Rekaman foto perjalanan 51 TKI dari Tangkahan Apung Sabak Bernam Selangor- Malaysia sampai ke Batu Bara.
Meninggalnya TKI Ilegal dari Malaysia asal Batu Bara bukan akibat Corona dan TBC. Fakta itu terungkap setelah para TKI akhirnya buka suara."Hal ini penting untuk diketahui banyak pihak agar tidak keliru, bahwa meninggalnya rekan kami yakni Mhd Yusuf bukan disebabkan terinfeksi Corona atau penyakit TBC, melainkan karena ada eksiden," kata Boby Pranata dengan didampingi rekan-rekannya di lokasi karantina SMKN 1 Lima Puluh, Batu Bara, Jumat (30/5/2020).
Berikut penuturan Boby, Abdi, Hendra Sihombing, Erwin, dirangkum sesuai kronologi perjalanan mereka.
"Pada awalnya hari Selasa siang 26 Mei 2020, kami dikumpulkan di rumah apung, karena tempat itu sebagai markas persembunyian para TKI Ilegal yang hendak pulang ke Indonesia. Sebagaimana kami ketahui, lokasi itu berada di daerah hutan bakau Sabak Bernam Selangor Malaysia, ya, itu lah yang kami tau.
Setelah kami dikumpulkan di rumah apung, di situ jugalah calo dari Malaysia meminta ongkos sebesar 800 ringgit, atau sekitar 3 jutaan rupiah. Nah, setelah selesai pembayaran, kami melihat Mhd Yusuf lebih dahulu melansir beberapa tas miliknya dan milik temannya menuju speedboat yang sudah stanby di tangkahan apung.
Lebih kurang setengah jam, Yusuf belum juga kembali dari speedboat, dengan rasa penasaran, saat itu juga kami menyusul. Tiba di tangkahan langsung kami melihat posisi bagian kepalanya menyusup ke dalam lumpur, tidak menutup kemungkinan dia terjatuh dari tangkahan apung.
Seketika itu juga kami menggotong yusuf ke tangkahan apung. Tidak ada yang bisa kami perbuat, melainkan berupaya melakukan pertolongan pertama dengan menekan dadanya secara berulang-ulang, lalu hidung dan mulutnya disedot dengan selang, karena hidung dan mulutnya tersumbat lumpur dan air asin.
Namun jerih payah kami tidak membuahkan hasil, akhirnya Yusuf sudah tak bernyawa lagi.
Setelah diketahui Yusuf sudah tak bernyawa alias meninggal, agen Malaysia itu sontak menyuruh kami, bawa aja pulang, angkat aja mayatnya ke dalam speedboat. Seraya mendengarkan arahan dari Calo itu, lalu mereka bahu membahu mengangkat Yusuf ke dalam speedboat.
Berkisar pukul 20.00 Wib Selasa malam, kami secara bergiliran dilansir speedboat milik calo Malaysia itu, yang rencananya tiga kali dilansir. Pada trip pertama 26 orang, dan trip ke-dua 25 orang. Namun syukurlah kami berhasil selamat sampai ke tongkang dalam jumlah 51 orang. Anehnya giliran trip ke-tiga ada 25 orang lagi mau dilansir, calo bersama speedboatnya langsung menghilangkan diri entah kemana rimbanya.
Dengar kabar dari rumah apung, giliran trip ke-3 mereka keburu digerebek aparat kepolisian setempat.
Pada pukul 20.00 Selasa malam, hingga Rabu sekitar pukul 03.00 subuh waktu Malaysia, kami masih terombang-ambing selama 7 jam lamanya. Karena kami bingung, tekongnyo tidak ada.
Cilakanya lagi, sudahlah tekongnyo gak ada, minyaknya pun gak ada, mesinnya pun rusak.
Tidak ada daya upaya kami, melainkan bermohon meminta pertolongan kepada Allah, agar kami bisa selamat sampai ke tujuan.
Tidak ada kompromi lagi, kami mengambil inisiatif secara bergiliran dan bahu membahu menghendel kemudi kapal tongkang tersebut. Pada Rabu 27 Mei 2020, dari pukul 04.00 subuh waktu Malaysia, kami masih berada di zona Malaysia. Walau tanpa mesin, kapal tetap dikemudikan menuju Bujur Barat perairan Batu Bara, Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, sejak pukul 04.00 subuh hingga ke pukul 10 Rabu pagi, Imam warga Batu Bara salah satu penumpang tongkang coba menghubungi aparat kepolisian perairan Malaysia. Karena dirinya merasa bimbang terhadap kondisi yang dialami, pasalnya ada balita, ada dua wanita hamil, termasuk istri Yusuf lagi hamil. Nah begitu berhasil dikontak, tak berselang lama, aparat kepolisian perairan langsung mendekati kapal tongkang.
Saat merapat, aparat itu sempat bertanya, siapa yang mengkontak tadi, tanya aparat kepolisian dengan singkat, saya incik jawab Imam. Sambil berlayar dengan beriringan, namun tetap mendapatkan pengawalan dua speedboat aparat kepolisian, di situ juga aparat memberikan kantong plastik mayat. Lalu kami bungkus mayat itu ke dalam kantong plastik.
Bukan hanya itu saja, melihat kondisi kami sangat memprihatikan, lalu aparat kepolisian itu mengulurkan bantuan makanan, air minum serta dua jerigen (galon) BBM.
Di samping itu, Hendra Sihombing coba memperbaiki mesin yang rusak, begitu berhasil diperbaiki, akhirnya mesin bisa hidup, kapal tongkang bisa berjalan normal kembali.
Langkah selanjutnya, Kapal Patroli Perairan Malaysia tetap mengawal kami, pengawalannya itu untuk mengarahkan kami sampai lepas perbatasan perairan Malaysia- Indonesia.
Setelah keluar dari perbatasan Malaysia, kami tengok Kapal Patroli itu pun meninggalkan kapal tongkang kami.
Setelah kami sudah di perairan Batu Bara, persisnya di Biruk Merah yang berdekatan dengan Pulau Pandan, kapal kami jim total (rusak berat) sehingga tak bisa dihidupkan lagi.
Tiba di lampu merah yang berada di seputaran perairan ujung Kobun-bagan Arya, pada Rabu (27/5/2020) sekitar pukul 13.00 wib siang, kami tetap mengalami nasib yang sama, saat berada di perairan Malaysia.
Itu lah nasib kami, namanya kepulangan kami lewat bawah, itu pun harus kami tempuh, karena di Malaysia tidak ada peluang lagi untuk bertahan hidup. Karena Malaysia masih menerapkan LockDown, sejalan pula aparat gabungan Malaysia melakukan gelombang rajia besar-besaran di seluruh tempat kerja, maka kami tidak nyaman lagi, mau tidak mau harus memilih pulang ke kampung halaman.
Pada pukul 13.00 wib siang hinga berikisar pukul ke 15.00 Wib sore, ya ada 2 jam lah kami terombang-ambing di lampu merah itu.
Dua jam kemudian, sekitar pukul 15.20 kapal kami ditarik oleh dua kapal pukat tarik milik nelayan setempat dengan mendapatkan pengawalan dari Pol Airud.
Dan kami pun selamat sampai di pelabuhan Boom Tanjung Tiram, tepatnya pada pukul 16.26 Wib petang. Disitu kami mendapatkan sambutan dari Pemerintah Kabupaten Batu Bara, dengan dikomandoi oleh Gugus Tugas Covid-19 drg. Wahid Khusyairi bersama jajarannya. Dalam sambutan itu, secara satu persatu kami disemprot disinfektan serta memeriksa suhu badan.
Selepas itu, kami diangkut dua Bus Pemkab, dan tiba di Karantina SMKN 1 Lima Puluh, pada pukul 17. 05 Wib.
Selama berada 4 hari di karantina ini, kami akui soal pelayanan, tempat tidur, makan, minum, nyaman kali. Di balik itu ada membuat kami gelisah, sampai kapan kami dikarantina?"