Perasaan cemas dan khawatir yang selama ini dialami oleh Ainul Rodiah, istri dari Iskandar sekaligus orangtua dari Muhammad Aris Wahyudi yang bekerja di sebuah Pabrik Plastik di Kota Chernihiv, Ukraina, perlahan memudar setelah mengetahui kabar suami dan anaknya sudah berada di zona aman dalam perang Rusia-Ukraina.
Untuk itu, ia mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada Pemerintah Indonesia, Kementerian Luar Negeri hingga Duta Besar Indonesia untuk Ukraina, karena telah menyelamatkan keluarganya di tengah perang berdarah tersebut.
"Terima kasih juga kepada PWI Kota Binjai yang telah memfasilitasi kami menyampaikan harapan kepada duta besar maupun perwakilan Kementerian Luar Negeri di Kantor Walikota Binjai beberapa hari lalu dan juga kepada Pemko Binjai. Kami sangat senang mendengar kabar keluarga kami sudah di zona aman," kata Ainul didampingi perwakilan keluarga lain di kediamannya, tepatnya di Gang Anggrek, Lingkungan III, Kelurahan Sumber Mulyo Rejo, Kecamatan Binjai Timur, Sabtu (19/3).
Diceritakan Ainul Rodiah, dari Sembilan orang WNI asal Kota Binjai dan Langkat yang bekerja di Pabrik Plastik di Kota Chernihiv, Ukraina, selain suaminya (Iskandar) dan anaknya (Muhammad Aris Wahyudi) ternyata dua orang lainnya masih berkeluarga dengan dirinya.
"Benar, ada dua orang keluarga kami, yaitu Dedi Irawan dan Agus Alfirian," tutur wanita berhijab ini.
Bagi Ainul, menjalankan Ibadah di tahun 2022 ini akan terasa lebih dari segala galanya karena keluarga mereka utuh berkumpul di rumah. Apalagi menurutnya, walau sampai saat ini terjadi perang antara Rusia-Ukraina, namun sang suami mencoba untuk meyakinkan dirinya seperti tidak pernah memberikan kabar buruk meski senjata Rusia terus jatuh hingga menghanguskan gedung maupun bangunan di Ukraina.
Berdasarkan rekaman video dari Ainul Rodiah yang dikirim suaminya, kesembilan WNI asal Kota Binjai dan Kabupaten Langkat ini sudah terlihat segar dan wajah mereka tampak memancarkan keceriaan.
"Mereka menyambut hangat. Masya Allah... Kabar itu membuat saya menjadi nyaman, senang karena itu. Mereka sudah di tempat aman, sudah tidak terdengar lagi suara tembakan atau rudal rudal," beber Ainul.
Menurut Ainul, proses eksodus Iskandar dan teman temannya bukan hal yang mudah hingga akhirnya mereka tiba dengan selamat di Polandia. Sebab, butuh waktu tempuh selama 15 jam untuk dilalui oleh mereka melalui jalur darat dari Kota Chernihiv menuju L'viv hingga sampai ke zona aman dan dengan logistik makanan ala kadarnya.
"Alhamdulillah, ini semua berkat doa seluruh masyarakat Indonesia. Insya Allah setelah tes kesehatan, langsung pulang. Saya dengar kabar itu langsung sujud syukur," kata Ainul.
Kepada Ainul, si suami bercerita bahwa pabrik plastik tempatnya bekerja juga dihantam rudal Rusia. Cerita itu sedikit sedih karena ada dua warga negara Nepal yang merupakan rekan Iskandar, diduga tewas menjadi korban.
Hal itu menurut Ainul dikarenakan suaminya tidak dapat lagi menghubungi dua warga negara Nepal tersebut pada dua hari kemudian, setelah mereka berpindah pindah menyelamatkan diri dan berharap dievakuasi ke zona aman.
"Ditambah lagi kami juga sempat panik karena pada hari Sabtu kemarin, tidak bisa dihubungi. Rupanya memang sinyalnya dipadamkan," ujar Ainul Rodiah.
Dalam proses evakuasi, lanjutnya, rombongan Iskandar juga berulang kali dihentikan. Setidaknya ada 40 kali Bus mereka dihentikan di sepanjang perbatasan saat menuju Polandia.
"Kalau keinginan saya setelah pulang ini tidak usah lagi pergi ke luar negeri lagi. Menetap disini saja. Apalagi suami saya sudah 22 tahun jadi tenaga kerja luar negeri yang berpindah pindah negara, dari Malaysia, Jordania, Ukraina dan lain lain," terang Ainul Rodiah, sembari menambahkan jika suami dan anaknya pada tahun lalu juga pulang ke Indonesia.
"Ditambah lagi fitrahnya suami istri itukan bareng bareng. Jadi ya sudah, di sini sajalah (Indonesia) setelah pulang nanti. Kami menunggu kehadiran mereka seperti yang dulu dulu, kumpul bareng. Insya Allah pasti berkumpul kembali atas izin Allah," demikian ucap Ainul Rodiah.