Puluhan massa yang meatasnamakan mahasiswa dan keluarga Zakaria, menggelar aksi unjukrasa di depan Mapolres Binjai, Jalan S. Hasanuddin, Kecamatan Binjai Kota, Senin (5/5) siang.
Dalam orasinya, mereka menuntut keadilan atas kasus ancaman senjata api yang dialami Zakaria sejak Januari lalu. Aksi tersebut berlangsung tertib namun penuh emosi.
Selain membawa alat pengeras suara (sound system) ara peserta aksi juga membawa spanduk besar serta Karton bertuliskan tuntutan mereka.
"Panggil & Periksa Kapolsek Sei Bingai," berikut isi tulisan yang ada di spanduk berukuran besar dan dibentangkan di pintu masuk jalan menuju Mapolres Binjai.
Menurut salah satu orator aksi, Ade Rinaldi Tanjung, aksi tersebut berawal dari laporan Zakaria yang mengalami ancaman senjata api dan senjata tajam di wilayah Polsek Sei Bingai.
Meski sudah melapor sejak Januari, hingga hari ini, sambung Ade, pelaku belum juga ditangkap. Bahkan, Kanit Reskrim Polsek Sei Bingai sempat menyatakan bahwa senjata yang digunakan hanya sebuah tembak mainan. Padahal video viral menunjukkan pelaku jelas mengisi peluru ke pistol.
"Proses hukumnya sangat lambat. Kami sudah memberi waktu, tapi tidak ada tindakan serius," tegas Ade.
Awalnya, tegas Ade Rinaldi Tanjung, aksi ini rencananya digelar pada minggu lalu. Namun, mahasiswa sepakat menunda setelah ada komunikasi dengan pihak kepolisian. Sayangnya, sikap arogan seorang perwira memicu kemarahan massa.
"Kasat Reskrim malah masuk ke ruang pemeriksaan dan bertanya dengan nada menantang. 'Kok gak jadi demo' kata Kasat Reskrim. Kami merasa dihina. Seolah Polres Binjai justru memancing kami turun ke jalan," kata Ade dengan nada kesal.
Menanggapi tuntutan massa, Wakapolres Binjai Kompol Kusnadi, didampingi Kasat Reskrim Iptu Rino Heriyanto, menegaskan akan memanggil Kapolsek Sei Bingai.
"Kami akan panggil dan menindaklanjuti kasus ini, paling lama besok," ungkap Kusnadi.
Janji ini sedikit meredakan tensi para pendemo hingga massa membubarkan diri dengan harapan kasus Zakaria segera diselesaikan.