Secara keseluruhan, gangguan fungsi seksual dan reproduksi justru bisa terjadi. Dan ini tergantung pada jenis narkoba yang digunakan, dan jangka waktu menggunakan bahan yang berbahaya itu. Bisa dilihat satu per satu seperti ini:
Walaupun memberikan pengaruh yang bersifat merangsang otak, tidak berarti ekstasi menimbulkan pengaruh yang positif bagi fungsi seksual. Ekstasi akan meningkatkan pelepasan dopamine di otak. Peningkatan dopamine ini dapat menyebabkan hilangnya kemampuan untuk mengontrol perilaku seksual, hingga akhirnya menjadi berani, tanpa kontrol, melakukan hubungan seksual tanpa memikirkan risiko yang mungkin terjadi.
Depresan yang populer disalahgunakan adalah obat penenang dan heroin. Obat penenang yang digunakan di luar indikasi medis secara berlebihan dapat menimbulkan akibat buruk bagi fungsi seksual, karena dapat mengganggu metabolisme hormon testosteron dan estrogen. Banyak ragam obat penenang yang sering disalahgunakan dengan label dekstro, dumolid, dan lainnya. Semua itu justru beredar “lower class”, karena murah harganya. Obat-obat ini dapat mengakibatkan penurunan dorongan seksual dan disfungsi ereksi. Heroin pun sama, tidaklah memberikan pengaruh positif bagi fungsi seksual dan reproduksi. Justru sebaliknya, akan terjadi penurunan kadar hormon testosteron, menurunnya dorongan seksual, disfungsi ereksi, dan hambatan ejakulasi.
Seperti juga halusinogenik lain seperti LSD, magic mushroom, dan lainnya, ganja juga menimbulkan akibat buruk bagi fungsi seksual. Kandungan tar dalam ganja jauh lebih tinggi dari rokok. Berbagai akibatnya pun bisa terjadi. Mengecilnya ukuran Mr. P, dan menurunnya kadar hormon testosteron, dorongan seksual yang menurun, disfungsi ereksi, sampai pada gangguan sperma dapat terjadi.
So, jangan bermain-main dengan narkoba, kecuali Anda benar-benar membutuhkannya atas indikasi medis.