Sejumlah elemen kembali mengajak anak bangsa, khususnya kawula muda Sumatera Utara, untuk menguatkan kembali persatuan yang sempat terkoyak akibat perbedaan pilihan politik.
LSM Masyarakat Pemantau Kewibawaan Aparatur Negara (Martabat), diantaranya, menyatakan bahwa tingginya suhu politik dan polarisasi saat Pilpres 2019 masih menyisakan satu persoalan penting yang harus segera diselesaikan, yakni rekonsiliasi.
"Polarisasi di masyarakat masih kentara. Salah satunya ditandai dengan maraknya kecaman di media sosial terhadap pak Prabowo Subianto yang dengan jiwa besar telah mengucapkan selamat, menemui dan makan bersama dengan presiden Jokowi pada hari Sabtu lalu", kata Wesly Sihombing, Ketua 1 LSM Martabat Sumut, saat ditemui wartawan di jalan Sekip, Medan, Rabu (17/7/2019).
Menurutnya, apabila cacian dan hinaan terhadap tokoh bangsa, yang diduga dilakukan oleh eks pendukungnya sendiri tersebut masih terus terjadi, maka polarisasi di tingkat masyarakat akan tetap ada. Rekonsiliasi akan gagal, sehingga dikhawatirkan mengganggu kondusifitas situasi politik yang berujung pada terhambatnya pembangunan nasional.
Untuk itu, Wesly yang juga Wakil Ketua DPD Ikatan Pemuda Karya (IPK) Provinsi Sumut ini meminta semua elemen anak bangsa, organisasi intelektual, mahasiswa dan kemasyarakatan serta pers/media untuk meredam upaya-upaya yang diduga dilakukan "kelompok-kelompok tertentu" yang membakar sikap kebencian terhadap para pemimpin bangsa.
"Pilihan politik di masyarakat merupakan hal yang alami. Namun, apapun perbedaan dan perselisihan yang muncul pada saat Pemilu, hendaknya segera disingkirkan, dan kembali merajut persatuan dan kesatuan. Sebagai warga negara Indonesia, dan bagian dari NKRI, semua lapisan dan elemen masyarakat seharusnya turut serta dalam menjaga tali persaudaraan dan kedamaian serta menolak dan mencegah terjadinya hal-hal yang mengarah kepada perpecahan bangsa", tandasnya.
Terakhir, Wesly meminta media dan masyarakat, terkhusus kaum milenial untuk mewaspadai adanya upaya provokasi dari mereka yang menyebar narasi kebencian dan berita hoaks di media sosial. "Kita berharap semuanya dapat memilih dan memilah informasi secara cerdas dan tidak termakan isu-isu dan hoaks, karena perpecahan dapat terjadi akibat isu, narasi kebencian dan berita hoaks yang sekarang menjamur di media-media sosial", pungkasnya.