Kami ingin hidup tenang. Kalimat itulah yang diucapkan beberapa warga Desa Besilam Bukit Lambasa, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, saat berjumpa dengan awak media di Kecamatan Stabat, Kamis (16/2).
Salah seorang warga Desa Bukit Lembasa yang mengatakan hal itu adalah Sumaini. Menurut wanita berhijab ini, rasa cemas dan ketakutan terus menghantui pikirannya pasca tewasnya mantan anggota DPRD Langkat bernama Paino.
Ia pun berharap agar kelima pelaku yang salah seorang diantaranya merupakan otak dari pembunuhan mantan anggota dewan itu, dihukum yang seberat beratnya.
"Kami mohon sekali jangan sampai terulang kembali kejadian seperti ini. Bukan hanya satu, bisa saja sampai 10-100 orang, karena kita tidak tau. Kami ingin tenang, kami ingin tenang sekali," ujar Sumaini terlihat sedih.
Ditemani rekannya, Sumaini juga berharap agar kejadian di Desanya tersebut tidak terulang kembali. Bahkan sebagai warga sekitar, dirinya juga berharap kepada aparat penegak hukum agar dapat menyelesaikan kejadian yang menimpa Paino dengan baik dan transparan. Sebab menurutnya, warga yang bertempat tinggal di desa pedalaman Kabupaten Langkat ini sudah sangat sengsara.
"Selama ini kami sudah sangat sengsara dibuat oleh orang yang sama, yaitu orang yang kini ditetapkan sebagai tersangka," ujar Sumaini.
Senada juga diungkapkan oleh Sabariah. Wanita paruh baya ini mengaku sudah tidak ada kedamaian di kampungnya selama puluhan tahun belakangan ini.
"Kami ingin kedamaian di kampung kami dan kami ingin tidak ada warga yang tertekan selama puluhan tahun, kami juga ingin merdeka. Walaupun kami tidak punya apa apa, kami tidak ingin yang lalu itu terulang kembali seperti pembunuhan Pak Paino," tutur Sabariah.
Diketahui, warga Desa Besilam Bukit Lambasa, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, berharap kepada pihak kepolisian khususnya Polres Langkat, untuk segera membangun pos polisi di Desa Besilam Bukit Lembasa.
Dibangunnya pos polisi ini diharapkan agar kejadian yang menewaskan mantan anggota DPRD Langkat periode 2014-2019 lalu, yaitu Paino, tidak terulang kembali.
Tidak hanya itu, dibangunnya pos polisi tersebut karena sebelumnya Almarhum Paino yang tewas ditembak, ternyata sudah menghibahkan tanahnya untuk membangun pos polisi itu.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Desa Besilam Bukit Lambasa, Susilawati, saat dikonfirmasi awak media, Rabu (15/2) kemarin.
"Jauh hari sebelum kejadian ini, Almarhum Paino pada tahun 2021 sudah menghibahkan tanahnya untuk membangun pos polisi," ujar Susilawati.
Namun hingga sampai sekarang, lanjut Susilawati, pembangunan pos polisi di Desa Besilam Bukit Lambasa belum juga terlaksana.
"Saya dan warga berharap kedepannya pos polisi dapat terbangun," harap Susilawati, seraya berharap agar pos polisi itu dibangun di tanah yang dihibahkan oleh Almarhum Paino, sebab kalau pos polisi itu dibangun tetapi di luar Desa, maka jarak tempuh sangat jauh dan masyatakat ragu.
Kepala Desa itu pun memberikan alasannya bila pos polisi dibangun diluar Desa yang dipimpinnya. "Bagaimana kejahatan itu bisa langsung ditangani kalau pos polisi itu jauh. Kami juga kemarin sudah mengajukan ke Polres Langkat untuk pembangunan pos polisi. Karena kami berharap kejahatan yang dialami Pak Paino ini tidak terulang kembali, karena kejatahan ini sudah sangat lama terjadi di desa kami," tegas Susilawati.
Sementara itu, Kapolres Langkat AKBP Faisal Rahmat Husein Simatupang, saat dikonfirmasi, belum mendengar adanya pemohonan pembangunan pos polisi di Desa Besilam Bukit Lambasa.
"Belum dengar saya. Nanti akan saya cek dulu. Karena pada 2021 saya belum di Langkat," ujar Faisal.
Sebelumnya, lima orang pembunuh bayaran ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan mantan anggota DPRD Kabupaten Langkat, Paino yang dilakukan pada Kamis (26/1) malam.
Otak pembunuhan, Tosa Ginting merencanakan pembunuhan itu karena diduga bisnis keluarganya yang kalah bersaing, yaitu usaha mengumpulkan kelapa sawit yang terus mengalami penurunan.
Kapolda Sumut, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak saat konferensi pers di Mapolda Sumut, Senin (13/2) siang lalu mengatakan, penembakan itu dilakukan dengan senjata api rakitan.
Dikatakannya, lima tersangka itu Luhur Sentosa Ginting alias Tosa (26) sekaligus otak pelaku, Dedi Bangun (38) eksekutor, Persadanta Sembiring (43), Heriska Wantenero alias Tio (27), dan Sulhanda Yahya alias Tato (27).