaten sekitar tiga bulan lalu. Siswanya bernama Nur Atikah Dalimunte jadi juara I.
"Banyak lagi sebenarnya prestasi yang didapatkan. Termasuk dalam lomba pramuka 17 Agustus tahun lalu, banyak siswa kita saat itu jadi juara," pungkasnya.
Tentu saja, berbagai prestasi itu didapatkan karena dukungan semua kalangan, mulai dari pihak yayasan, guru dan juga orang tua siswa. Termasuk juga peran masyarakat sekitar sekolah, tambahnya.
Sekolah yang berlokasi di Desa Ujung Batu Kecamatan Sosa ini, memang memiliki ciri khas berbeda dengan sekolah lain. Mengusung konsep pesantren, tapi tetap tidak mengesampingkan pendidikan umum. Tepat pula dengan visi yang diusungnya, yakni "melahirkan generasi kaffah eksis duniawi dan ukhrowi".
"Makanya, kita memadukan sekolah Tsanawiyah dan SMK di sini. SMK-nya juga tetap diberi kurikulum keagamaan, kitab kuning," tambah Ustad Sanusi lagi.
Dalam pandangannya, tidak tepat jika dibuat dikotomi antara pendidikan umum dan keagamaan. Dua sisi pendidikan itu, menurutnya sama-sama penting, untuk menjadi bekal anak dalam menghadapi masa depan.
Karena itu, selain pendidikan formal, anak-anak juga dibekali ekstra kurikuler dan pendidikan berbasis skill.
"Ekstra kurikulernya, di sini paling giat latihan pramuka se Kecamatan Sosa. Kemudian, ada juga keahlian anak-anak untuk seni marawis. Satu lagi, untuk tambahan skill, kita sudah sediakan alat cetak batako bagi anak yang bermukim di sini," jelasnya.
Dalam bayangannya, ke depan anak-anak di sekolah ini akan ditambah lagi penguasaan skillnya, termasuk untuk kemampuan menjahit bagi siswi tingkat SMK.
Sebab, bagaimana pun keseimbangan dalam pendidikan menurutnya penting, ilmu keagamaan penting, sains atau ilmu umum juga penting dan tak kalah pentingnya menyiapkan skill siswa.
"Dengan tiga konsep itu, generasi kita akan mampu menatap masa depan yang cemerlang dengan tetap terbingkai akhlak mulia," jelas alumni IAIN Sumut Medan ini. (MS)